Kadrun
Kadrun
Jakarta - "Kum bagaimana menurutmu, soal working from home. Atau kerja di rumah?"
"Begini ya, mas. Semua orang juga maunya di rumah aja. Goler-goler di tempat tidur. Bangun siang karena semalam metuntaskan Game Online. Tapi pas akhir bulan gajinya ditransfer. Gak perlu ke kantor. Gak perlu macet dan capek..."
"Lho berarti anjuran itu bagus kan?"
"Iya, kerja di rumah bisa buat orang kantoran. Kerjanya pakai komputer. Kirim file gunakan internet. Tapi buat Office Boy, kerja di rumah itu artinya, beresin rumah sendiri. Bikin kopi buat sendiri. Yang mau gaji siapa?"
"Iya ya, Kum."
"Buat driver Gojek, kerja di rumah caranya gimana mas? Starter motor, terus digas-gas aja gitu? Gak jalan-jalan. Yang ada seisi rumah malah masuk rumah sakit, kena asap knalpot..."
Saya mikir juga. Memang masyarakat itu beragam. Ada yang kerja kantoran. Administratif. Bagian analisa. Nah, mereka itu bisa kerja di rumah.
Tapi bagi pekerja informal. Buruh pabrik. Penjaga toko. Sektor jasa, mana bisa kerja di rumah. Apa lu bisa ke salon mau creambath, terus cuma dipandu sama kapsternya cuma lewat Skype?
"Abis itu, dipijet-pijet ya, kak kepalanya. Terus pijetnya agak kencengan. Yang bagian kiri juga. Creamnya tambahin kak. Nah, kalau sudah, kakak keramas. Jangan lupa air hangatnya dulu disiapin kak."
Lu mau, creambath cuma dipandu via Skype lalu harus bayar? Semua lu kerjain sendiri?
Tukang cilok kalau gak keliling, gak dapat duit. Kalau duitnya gak ada, dia gak makan. Kalau gak makan, sakit maag. Terus masuk RS juga. Dirawat karena maag kronis.
Itu baru working from home, lho. Belum lockdown-lockdown-an.
Jadi siapa sih, yang ngeyel lockdown-lockdownan? Paling orang yang tabungannya bisa menutupi kebutuhan hidupnya jika ia gak kerja sebulan atau dua bulan.
Tapi bagi kapster salon, tukang cilok, mie ayam, bakso gendut, tukang parkir eceran, lockdown sebulan adalah kiamat. Mereka gak bisa memenuhi nafkahnya. Keluarganya tetap butuh makan.
Apa yang mungkin terjadi nanti? Mereka harus survive. Sementara duit gak punya. Barang di pasaran makin susah didapat.
Eh, ada mall. Ada supermarket yang tutup.
Lalu mereka keluar dari slum-slum sempit. Menggerombol ke jalan. Mencari makanan yang mereka butuhkan. Mendobrak mall dan supermarket. Mereka butuh makanan awalnya.
Eh, ada TV. Ada mesin cuci juga. Ada pakaian dan sepatu bagus. Polisi dan tentara siap menghalau. Seperti biasanya, akibatnya orang akan banyak berkumpul. Suasana jadi lebih kacau.
Tidak ada lagi lockdown akhirnya. Semua turun ke jalan. Mencari survive sendiri-sendiri. Tidak peduli lagi dengan Corona. Sebab perut dan keselamatan tidak bisa ditunda.
Pekerja kantoran yang sedang asyik working from home akhirnya menghambur ke luar juga.
Tentu saja, para pemakan bangkai atas nama agama akan gembira ria. Suasana inilah yang mereka tunggu. Dengan begitu, mereka bisa berteriak : Semua masalah ini khilafah solusinya!
Sebab hanya di tengah kepanikan dan orang kehilangan akal sehat, jualan khilafah bisa laku. Kalau orang normal, mana mau percaya dengan mimpi itu.
Saya membayangkan skenario ini, jika ada Pemda yang konyol menetapkan lockdown. Atau jika ada orang yang pikirannya pendek sok teriak-teriak mendesak pemerintah melakukan lockdown.
Bukan apa-apa. Struktur sosial kita masih seperti itu. Tidak siap sama sekali.
Lockdown adalah solusi paling konyol. Mungkin efektif menekan penularan Corona, tetapi justru mengundang masalah lainnya yang lebih besar. Terumata di kota-kota besar seperti Jakarta.
Bagi saya lockdown adalah bunuh diri sosial. Mendingan gak usah berfikir ke arah sana. Dan jangan sok-sokan juga mendesak-desak. Konyol.
Mendingan semua kita jadi agen-agen penghalang penyebaran virus. Caranya mudah. Asumsikan saja kita ini pasien positif. Dan kita gak mau orang lain tertular.
Jadi batasi saja diri kita dari interaksi sosial. Hindari kerumuman. Jaga kondisi badan. Minum vitamin. Cuci tangan.
"Mas kalau makan ketoprak, boleh kan?"
Makan mulu, lu...

0 komentar

Tulisan Populer