Paradoks Statistik Corona

Corona
Wabah Coronavirus
Jakarta - "Tapi, prosentasi orang yang meninggal karena wabah Corona di Jakarta sudah 8%. Lebih tinggi dari prosentase dunia. Ini kegagalan," protes seorang teman.
Angka 8% itu didapat dari junlah orang yang meninggal dibagi dengan total jumlah pasien positif.
Gimana biar angka persentasenya turun?
Menurut kaidah matematika ada dua jalan. Pertama tekan angka kematian. Kedua perbanyak jumlah pasien positif Corona.
Di China pasien terdeteksi positif 85 ribu orang. Sekitar 2800 orang meninggal. Artinya angka kematiannya hanya 2,4%.
Korea juga gitu. Mereka masif melakukan test Corona. Akibatnya jumlah yang terjaring banyak. Meski yang meninggal lebih tinggi dari Indonesia secara persentase malah lebih kecil.
Jadi pemerintah mungkin harus melakukan upaya serius bikin test Corona secara masif. Tentu saja sambil merawat pasien yang tertular.
Apa akibatnya? Dengan banyaknya orang yang terdeteksi, dengan sendirinya persentase angka kematian bisa ditekan.
Anehnya. Kalau jumlah yang terpapar sedikit. Pemerintah gagal. Sebab prosentase kematian tinggi.
Kalau pasien positif Corona besar artinya pemerintah berhasil, karena persentase kematian rendah.
Paradoks, kan?
Makanya, gue sih gak mau terlalu pusing dengan angka statistik. Dulu dosen statistik selalu bilang, statistik adalah data yang diam. Sifatnya netral. Soal bagaimana menilainya tergantung dari sudut pandang. Sebuah data bisa dilihat dari berbagai cara.
Negatif atau positif, terserah penafsiran.
Ada istilah dalam ilmu statistik, "Lie with statistic." Itu gue pelajari di kampus dulu. Meskipun, sialnya, nilai statistic gue pas-pasan..
Tentu saja statistik sangat penting. Bisa dijadikan acuan ilmiah untuk menilai. Bisa dijadikan pegangan. Tapi kita harus tahu juga jebakan jebakannya
"Mas, yang sekarang banyak terjadi adalah "lie with relegion," ujar Kumkum.
Gaya lu...

0 komentar

Tulisan Populer