KALISSA DAN HAPALAN PANCASILA DI ATAS PANGGUNG

Kalissa
Kalissa
Jakarta - Peserta Putri Indonesia dari Sumbar gak hapal Pancasila. Begitu banyak orang bicara di medsos. Seolah nyerocos mengenai butir sila dalam Pancasila adalah ukuran seberapa Pancasilais seseorang. Kayaknya, aib banget kalau gak bisa nyebutin Pancasila dengan lancar ketika di atas panggung.
Gue sih yakin, jika diminta duduk, menuliskan butir-butir kelima sila itu dalam suasana tenang, Kalissa Iskandar akan lancar. Gak tersendat seperti ucapannya di atas panggung. Kalau kemarin dia tersendat, wajar sih. Mungkin aja grogi. Mungkin juga demam panggung.
Jangankan di depan ribuan pasang mata yang memelotinya. Plus ada juri yang menilainya. Lu mau ngomong sesuatu sama gebetan juga belum tentu lancar.
Padahal kata demi kata, sudah dijalin dengan indah. Untuk mengungkapkan, maksud hati.
Lu beranikan diri untuk memulainya. Namun mengapa bibir lu, tak dapat bergerak. Terasa berat.
Gak ngampang bicara dalam kondisi tertekan. Gak mudah bicara ketika kita tahu orang sedang menilai apa yang kita bicarakan. Itu semua butuh kesiapan mental. Butuh latihan yang intens. Gak semua orang bisa. Makanya ada kursus public speaking.
Apalagi ketika ditanya yang jawabannya adalah hapalan semacam sila dalam Pancasila. Saya yakin sila-sila itu sudah tertanam dalam memori Kalissa. Tapi usaha mengangkat dari memorinya dalam suasana tertekan, sungguh gak mudah.
Kalau meleset-meleset sedikit, gue sih anggap wajar. Kekurangan Kalissa saat itu cuma belum bisa kontrol diri. Cuma itu. Bukan tidak Pancasilais. Kejauhan menilai seperti itu.
Pancasila itu doktrin berbangsa. Sikap hidup orang Indonesia. Sebagai dasar dimana negara ini dibangun. Bukan cuma hapalan sila-sila.
Gue yakin, di panggung orang semacam Felix Siuaw yang biasa ngoceh lebih lancar hapalan Pancasilanya. Kalau Felix hapal. Demikian juga Rizieq atau Sugik. Mereka terbiasa ngomong di depan jemaah.
Gak lagi grogi. Malah kebanyakan omong.
Lalu apa Felix atau Sugik lebih Pancasilais dibanding Kalissa? Belum tentu. Atas pertanyaan ini, mungkin lu juga mual.
Lagian mana mau Sugik dan Felix ikut kontes Putri Indonesia.
Atau jajal lu deh. Yang sebelumnya gak pernah tampil bicara di depan publik. Suruh maju ke depan. Ditonton jutaan pasang mata. Ditanya apa bunyi pasal 16 dalam UU Ketenaga Kerjaan Indonesia. Gue yakin lu nyerah.
Padahal sehari-hari lu adalah pegawai. Tenaga kerja.
Ketika Kalissa mau tampil di ajang pemilihan Putri Indonesia. Saat ia dengan anggun berjalan di atas panggung menggenakan kebaya. Ketika ia berinteraksi dengan putri-putri dari daerah lain, Kalissa sedang menunjukan ia juga meyakini Pancasila. Meyakini keragaman Indonesia, sebagai salah satu filosofi Pancasila.
So, gadis Sumbar itu cantik. Cerdas. Dan berhasil mewakili daerahnya dengan segala kelebihannya. Ia adalah representasi perempuan Sumbar yang maju dan modern.
Ia tampil sebagai bagian dari keindahan Indonesia. Pada nilai itulah Kalissa perlu mendapat acungan jempol.
Bagi saya, Kalissa tetap seorang cewek yang keren. Bernilai. Dan cantik. Iya mewakili wajah putri Indonesia yang punya optimisme. Sama seperti peserta dari berbagai daerah lain.
Soal keseleo menghapal sila dalam Pancasila di atas panggung kontes, itu cuma kepleset. Gak mewakili keyakinannya tentang dasar negara ini. Kehadiran Kalissa sendiri di atas panggung kontes Putri Indonesia sudah menjawab.
Bahwa ia seorang yang percaya, Indonesia adalah bangsa besar. Terdiri dari suku bangsa dan agama. Keragaman adalah keniscayaan Indonesia.
"Mas Kalisaa itu cantik, gak?"
"Cantik Kum, seperti gadis Sumbar pada umumya."
"Pantesan semangat banget nulisnya..."
Duuu... Ngenyek!

0 komentar

Tulisan Populer