Paket Sembako Berdampak Pendek

Paket Sembako
Paket Sembako
Jakarta - Warga Jakarta menerima bantuan dari Pemda. Isinya sembako plus surat ‘cinta’ dari Gubernur. Kabarnya bakal didistribusikan ke 1,2 juta rumah tangga, dengan jangkauan sebanyak 3,7 orang.
Rencananya dibagikan seminggu sekali selama 3 bulan. Katakan rata-rata 4 kali dalam sebulan, maka setiap KK akan mendapat 12 paket.
Dalam sembako itu ada beras, sabun batangan, snack, minyak, sarden dan masker. Dikemas dalam kardus kecil.
Gue gak menghitung berapa isinya. Gue lebih suka menghitung berapa biaya untuk packagingnya dan distribusinya. Jika semuanya dikemas pakai kardus, berapa biaya kardusnya ya?
Misal harga kardus sebesar itu Rp 3000 saja, maka untuk 1,2 juta paket butuh budget Rp3,6 miliar. Kalau 12 kali, untuk kardusnya saja Rp 43,2 miliar. Baru dari kardusnya doang. Belum lagi surat Gubernur yang membutuhkan 1,2 juta lembar, atau 2.400 rim. Belum biaya cetak. Katakana setiap rurat menghabiskan biaya Rp 300, berarti biayanya Rp 4,3 miliar.
Tapi bukan cuma itu, berapa biaya distribusinya. Katakanlah per paket menghabiskan biaya distribusi Rp 10.000, maka dibutuhkan Rp 12 miliar buat sekali distribusi distribusi, total biaya distribusi Rp 144 miliar.
Jadi untuk biaya kemasan dan distribusi total, menghabiskan sekitar Rp 191,5 miliar.
Itu dari segi biaya. Bagaimana segi efektifitasnya. Pada hari pertama, kata Gubernur telah terdistribusi 20 ribu paket, lalu berala lama dibutuhkan mendistribusikan 1,2 juta paket?
Ok, katakan, yang namanya hari pertama masih belum maksimal. Katakan kita naikkan, kemampuan mengemas dan mendistribusi sehari mencapai 50 ribu paket. Berarti untuk satu putaran, butuh 24 hari. Kalau 12 putaran butuh 288 hari.
Saya kadang heran, kenapa sih,gak diberikan dalam bentuk transfer seperti kartu-kartu yang sudah ada. Bukankah seluruh biaya itu bisa dipangkas?
Tapi, butuh waktu mendata. Lha, pembagian itu juga butuh waktu. Emang gak di data?
Dengan dibagikan berbentuk kas, maka uang akan berputar di kalangan bawah. Masrakat membelanjakan uangnya ke warung-warung kecil. Sesuai kebutuhannya. Warung-warung itu adalah bagian dari putaran ekonomi nasional.
Jika hanya dibagikan dalam bentuk sembako kayak gitu, yang menikmatinya kan cuma PD Pasar Jaya yang mendapat proyek pengadaan barang dan distribusi. Sementara imbas ekonominya bagi putaran masyarakat gak bergerak.
Dengan kata lain, bantuan itu hanya akan jadi barang sekali konsumsi. Tanpa ada imbas ekonomi berarti. Duit gak berputar di kalangan bawah. Malah habis buat biaya kemasan dan distribusi.
Memang sih, kalau model bantuannya dengan kartu dan transfer, akan susah menyelipkan surat cinta Gubernur disana. Tapi apalah artinya surat cinta itu, justru ekonomi masyarakat yang melandai ini perlu digairahkan dengan uang yang berputar.
Jika triliunan budget buat sembako ini bisa berputar lebih dinamis di masyarakat, itu akan sangat membantu sekali. Ekonomi bisa hidup atau sedtidaknya mendapatkan stimulus.
Saya berharap, di wilayah-wilayah lain, jika pemerintah daerah atau pusat mau sebarkan bantuan buat masyarakat, bentuknya kas atau transfer aja. Model kayak KIP, KJP, PKH dan sebagainya itu.
Selain bantuan bisa dimanfaatkan, juga sangat penting bagi putaran ekonomi. Dampaknya akan jauh lebih panjang buat ekonomi rakyat. Lagipula gak harus buang-buang uang cuma untuk membeli packaging.
Tapi ngirim surat cintanya, gimana?
“Sebar dengan helikopter aja, mas,” ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer