Kucing
Kucing
Jakarta - Kemarin saya memang terpaksa keluar rumah. Mau ngurus nomor HP yang sebeumnya dicokot orang. Jadilah saya mencari Grapari untuk mengurusnya.
Pulang dari sana, lapar melanda. Saya parkir kendaraan di depan sebuah warteg. Daerah Tebet.
Masuk ke dalam. Duduk di kursi panjang. Lalu memesan makanan dengan teknologi layar sentuh. 'Pakai ini, mbak. Pakai itu, mbak." Mbaknya, sigap ngambilin lauk yang dipesan.
Saya duduk manis. Mulai menikmati makanan dengan santai. Sesekali mereguk es teh manis. Cuma yang nyebelin, di bawah kaki ada yang terus menyentuh-nyentuh. Menggesek-gesekan bulunya ke kaki saya. Sebel.
Dua ekor kucing, seperti biasa selalu merayu kita dengan sentuhan manjanya. Agar kita terganggu. Atau mereka mungkin nunggu kita membagi sedikit lauk.
Tapi saya gak sadar, saya hanya mengeser kucing itu dengan kaki. Maksudnya jangan ganggu dulu. Saya mau makan.
Baru mulai makan. Masuk seorang pengemudi ojeg online. Lengkap dengan jaketnya. Ia duduk, memesan makanan. Tempe orek dan sayur tahu. Minta sambel yang banyak.
Rupanya dia juga seperti saya. Dua ekor kucing mendekati kakinya. Mengesek-gesek tubuhnya. Pengemudi ojeg itu melihat ke bawah. Menghentikan makannya sebentar. Lalu bertanya ke mbaknya.
"Ikan cue ini berapa mbak?"
"Sembilan ribu."
"Kalau nasi sampa orek dan sayur tahu berapa?"
"Delapan ribu, mas."
Ia merogoh kantongnya. Ada lembar sepuluh ribuan dan beberapa lembar dua ribuan. Sisanya receh. Mungkin koin limaratusan atau seribuan. Dihitung uangnya sebentar. Lalu disodorkan di atas etalase kaca warteg. Semuanyanya.
"Saya minta cue-nya satu ya, mbak." Disodorkan piring makannya ke arah si mbak di balik etalase. Cue berpindah ke piringnya. Lalu ia memotong-motong dengan sendoknya. Dilemparkan potongan-potongan itu dengan tangannya ke arah kucing yang mengelus-elus kakinya tadi.
Setelah itu, kaki kami tidak diganggu lagi. Ia makan lagi dengan santai.
Ketika ia melempar potongan cue itu ke kucing, jujur saja, saya merasa seperti ditampar. Kucing itu tadi mungkin minta rezeki dari saya. Untuk sekadar membeli cuek, kayaknya uang saya masih cukup untuk membeli beberapa potong cue. Atau ikan bandeng. Atau ayam.
Tetapi kenapa saya malah gak nyadar, dengan sentuhan lembut kucing-kucing itu?
Malu rasanya saya sama kucing-kucing itu. Malu saya sama mas ojeg online yang memilih menu tempe orek dan sayur tahu. Malu rasanya ketika ia menghitung uang recehnya untuk membeli cue.
Saat selesai makan, saya tawari mas ojeg rokok. Dia mengucapkan terimakasih. Untung saja ia mengambil sebatang yang saya tawarkan. Saya juga memesan dua gelas kopi. Alhamdulillah, ia juga mau.
Kami ngobrol sekadarnya.
Namanya Toto. Rumahnya di Bekasi. Dan suasana social distancing ini membuat penumpangnya berkurang jauh. Tapi ia masih sempat membeli sepotong ikan cue untuk dua ekor kucing.
"Mas, rokoknya sekarang masih ada kan? Mau dong," jawab Abu Kumkum ketika saya ceritakan pengalaman tadi.
Saya gak tahu, apa kisah ini berguna buat Kumkum?

0 komentar

Tulisan Populer