Kartu Prakerja, Sumbangan Sosial Apa Buat Tingkatkan Ketrampilan

Kartu Prakerja
Kartu Prakerja
Jakarta - Waktu kampanye kemarin, Presiden Jokowi menjanjikan program Kartu Prakerja. Kartu ini digunakan pencari kerja untuk menambah keterampilannya. Termasuk uang saku sekalian.
Program ini bukan menggaji pengangguran. Itu beda. Ini adalah orang usia produktif yang mau kerja tapi belum dapat posisi, lalu diminta ikut pelatihan. Mereka mau ditingkatkan keterampilannya. Plus dapat uang saku.
Kini janji itu direalisasikan. Targetnya ada 5,6 juta orang yang akan mendapat manfaat. Setiap orang mendapatkan Rp3,5 juta. Sebagian untuk uang saku, sebagian lagi buat biaya pelatihan. Targetnya agar calon pekerja, para pengusaha informal maupun korban PHK bisa mendapat waktu relaksasi sekaligus menambah keterampilannya sebelum mereka mendapat pekerjaan lagi. Atau memulai usaha mereka lagi.
Sayangnya, wabah Corona melanda Indonesia. Sehingga yang namanya pelatihan kepada calon tenaga kerja jadi kurang efektif. Tadinya pelatihan akan dilakukan di BLK-BLK, kini jadi terpaksa harus dilakukan via online.
Terpaksa? Iya, terpaksa. Ide awalnya gak begitu.Pelatihan online dilaksanakan karena pelatihan model tatap muka langsung gak bisa dilakukan dalam suasana wabah begini.
Kalau saja kondisinya normal-normal saja, para pemegang kartu Prakerja pasti sudah sibuk bolak-balik ke BLK untuk mengikuti pelatihan. Pelatihan online terjadi karena kondisi akibat Covid 19 ini.
Lho, kenapa gak nunggu kondisi berjalan normal baru program itu dilaksanakan?
Justru saat ini, program kartu prakerja dibutuhkan sebagai jaring pengaman sosial. Artinya, meskipun sebelumnya dirancang sebagai penambahan keterampilan calon tenaga kerja, tapi kini justru faktor bantuan sosialnya lebih menonjol.
Kenapa gak dikasih kas saja, tanpa ikut pelatihan online segala? Kalau dikasih kas, lalu apa bedanya dengan bantuan social murni, bantuan untuk keluarga miskin, bantuan sembako, dan berbagai bantuan social yang sifatkan langsung. Program ini jelas beda. Namanya kartu prakerja. Sasarannya adalah anak-anak muda yang belum dapat pekerjaan dan mau menambah keterampilannya.
Kalau kita pahami konsep besarnya, kira-kira ini adalah keresahan Presiden mengenai kualitas SDM kita. Padahal kita sekarang mengalami bonus demografi. Artinya jumlah penduduk usia muda banyak banget disbanding dengan orang tua dan anak-anak.
Nah, mumpung anak muda banyak, sebaiknya disiapkan kemampuannya untuk mengisi kebutuhan industri. Bisa kerja. Untuk itu harus didongkrak keterampilannya, diangkat potensinya, didorong produktifitasnya. Agar di saat usia masih muda, manfaatnya maksimal buat dirinya, keluarganya dan masyarakat secara keseluruhan.
Kalau nanti mereka keburu tua Indonesia seperti kehilangan kesempatan emas. Artinya kita gagal memanfaatkan bonus demografi. Kegagalan itu akan menjadi masalah serius dimasa depan.
Tapi, apakah pelatihan online itu efektif? Mungkin gak efektif dibanding pelatihan langsung di BLK. Tapi, sekali lagi, jika bicara soal konsep besarnya, kartu prakerja bukan hanya bantuan sosial. Kartu ini dimaksudkan untuk mendidik calon tenaga kerja agar lebih terampil. Soal efektif atau tidaknya pelatihan online, saya rasa pada akhirnya bergantung pada pesertanya.
Iya, sih. Ada isu serius karena salah satu penyedia pelatihan online adalah ruang guru. CEO-nya juga menjabat sebagai staff ahli Presiden, dari golongan milenial. Orang jadi melihat ada konflik kepentingan disana.
Meskipun harus diakui, Ruang Guru adalah salah satu star up pendidikan yang paling moncer. Artinya secara kualifikasi, tidak bisa disalahkan kehadiran Ruang Guru bersama berbagai star up lainnya untuk memberikann fasilitas ini. Tapi jangan salahkan juga jika orang orang melihat tetap saja ada konflik kepentingan. Tidak bisa dihindari.
Orang juga protes soal konten pelatihannya. Katanya, apa yang disiapkan star-up untuk pelatihan online tidak jauh beda dengan berbagai tips yang bertaburan di Youtube. Yang bisa didapatkan gratis. Gue juga gak menyangkal sih.Jadi sebenarnya tantangannya sekarang ada pada vendor pengisi konten pelatihan itu. Sajikanlah model pelatihan yang lebih berkualitas, bisa terukur outputnya, dan efektif menambah kemampuan peserta. Ini harus dipikirkan serius oleh penyedia konten.
Jangan sampai, konten yang bisa didapat di Youtube secara gratis malah harus bayar mahal, hanya karena peserta punya kewajiban untuk mengikutinya demi mendapatkan uang saku.
Gue sih, mikirnya begini. Pada akhirnya soal penambah keterampilan atau tidak, ya bergantung pesertanya. Mau online, mau pertemuan langsung, jika yang diincar hanya uang sakunya saja, yang akan didapat cuma itu. Tapi coba deh, serius mengikutinya. Niatkan benar-benar untuk menambah keterampilan. Niatkan benar-benar untuk meningkatkan kemampuan. Mungkin akan lain manfaatnya.
Sekarang kartu prakerja yang digeber pemerintah. Nanti, para calon tenaga kerja itu tetap butuh pekerjaan. Nah, kini sedang dibahas RUU Cipta Kerja di DPR. Tujuan RUU ini untuk mempermudah orang membuka usaha, sehingga lapangan pekerjaan terbuka lebih lebar.
Nah, mungkin keterbukaan lapangan pekerjaan itu akan dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh para pencari kerja yang keterampilannya sudah semakin meningkat.
Jadi gini, bagi lu peserta kartu prakerja. Manfaatnya ya, tergantung lu. Kalau cuma nyari uang saku, lu akan dapat itu doang. Kalau mau nambah keterampilan, lu juga harus serius menjalaninya.
“Mas, ada kartu pranikah gak? Aku mau ikut pelatihannya. Biar gak grogi nanti," tanya Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer