PARA PAHLAWAN YANG SEPI KELUHAN

Pedagang Krupuk
Jakarta - Semua sudah tahu krisis ekonomi sedang terjadi. Tahun 1998 yang merontokan separuh belahan dunia, dimulai dari krisis keuangan. Lalu masuk menjadi krisis industri baru berdampak pada krisis struktural.

Sementara saat ini, secara struktur semuanya dilanda krisis. Tidak ada pondasi ekonomi yang sanggup menopang beratnya beban ini. Semua negara nyungsep.

Coba perhatikan. Ketika diterapkan kebijakan lockdown, di AS dan Eropa terjadi demo besar. Mereka memprotes

Bahkan dalam sebuah tulisan menarik, ada yang bilang bahwa Korona telah membawa ancaman serius bagi kapitalisme. Sebab ekonomi kapitalis dibangun dari perhubungan manusia dengan manusia lainnya. Semakin luas perhubungan itu, akan semakin menggurita kekuatan kapitalisme.

Berkat kapitalisme dunia saling terhubung satu sama lain. seperti desa global. Sistem ekonomi saling berkaitan. Akibatnya, ketika ada guncangan di satu wilayah, akan berdampak juga pada wilayah lainnya. Mirip efek domino.

Kerusakannya bergantung seberapa besar wilayah itu berhubungan dengan dunia luar.

Kini seluruh dunia sedang dilanda krisis. Indonesia juga merasakan dampaknya. PHK terjadi. Ribuan usaha terhenti. Orang kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Ekonomi nyungsep.

Tapi, kita beruntung, sebagian besar ekonomi Indonesia digerakkan konsumsi domestik. Ketergantungan pada dunia luar tidak sebesar negara lain. Kita dianggap mampu secepatnya bangkit, karena bisa bergerak dari dalam negeri sendiri.

Kekuatan konsumsi domestik karena interaksi ekonomi diantara rakyat sendiri. Sebagian besar dihela oleh perusahaan-perusahaan menengah dan kecil. Bahkan usaha mikro kelas rumahan.

Pengusaha-pengusaha kecil. Pengrajin dan pedagang warung. Bengkel, kerajinan, penjahit, salon di dalam gangm barang-barang konsumsi yang dihasilkan oleh industri kelas rumahan dan berbagai usaha rakyat. Juga pertanian, perkebunan dan nelayan skala kecil.

Merekalah yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Bahkan 80% dari tenaga kerja kita digerakkan oleh mereka. Merekalah yang paling tidak ribet. Padahal perannya dalam perekonomian nasional sangat luar biasa.

Para pengusaha kecil ini tidak banyak mengeluh. Mereka punya daya adaptasi yang luar biasa. Jatuh bangun. Gagal. Lalu bangkit lagi. Begitu seterusnya.

Ketika mereka bangkrut, mereka harus melalui sendiri jalan ninjanya. Gak banyak menadah kepada kebijakan pemerintah. Gak seperti usaha-usaha besar yang selalu minta keringanan ini-itu.

Kepada pengusaha kelas itulah, pemerintah harusnya fokus. Iya, sekarang ada banyak stimulus ekonomi digelontorkan. Ada banyak relaksasi keuangan dikeluarkan. Semua untuk menahan terpaan krisis ini agar tidak makin merusak.

Tetapi ke depan, tidak cukup hanya dengahn stimulus keuangan dan fiskal saja. Yang jauh lebih penting adalah memberi iklim usaha yang sehat. Mudahkan rakyat untuk membuat usaha. Mudahkan perizinan. Pangkas segala tetek bengek yang menghambat orang untuk berusaha.

Indonesia butuh revolusi aturan agar setiap orang mudah menjalankan usahanya. Bukan hanya untuk investor besar. Tetapi juga untuk setiap anak bangsa yang kreatif dan punya gagasan. Lingkungan usaha yang sehat harus diciptakan.

Pungli dan perizinan yang bikin ribet harus dihentikan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, para birokrat, semua harus sadar, Indonesia tidak mungkin bisa melangkah lebih maju jika mereka masih bersikap menyusahkan para pengusaha.

Begitupun sikap kita sebagai rakyat. Jangan selalu mencurigai orang yang berbisnis. Jangan selalu menilai negatif para investor yang mau menanamkan modalnya disini. Kita butuh energi mereka untuk membuka lapangan pekerjaan. Kita harus mengapresiasi setiap orang yang berani mengambil jalan sebagai pengusaha. Betapapun beratnya jalan itu.

Bersyukurlah, dalam prediksi ekonomi dunia, Indonesia dianggap masih positif dan paling sanggup secara ekonomi menghalau dampak dari wabah ini. Ekonomi Indonesia pada 2021 bahkan dinilai tumbuh sampai 7%.

Tapi itu hanya bisa diwujudkan kalau semua hambatan berusaha disingkirkan.

Percayalah, Ekonomi Indonesia sebagian besar dibangun oleh gerak di pasar-pasar tradisional. Oleh para pedagang bubur seperti Bambang Kusnadi. Oleh para penjual minyak telon seperti Abu Kumkum.

Selain tenaga medis. Para pengusaha yang liat ini adalah pahlawan kita sesungguhnya.

"Jadi aku sama bambang Kusnadi tergolong pahlawan, ya mas?," ujar Abu Kumkum.

Iya, Kum. Kamu dan semua pengusaha UMKM adalah pahlawan real bangsa ini.

0 komentar

Tulisan Populer