Demo
Meme Demo
Jakarta - Ada orang frustasi. Mau demo besar-besaran tujuh juta orang ternyata yang hadir cuma segelintir. Dia putuskan bunuh diri. Minum racun.
Tapi racun rasanya pahit, gak enak. Dia gak doyan. Dia memilih minum teh manis. Tapi dia ingat diabetesnya. Dia berfikir harus gunakan gula rendah kalori.
Dia menstarter motornya. Pergi ke minimarket. Karena gak hati-hati, sebuah angkot menyerempetnya. Jidatnya benjol. Dan umurnya masih panjang. Meski sempat dilarikan ke Puskesmas.
Dokter hanya memberikan obat kompres dan obat penahan rasa sakit plus obat tidur.
Saat malam dengan kepala nyut-nyutan, dia pergi tidur. Tidurnya lelap sekali. Namun istrinya membangunkan. "Bang obat tidurmu belum diminum. Ayo minum dulu."
Dia kaget dan terbangun dengan perasaan marah. Orang sedang tidur enak-enak dibangunin. Tapi dia tahu istrinya galak luar biasa. Ini yang sebetulnya membuat hidupnya sedih tak berkesudahan.
Istrinyalah yang membuat ia frustasi. Karirnya sebagai demonstran terhalangi oleh istrinya yang galak. Sedikit sedikit di telepon. Minta uang belanja. Ia jadi gak konsen bekerja.
Sejak enam tahun lalu, jabatanya gak berubah : tukang nyiapin spanduk demo. Gak pernah sekalipun dikasih jabatan urusin konsumsi.
Pusing memikirkan nasibnya. Dia langsung saja menenggak obat tidur yang disodorkan istrinya. Enam butir sekaligus. Sejak saat itu dia tidak bangun lagi.
Speaker mushola mengumumkan kematiannya dengan kata-kata mati karena ditabrak angkot.
Hanya istrinya yang tahu apa penyebab kematian sesungguhnya.
"Punya laki kok, kerjanya demo terus. Bukannya càri nafkah. Mending begini aja deh, gak punya laki sekalian," ujar istrinya dalam hati.
Tetangga berdatangan mengucapkan belasungkawa.
Keesokan harinya, dari uang belasungkawa, istrinya membeli TV LCD baru buatan Cina. Ia akan menghabiskan waktunya nonton sinetron Turki dan akademi dangdut kegemarannya.
Hidup memang tidak mudah diterka.

0 komentar

Tulisan Populer