Lockdown
Jakarta - Teman saya suka nonton film Superhero. Saya juga suka. Mengamati pertempuran para Superhero itu rasanya mengasyikan. Kekuatan besar bertarung. Mobil beterbangan. Gedung-gedung hancur. Jalanan jebol. Jembatan ambrol. Tapi pertarungan harus diteruskan, karena musuh mau memusnahkan ras manusia.

Setelah pertarungan yang dimenangkan Superhero, rakyat bertepuk tangan. Seorang perempuan keluar dari kerumunan. Memeluk sang pahlawan. Berciuman.

Film selesai dan popcorn habis. Lampu menyala. Saya bangkit dari dari kursi bioskop. Melangkah keluar. Kembali ke alam nyata.

Sambil melangkah keluar saya terus berfikir, apakah rakyat yang diselamatkan Superhero itu benar-benar bergembira? Padahal infrastruktur kotanya hancur. Gedung tempatnya berkantor untuk cari nafkah ikut luluh lantak. Ratusan pedagang akan kehilangan tempatnya cari makan, karena diseruduk pertempuran yang brutal.

Apakah esok hari, mereka masih bisa mencari nafkah dalam suasana biasa?

Sayangnya, film Superhero biasanya selesai disitu. Tidak dikisahkan bagaimana esoknya rakyat harus menghidupi diri. Yang kita saksikan hanya orang yang bertepuk tangan di pinggir jalan setelah musuh mati.

Tapi orang-orang biasa, yang mencari nafkah di gedung-gedung bertingkat itu. Yang berdagang di pinggir jalan dan kiosnya hancur diterjang pertarungan, bagaimanakah mereka melanjutkan hidup?

Para driver online yang motor dan mobilnya ikut hancur, bagaimana mereka bisa menjelaskan itu ke keluarganya. Bahwa besok ia gak bisa lagi cari nafkah karena mobil atau motornya ikut rusak akibat ulah Superhero dan musuhnya yang bertarung di kota.

Sebab hidup bukan hanya satu sisi. Iya, ada musuh yang berbahaya harus dihadapi. Tapi adakah cara yang lebih efisien yang bisa dilakukan tanpa harus menghacurkan kota. Misalnya, memancing musuh ke daerah terbuka yang sepi penduduk. Atau menembak monster itu dengan suntikan bius dosis tinggi, hingga pingsan.

"Kalau harus seperti itu, filmnya gak seru lagi, mas," ujar abu Kumkum.

Benar. Film jadi gak seru. Jadi Superhero memang gak usah terlalu rasional. Mau berantem harus mikirin, bagaimana dampak ekonominya kalau gedung hancur. Bagaimana kehidupan selanjutnya berjalan. Bagaimana infrastruktur yang penting bagi rakyat itu bisa diselamatkan.

Bagi mereka yang penting gedebak gedebuk, berantem, menang, mendapat tepuk tangan dan ciuman. Makin hancur-hancuran kotanya akan makin heroik kisahnya.

Kini kita sedang menghadapi musuh wabah Covid-19. Apakah kita mau gunakan cara Superhero untuk menanganinya? Gak peduli seberapa kehancurannya kehidupan dan ekonomi rakyat. Yang penting lockdown!

Dia pikir, kalau sudah teriak-teriak lockdown otomatis merasa jadi Avangers. Lalu akan dapat tepuk tangan dan ciuman?

Tahu gak sih, sebenarnya Superhero sejati itu bukan Spiderman. Tetapi Bibi May, yang tiap hari memberi makan bocah laba-laba itu sampai dia dewasa. Dan pamannya yang bekerja keras demi keluarga.

"Dan Marry Jane, mas. Dengan ciumannya," celetuk Kumkum.

Caelah, yang diinget cuma itu...

0 komentar

Tulisan Populer