TIPE ORANG BERAGAMA

Keberagaman
Keberagaman
Jakarta - Ada orang beragama yang standar penilaiannya melulu tata cara beribadah. Biasanya disebut fiqh (liturgi). Siapa saja yang berbeda secara fiqh atau liturgi, menurutnya, bakal masuk neraka.
Jadi surga dan neraka dilihat dari fiqh (liturgi)-nya.
Ada lagi yang beragama melihat status. Siapa saja yang seagama akan masuk surga. Siapa yang beda agama otomatis masuk neraka.
Ada juga yang beragama dilihat dari orientasi politiknya. Ini khas ISIS atau HTI. Siapa saja yang mengikuti khilafah atau orientasi politiknya bakal masuk surga. Yang berbeda politik akan disembelih. Serem.
Ada yang beragama dengan berorientasi pada nilai. Nilai-nilai universal yang diakui semua orang. Orang-orang seperti ini tidak mau dipusingkan dengan surga atau neraka. Itu semua urusan Tuhan.
Baginya yang terpenting berbuat baik, buat seluruh umat manusia. Menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.
Mereka hanya mau menilai segala sesuatu berdasarkan nilai perbuatan. Mereka mengapresiasi semua nilai baik. Pandangan ini membedakan manusia dari nilainya. Bukan dari status dan tata cara ibadahnya.
Siapa saja yang jahat, apapun agamanya, wajib dihindari. Siapa saja yang baik, apapun agamanya, wajib diapresiasi.
Keadilan, kebaikan dan kemurahan hati, saling tolong, menyebarkan kasih sayang atau saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran adalah nilai baik yang sifatnya universal. Semua orang apapun agamanya, apapun tata cara ibadahnya. pasti meyakini sebagai kebaikan.
Curang, pencurian, menyakiti orang lain dan alam, serakah, merampas hak adalah nilai buruk. Siapapun kita, apapun agama kita, pasti sepakat dengan pandangan ini. kemampuan membedakan nilai baik dan buruk ini instrinsik ada dalam diri manusia.
Tidak ada orang yang mengatakan mencuri adalah perbuatan baik. Tidak ada orang yang meyakini menyakiti sesama sebagai perbuatan mulia. Itu adalah nilai dasar manusia yang cenderung pada kebaikan. Meskipun dia penjahat sekalipun.
Sialnya, nilai-nilai universal ini, sering diserempong dengan padangan yang terbatas. Akibatnya orang hanya sibuk melihaty statusnya, tata cara ibadahnya, bukan menilai bagaimana seseorang berbuat untuk lingkungan dan kehidupannya.
Bukankah kita menyukai bergaul dengan orang baik, meskipun berbeda agama? Bukankah kita menghindari pada orang bertabiat buruk, sekalipun dia seagama?
Sebab pada dasarnya manusia tidak akan sanggup menipu dirinya sendiri yang memiliki nilai dasar sejak ia dilahirkan. Nilai yang selalu mudah membedakan kebaikan dan keburukan. Keadilan dan kedzaliman. Kejujuran dan kecurangan.
Maka menghindari berbuat buruk dan jahat adalah yang utama. Perbuatan manusia pada manusia lainlah yang menjadi dasar orang memberikan penilaian padanya.
Sebab Tuhan maha pemaaf. Manusia belum tentu. Maka berbuat baiklah pada manusia.
Sementara untuk Tuhan (apapun definisinya), jalani saja ibadah sesuai dengan apa yang Anda yakini. Gak usah repot mengurus apa yang diyakini orang lain.
Gak ngaruh buat hidup lu.
"Mas, punya rokok?," Abu Kumkum nyeletuk. Saya tahu, nasihat seperti ini gak penting buat Abu Kumkum.
Ia hanya mau terus menerus ngetes gue, apa gue masih baik hati...

0 komentar

Tulisan Populer