Bukan Hanya Kartu Prakerja, Siswa dan Mahasiswa Juga Belajar Online

Pelatihan
Pelatihan
Jakarta - Mengapa kartu prakerja banyak diprotes?. Karena disana ada program pelatihan online. Disiapkan oleh berbagai perusahaan rintisan bidang teknologi. Salah satu program pelatihannya disediakan Ruang Guru, salah satu start up pendidikan. CEO Ruang Guru adalah stafsus Presiden.
Begitulah kira-kira. Saya setuju saja pada protes itu. Ada dua kemungkinan, staffsusnya mundur dari jabatan publik atau mundur sebagai CEO Ruang Guru. Biar tidak terjadi konflik kepentingan.
Awalnya sih, maunya pelatihan dilakukan di Balai Latihan Kerja milik pemerintah. Tapi kondisi sedang wabah, gak bisa mengumpulkan orang di BLK. Wong sekolah dan kampus saja diliburkan.
Sementara suasana wabah ini juga banyak menyebabkan orang kena PHK, banyak bisnis yang terhenti, banyak orang kehilangan pekerjaan. Mereka harus dibantu.
Bantuan tunai atau natura sudah diberikan. Ada bantuan Keluarga Harapan. Ada paket sembako dari Mensos. Ada bantuan dari Pemda. Macam-macamlah.
Untuk stimulus ekonomi ada juga bantuan subsidi bunga kredit, penangguhan cicilan, pajak penghasilan yang dipotong, dan berbagai program stimulus ekonomi lainnya.
Jadi kalau alasannya kenapa harus ada pelatihan pada kartu Prakerja, padahal orang butuh bantuan tunai dalam kondisi begini. Ya, bantuan tunai itu ada dipaket bantuan lain.
Ini sama saja memprotes, kenapa Film James Bond tidak boleh ditonton anak-anak. Lho, kalau mau ngajak anak nonton, pilih film Disney dong. Kenapa protes film James Bond.
Kartu Prakerja, tujuannya untuk meningkatkan keterampilan. Selain juga memberikan uang saku. Ditujukan untuk individu. Bukan keluarga. Satu keluarga, yang anggotanya masuk kreteria, bisa dapat dua atau tiga kartu.
Kini banyak orang, karena protes sama konten pelatihannya, yang dirundung adalah program kartu prakerjanya. Padahal dia juga sadar, pelatihan online itu dilaksanakan karena kondisinya tidak memungkinkan untuk dilakukan secara langsung. Pelatihan online tidak dirancang sejak awal.
Pemerintah memikirkan 5,6 juta calon penerima manfaat dari kartu ini. Mereka akan dapat uang saku Rp600 ribu sebulan, dan dapat lagi Rp150 ribu setelah menyelesaikan pelatihannya. Tapi mereka juga gak dibiarkan punya semangat menadah. Gak ada usaha apa-apa cuma nadah. Ya, harus ada effortlah.
Caranya, ikut pelatihan itu.
Saya gak bilang, bahwa pelatihan online itu akan memberi hasil maksimal. Pastinya kualitasnya jauh di bawah pelatihan langsung di BLK. Tapi, mau gimana? Wong anak-anak aja, belajar online. Mahasiswa belajar online.
Kalau belajar online buat peserta kartu prakerja dipermasalahkan karena gak efektif, kok, sekolah online dan kampus online gak digugat juga? Sama aja kan?
Kenapa gak digugat? Karena penggugatnya sadar bahwa kondisi seperti ini gak mungkin belajar di dalam kelas. Bisa bahaya.
Jadi intinya, bukan soal efektifita belajar online. Bukan soal kartuprakerja. Intinya adalah, perasaan gak ikhlas jika kondisi begini, malah start up pendidikan yang mendapat manfaatkan. Karena peserta pelatihan harus ikut pelatihan online, dan biayanya ditanggung pemerintah.
Apalagi ada start-up milik seorang stafsus. Meskipun siapa yang bisa sangkal, Ruang Guru adalah salah satu perusahaan rintisan dibidang pendidikan online, yang paling moncer. Sementara kartu prakerja saat ini butuh vendor pelatihan online.
Kalau itu masalahnya, desakannya cukup ke stafsus itu. Minta dia mundur. Entah dari CEO Ruang Guru atau dari Stafsus.
Terus gimana konten pelatihannya? Ada banyak pelatihan yang gak efektif. Dan lucu. Misal, pelatihan memasak ini-itu. Pelatihan wawancara kerja. Pelatihan membuat CV dan sebagainya.
Ya, kalau merasa itu gak penting, jangan diikuti. Ada ribuan pilihan pelatihan lain yang bisa dipilih. Ingat, gak semua orang kayak kita. Gak semua orang minatnya sama. Kartu ini mensasar 5,6 juta orang anak muda, dengan berbagai latar belakang. Dengan berbagai tingkat pendidikan. Dengan beragam latar belakang sosial.
Mungkin saja ada orang yang ingin belajar memasak kroket karena mau membuka restoran kecil di rumahnya. Sementara ada juga yang ingin belajar soal tata cara manjahit. Atau belajar bagaimana menggunakan program excel lebih mahir.
Gue cuma mau bilang begini. Dalam suasana krisis seperti sekarang, jangan gunakan ukuran-ukuran normal untuk menilai. Luaskan cakrawala dalam melihat persoalan. Buka kacamata hitam lalu lihatlah keadaan dengan warna aslinya.
"Mas, melontarkan pandangan kritis itu penting, agar dianggap heroik dan pinter," ujar Abu Kumkum. "Sementara pandangan kayak mas, gini, akan dituduh buzzer."
Biarinlah...

0 komentar

Tulisan Populer