Setelah Corona, Gak Bisa Kayak Dulu Lagi

Penerbangan
Pesawat Terbang
Jakarta - Kadang gue mikir, setelah energi kita disedot habis oleh Corona. Setelah semua sumber daya babak belur memerangi virus yang kurang ajar itu. Terus apa yang akan terjadi?
Mungkin ekonomi kita akan babak belur. Terutama di sektor jasa. Lihat saja, di Bali dan beberapa daerah wisata lain, sepi. Pekerja hotel dan restoran terpaksa di rumahkan. Perusahan travel termasuk travel umroh dan haji pusing tujuh keliling. Bisnis penerbangan megap-megap.
Karena China mengalami masalah, pasti produksi mereka juga terhambat. Padahal kita tahu banyak bahan baku industri Indonesia diimpor dari China. Ketiadaan bahan baku membuat pabrik di Indonesia juga gak bisa berproduksi. Macet.
Semua itu memiliki efek domino yang panjang. Akibatnya mungkin akan ada banyak pengurangan karyawan atau malah tutup usaha. Corona membuat semua babak belur.
Sementara kekuatan duit negara dipastikan banyak terkuras untuk menanggulangi efek virus ini. Presiden Jokowi, misalnya, memerintahkan Menkeu Sri Mulyani untuk menahan semua dana pemerintah. Ia mempersiapkan diri untuk kondisi yang lebih buruk lagi.
Corona dipastikan bakal menurunkan pertumbuhan ekonomi kita. Ekonom menghitung, jika ekonomi China menurun 1%, otomatis ekonomi Indonesia akan ikut drop 0,6%. Itu baru efek China. Belum efek lainnya. Kita tahu negara seluruh dunia semua sedang meriang.
Tentu saja kita berharap Corona cepat berlalu. Dan gairah ekonomi bangkit kembali. Tapi agar dampaknya tidak berlangsung terlalu lama, sepertinya perlu ada terobosan untuk saatnya mempercepat recovery ini.
Indonesia butuh kebijakan yang memudahkan orang untuk bisnis. Sebab kemampuan investasi pemerintah pasti terbatas. Butuh investasi swasta dan asing yang besar agar bisa menggerakan roda ekonomi lebih maksimal.
Jika masih dijalankan dengan pola lama yang ribet itu, mana mungkin kita bisa langsung bangkit dari keterburukan akibat Corona. Mana mungkin ekonomi kita bisa sehat dengan cepat seperti sedia kala.
Sialnya, selama ini kita sudah dipenjara dengan rezim perizinan yang ribet dan lama. Bayangkan, untuk memulai usaha baru, kita harus membuat PT dengan biaya dan ketentuan yang tidak mudah. Itu usahanya belum jalan. Belum dapat duit. Baru bikin lembaganya saja.
Sementara tumpang tindih izin aturan terus menghantui. Untuk sebuah surat, buruh sekian puluh meja harus dilewati. Butuh sekian tandatangan pejabat. Dan setiap meja dan tandatangan artinya biaya.
Kadang di pemerintahan pusat lancar, eh pemerintah daerahnya ngehek. Izin dijadikan sarana buat memeras pengusaha.
Pabrikan besar juga merasakan bagaimana soal Amdal dan izin lingkungan juga menjadi kendala. Iya, kita harus tetap memperhatikan lingkungan hidup. Tapi, jujur deh, masalah Amdal ini biasanya jadi mainan petugas Pemda untuk menakut-nakuti pengusaha. Ujungnya duit lagi.
Sepertinya justru di tengah hantaman Corona ini, Indonesia butuh terobosan yang lebih kuat agar ketika badai berlalu, ekonomi bisa dipacu berlari kencang. Tanpa perubahan yang berarti atas perizinan usaha, kita harus berjalan terseok lama sekali sekadar untuk memulihkan keadaan.
Gampangnya gini. Iya, kondisi sekarang menguras energi. Saat prahara sudah berlalu, kita harus hidup normal lagi. Kerja lagi seperti biasa. Nabung lagi. Punya duit lagi.
Justru karena kemarin habis-habisan karena tergencet Corona, kualitas kerja kita harus lebih maksimal dibanding sebelumnya. Untuk nutupin biaya yang kemarin sudah habis-habisan dikeluarkan.
Begitupun dengan Indonesia. Tentu saja setelah Corona, restoran harus beroperasi lagi. Semua usaha harus jalan lagi. Pekerja yang sempat di rumahkan harus bisa mendapat pekerjaan lagi. Orang bisa bikin usaha lagi.
Tapi kalau izin usahanya masih kayak kemarin, ya bakalan ampun. Boro-boro bisa mempercepat recovery. Baru asal jalan saja sudah menghabiskan energi besar banget. Terus kalau bikin PT untuk usaha kecil masih ribet dan mahal, terus kapan mau recoverynya?
Maksudnya begini. Menantisipasi dampak Corona yang meluluhlantakan ekonomi, kita butuh percepatan dan terobosan. Dunia usaha harus diberi kemudahan izin. Agar mereka bisa bergerak lagi. Agar tenaga kerja bsia terserap lebih banyak. Semakin mudah izinnya, semakin banyak tenaga kerja yang bisa diserap. Semakin sedikit pengangguran.
“Mas, kalau izin usaha jualan minyak telon oplosan, masih susah gak?,” tanya Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer