Ibadah Para Suporter

Lailatul Qodr
Lailatul Qodr
Jakarta - Kalau menjelang pertengahan Ramadhan gini, kaum muslim seperti berlomba ibadah. Allah menjanjikan malam keberkahan yang indah. Kita mengenalnya dengan malam lailatul qadar. Malam itu para malaikat langsung turun untuk mengatur kehidupan.

Katanya, pada malam itu bumi dan langit menunjukan keagungan ilahiah. Pohon dan dedaunan merunduk. Angin berhembus lirih dan perlahan.

Jika malam itu jatuh padamu, nilai ibadah seribu bulan ada dalam genggaman. Kehidupan masa depan akan jauh lebih baik. Hati tentram.

Untuk mendapatkan malam lailatul qadar, biasanya umat muslim berharap keberkahan. Ada yang sholat malam gak putus-putus. Ada yang itikaf (semacam merenung menghayati kebesaran pencipta) sepanjang malam. Doa dan pujian disampaikan. Zikir dan shalawat dillantunkan.

Mereka yakin, jika beribadah dengan khusyuk pada malam-malam tanggal ganjil di pertengahan Ramadhan sampai akhir, peluang mendapat malam lailatul qadar akan jauh lebih besar.

Nah, beberapa tahun belakangan ini, setiap Ramadhan, saya selalu melihat Abu Kumkum membawa buku catatan kecil lengkap dengan pulpennya. Ketika dia melihat orang di Youtube lagi bagi-bagi sedekah untuk orang miskin, dan Kumkum terkesan. ia pasti mau tahu nama dermawan itu. Lalu nama itu dituliskan di buku notesnya.

Setiap mendengar nasihat kyai atai ustad yang nyes, mau di TV, dari medsos atau dari mana saja, Abu Kumkum juga akan mencatat nama ustad itu.

Bukan hanya ustad, kadang Kumkum juga mencatat nama pastor, pendeta atau bante. Pokoknya siapa saja yang menurut otaknya suka mengajarkan kebaikan dan mencontohkan dengan perilakunya, ia akan mencatat namanya.

Ketika saya baca buku kecil Abu Kumkum, isinya memang hanya nama-nama saja. Gak ada yang lain. Tentu saja ada nama Rasulullah, para keluarganya, juga para sahabat setianya. Sesuai dengan pengetahuan Kumkum yang sangat terbatas itu.

Dibagian lain ada nama-nama ulama besar. Tentu tidak mungkin semua ulama. Sekali lagi sebatas pengetahuannya saja.

Yang seru, ada juga nama Jesus Kristus, Sidharta Gautama, Guru Konfusian atau Socrates. Saya juga sempat membaca ada nama Bunda Theresia, Gandhi, Dalai Lama, Imam Khomeini, Rabindranath Tagore, Ibu Kartini, Eisntein, Paus, Martin Luther, dll.

Buat apakah nama-nama itu? Gini, setiap dia duduk sendiri. Iseng. Ia buka bukunya. Lalu ia mengirimkan Alfatehah kepada nama-nama itu. Menyebut nama-nama besar itu dalam doa yang diucapkan dimana saja.

Biasanya dua kali ia lakukan.

Pertama ia mengirimkan Fatihah buat Kanjeng Nabi. Bersama shalawat. Lalu Alfatihah berikutnya dikirimkan buat yang nama-namanya ada dalam catatan. Itu saja yang dilakukan saat sedang sendirian.

Saya tentu penasaran, amalan seperti apa yang dia lakukan. Dan apa maknanya?

"Oala, mas. Aku cuma iseng doang," ujarnya seraya nyengir.

"Jadi gak mau jujur, Kum?," kataku sedikit mengancam. Aku yakin untuk mengorek keterangan dari orang satu ini, harus dengan sedikit ancaman. Ia nyengir lagi.

"Aku mau keciptaran lailatul qadar mas," akhirnya Kumkum buka suara.

"Lho, kan kamu bisa itikaf?"

"Mas, lailatul qadar itu pasti diberikan Allah kepada orang baik. Orang yang jiwanya bersih. Orang yang mengabdikan hidupnya buat orang lain. Gak mungkin, malam indah itu diturunkan kepada orang kayak aku. Ibadahku bolong-bolong. Amalku sedikit. Kebaikanku cuma secuil." ujarnya. Aku cuma mangut-mangut.

"Jadi gak mungkinlah orang kayak aku meraih keindahan malam itu dengan kemampuan sendiri. Wong kita ini, bukan siapa-siapa. Aku ini, ibarat pemain sepak bola, cuma pemain antar kampung. Amatiran. Nah, malam lailatul qadar itu, kayak piala Dunia, mas. Kalau aku mau dapat kebahagiaan hadiah piala dunia, aku ya cukup jadi supporter saja. Dukung tim ini, atau tim itu. Pemain kampung kayak aku, mana mungkin bisa main di lapangannya kayak Messi atau Ronaldo."

"Jadi Kum..."

"Nah, setiap Ramadhan aku ingin jadi supporter dengan mengirimkan Alfatehah dan shalawat. Menyebut nama-nama itu. Maksudnya, kalau Allah turunkan malam lailatul qadar kepada mereka, aku kan, bisa ikut kecipratan. Sedikit aja, gak apa-apa. Karena malam agung itu pasti untuk orang-orang agung, bukan orang kayak kita," ujarnya lagi.

Aku hanya manggut-manggut. Iya, kadang kita ini suka gak mau ngukur diri. Ibadah masih blang blentong, tapi sok mau mengapai berkah lailatul qadar dengan tangan sendiri.

Lalu akupun mulai mencatat nama orang-orang baik, berharap dapat ciptarannya juga. Sebagian nyontek catatannya Kumkum. Aku kaget, di sela-sela ribuan nama itu, ada nama Gus Dur, Buya Syafii Maarif dan Jokowi juga.

0 komentar

Tulisan Populer