JENAZAH TERORIS, JENAZAH PAHLAWAN

Pemakaman Jenazah Teroris
Jakarta - Di Poso, Sulawesi Tengah, dua orang teroris mati ditembak polisi. Mereka adalah gerombolan jaringan Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Sebelumnya kedua orang itu, Ali Darwin dan Muhclis Faron menyerang petugas dengan senjata api rakitan. Petugas ditembak dari jarak dekat.
Polisi melakukan mengejaran dan terjadi baku tembak. Keduanya akhirnya tewas. Mayatnya dibawa ke RS Polri. Diotopsi. Setelah diproses, kedua jenazah diantar ke keluarganya. Yang luar biasa, di lokasi penyerahan, Desa Puna Kec.Poso Pesisir, kedua teroris itu dijemput sekitar 30 kendaraan. Mereka adalah simpatisan kedua teroris.
Mereka membawanya ke sebuah masjid. Keluarga teroris ikut menjemput. Termasuk ratusan orang simpatisan. Ya, jumlahnya ratusan orang. Mengibarkan bendera ISIS.
Ketika upacara pemakaman, seorang ustad memberikan sambutan. “Kalian telah menyaksikan dua perindu surganya Allah,saya hanya berwasiat kepada antum sekalian bahwa surganya Allah itu tidak murah,” ujarnya berapi-api. Ustad yang memberikan sambutan itu adalah mantan narapidana teroris juga.
Lalu dia menambahkan sambutannya. “Para Sahabat kita memegang bendera tauhid. Mereka dibunuh oleh orang-orang kafir laknatullah,” katanya memprovokasi.
Bayangkan. Teroris itu menyerang polisi yang sedang bertugas. Menembak begitu saja tanpa alasan. Saat dikejar, terjadi perlawanan. Akhirnya gerombolan itu mati konyol. Lalu, ketika dimakamkan, mereka menuduh polisi sebagai laknatullah. Padahal jenazahnya saja masih diurus dengan baik oleh polisi. Adakah kata lain buat mereka selain biadab.
Di Poso para teroris itu berkelindan dengan masyarakat yang dibodohi oleh ajaran sesat penuh darah. Agama yang semestinya menawarkan kasih sayang, di tangan para teroris itu menjadi ajaran yang bengis, bau mesiu dan darah, serta penuh kebencian. Agama dijadikan sarana melampiaskan kebinatangan dalam diri mereka.
Bayangkan ketika Anda menjadi petugas polisi di tengah masyarakat yang sudah disulut ajaran bengis itu. Anda tidak akan tahu, siapa yang akan menikam dari belakang. Siapa yang akan tiba-tiba menembak dari jarak dekat. Ratusan orang yang menjemput jenazah teroris itu adalah bukti bahwa ancaman bisa datang kapan saja.
Kita tinggalkan Poso yang penuh amarah. Saat jenazah teroris biadab disambut seperti pahlawan.
Di RS Kariadi, Semarang, kemarin, seorang perawat meninggal dunia. Perawat itu adalah orang yang berada di garis depan memerangi wabah Covid19. Ia rawat pasiennya dengan sepenuh hati, sampai akhirnya, dirinya tertular virus.
Setelah berjuang dengan virus dalam tubuhnya yang menggencet paru-parunya, perawat itu wafat. Ia meninggal demi menyelamatkan nyawa banyak orang. Ia korbankan dirinya untuk kesembuhan orang lain.Pihak RS memperlakukan jenazahnya dengan hati-hati. Disemprot disinfektan, diselungkan plastik, dimasukan ke dalam peti. Semua dilakukan sesuai protocol kesehatan. Sesuai standar dunia. Sebab pihak RS tahu, sekecil apapun resiko harus dihindari. Meskipun sesungguhnya, beberapa jam setelah kematian inangnya, virus juga akan ikut mati.
Jenazah perawat itu hendak dimakamkan di Unggaran, tanah kelahirannya. Ambulance membawanya. Apa yang terjadi? Masyarakat Unggaran menolak pemakamannya. Mereka menolak orang yang mengorbankan dirinya demi keselamatan orang lain. Ibunda almarhumah menangis histeris. Tapi, para penolak itu tidak peduli. Hati mereka sekeras batu.
Di Gowa, Sulawesi Selatan, warga ramai-ramai memblokade jalan untuk menolak ambulance yang lewat membawa jenazah pasien Covid19. Mereka sampai membakar ban. Menumbangkan pepohonan untuk mencegah ambulance lewat. Mereka menghalangi sebujur jenazah dimakamkan di tanah pemakaman di sana.
Padahal tidak ada dampak sama sekali bagi masyarakat ketika jenazah pasien Covid19 dimakamkan. Tidak ada dampak sama sekali. Virus akan mati bersama inangnya. Tapi kebodohan telah bersarang di kepala mereka.
Sebagian besar yang menolak pasien jenazah Covid19 adalah mereka yang mengaku beragama. Mereka yang belajar bahwa memakamkan jenazah adalah wajib hukumnya. Tetapi mereka tidak peduli dengan kewajiban itu. Kebodohan telah menyusahkan banyak orang.
Polisi sigap bertindak. Tiga orang provokator penolak jenazah pasien Covid19 itu ditangkap. Tapi masih banyak masyarakat yang memamah kebodohannya. Mereka tetap tega memperlakukan para pahlawan kemanusiaan sebagai pesakitan. Menyedihkan, memang.
Inilah wajah Indonesia. Wajah yang sering menampilkan paradox. Bahkan kesuraman. Wajah masyarakat yang isi kepalanya dirongrong pemahaman yang absurd.
Agama dan kebodohan berkelindan dalam kepala. Ada yang berharap surga, tetapi menggapainya dengan kekerasan dan pembunuhan. Mereka mengelukan teroris seperti pahlawan. Padahal teroris itu sejatinya adalah musuh kemanusiaan.
Ada juga yang merasa beragama, tetapi dengan bengis menolak jenazah saudaranya sendiri, yang justru meninggal karena perjuangannya demi kemanusiaan.
Orang-orang ini, meminta jasa para pekerja medis. Tetapi menolak jasadnya secara keji.
Inilah akibatnya jika agama dan kebodohan disatukan dalam tempurung kepala. Bisanya hanya marah, curiga, ngamuk. Gak genah. Merasa paling benar sendiri. Merasa paling hebat sendiri.
“Makanya Pak Anies lebih suka menjenguk ke kebun binatang, mas. Lebih polos dibanding mereka,” celetuk Abu Kumkum.
Mungkin juga, Kum…

0 komentar

Tulisan Populer