SEKALI LAGI KALISTA

Kalista
Kalista dari Sumbar
Jakarta - Namanya Loise Kalista Wilson Iskandar. Bapaknya berdarah campuran Minang-Tionghoa. Ibunya bule asli dari AS. Ia mewakili Sumatera Barat dalam ajang Pemilihan Puteri Indonesia 2020.
Ia kepleset menyebutkan sila dalam Pancasila. Di atas panggung yang gemuruh. Ketika sebuah ajang pemilihan puteri-puterian yang gemilau, Kalista gagal jadi pemenang. Mungkin ia grogi. Hingga hapalan di kepalanya meruap.
Mungkin juga ia memang tidak memghapal dengan baik. Sebab jaman sekolah dimana ia dibesarkan, tidak lagi sibuk dengan penataran P4 dan Pancasila yang dibaca seperti mantera.
Soal menang dan kalah itu biasa. Tapi Kalista, wajah agak lain dari Sumbar itu, justru saya anggap sebagai model perempuan Indonesia dari generasi baru. Banyak etnis mengalir dalam darahnya. Dalam dirinya ada keragaman.
Sayangnya, Pemda Sumbar sendiri menjelaskan kehadiran Kalista di ajang itu tidak ada campur tangan Pemda. Dengan kata lai Kalista bergerak sendiri. Mewakili dirinya yang kebetulan berdarah Sumbar juga.
Sebetulnya Kalista mewakili wajah Indonesia baru. Bukan hanya mewakili Sumbar. Sebuah generasi lintas etnis. Yang tidak bisa lagi mengklaim saya orang Minang asli, saya Tionghoa totok atau Bule kapalan. Semua itu menyatu dalam Kalista.
Banyak Kalista-Kalista lain. Berdarah campuran yang sudah tidak jelas lagi mana yang dominan. Dan pada diri orang semacam Kalista inilah, sebutan pribumi jadi kehilangan makna.
Sebutan pribumi sendiri sebetulnya lahir dari semangat rendah diri. Dari semacam politik aparheid jaman Belanda. Waktu itu warga negara dibagi jadi tiga kelas : Eropa sebagai warga VIP. Arab dan Tionghoa sebagai warga kelas dua. Dan pribumi penempati posisi terbawah.
Berbarengan dengan itu muncul juga prasangka-prasangka rasial yang diproduksi. Orang Minang, begini. Orang Jawa begitu. Orang Tionghoa begono. Orang Papua begene.
Masing-masing prasangka itu diproduksi untuk memecah belah.
Tapi kini Indonesia berubah. Semakin maju masyarakat akan semakin luas pergaulannya. Hubungan lintas etnis, lintas negara, lintas benua. Kawin mawin seperti marmut. Dan melahirkan generasi baru. Wajah yang sama sekali baru.
Kalista terpleset menyebutkan Pancasila. Di atas panggung kontes yang gemerlap, itu biasa.
Tapi ia adalah Indonesia 100 persen. Wajah Indonesia yang baru. Mungkin juga wajah perempuan Sumbar yang baru. Wajah Sumbar yang hadir di tengah-tengah masyarakat dunia. Wajah Sumbar yang spesial sekaligus global.
Kita berharap Kalista jadi ikon kemajuan di daerahnya. Juga contoh untuk anak-anak muda Sumbar, bahwa Sumbar bukan hanya satu propinsi di Sumatera. Juga sebagai satu daerah unik di tegah masyarakat dunia. Sumbar bukan hanya Indonesia, tetapi juga bagian warga dunia.
Dan sebagai warga dunia, tidak ada jalan lain selain bersikap bahwa keberagaman adalah niscaya dan rahmat.
"Mas, punya nomornya Kalista?," tanya Abu Kumkum.
"Gak..."
"Ya, saya cuma mau WA dia. 'Ayo cemugud kakak".

0 komentar

Tulisan Populer