AS-China Berlomba Mencari Vaksin

Amerika Serikat dan China
Donald Trump dan Xi jinping
Jakarta - Di depan wartawan, di gedung putih, Donald Trump menyampaikan keterangan mengenai virus Corona. Dengan enteng ia menyebut Corona dengan istilah 'chinese virus'. Kontan, statemen itu mengundang reaksi. Sebutan Covid-19 sebagai Chinese virus jelas mengandung unsur rasis.
Tapi kita tahu Trump. Ia memenangkan pemilihan Presiden di AS juga dengan mengobarkan semangat rasialis di sana. Trump beralasan, sebutan itu sebagai balasan atas tuduhan seorang jubir Kementerian Luar Negeri China, dalam salah satu cuitannya.
Zhao Lijian, menulis bahwa ia mencurigai virus yang melanda Wuhan dibawa tentara AS. KIta tahu, sebulan sebelum kasus Wuhan meledak, di sana ada semacam kegiatan yang melibatkan para tentara dari berbagai negara. Termasuk dari AS.
Bukan hanya itu. Ketegangan juga terjadi di dunia pers. Pemerintah AS sebelumnya mengusir beberapa wartawan dari media asal China. Alasannya, karena wartawan tersebut berafiliasi dengan pemerintah China.
Iya, China memang negara komunis. Di negara komunis, hampir semua media berafiliasi dengan pemerintahan. Itu memang salah satu cirinya.
Atas langkah itu, China membalas. Mereka mencabut hak peliputan dari berbagai media besar. Yang duluan kena adalah Voice of America, sebagai media yang berafiliasi dengan pemerintahan AS. Tetapi, belakangan kena juga ke wartawan dari The Washitong Post, Wall Street Journal, dan New York Time.
Memang China tidak menyatakan melarang. Tetapi tidak meneruskan izin beberapa wartawan senior dari media AS itu yang selama ini ngepost di sana. Sama aja sih.
Sepertinya memang di tengah badai Corona ini, kedua negara raksasa itu masih terus melakukan konfrontasi. Sejak awal menjabat sebagai Presiden AS, Trump selalu melancarkan serangan kepada China. Ia membuka perang dagang yang membuat dunia panas dingin.
Parahnya, Trump bukan hanya mengindikasikan China sebagai negara. Tetapi juga 'Chinese' sebagai ras. Akibat yang terasa, kebencian ras melanda AS. Khususnya pada mereka yang berwajah oriental. Kondisi yang sama juga menular ke Eropa.
Sebetulnya bukan hanya China yang jadi sasaran Trump dan pendukungnya. Mereka juga menuding Partai Demokrat sebagai pihak yang bertanggungjawab atas merebaknya Corona di AS. Sebab, menurut Trump, saat virus sedang genting, Demokrat malah mengancam Trump dengan impeachment.
Dunia sedang panik. Eh, kedua kekuatan besar itu malah saling bertikai. AS sendiri kini dilanda suasana pusing. Rakyat di berbagai wilayah menyerbu supermarket membeli bahan kebutuhan pokok.
Sialnya, kebijakan luar negeri AS masih penuh kesombongan. Trump misalnya, tidak mau mencabut embargo terhadap Iran yang sedang parah diserang Corona. Alat kesehatan, obat-obatan, masker dan berbagai keperluar lain yang tidak bisa dikirim ke Iran.
Untung China berbaik hati. Mereka menggunakan taktik politik yang jauh lebih manusiawi dibanding AS. China membantu Iran dengan sepenuh hati. China juga turun membantu Itali, Perancis dan berbagai negara Eropa untuk memerangi Corona.
Bahkan China juga menawarkan diri untuk membantu Indonesia. 500 ribu alat test virus dari China akan datang sebentar lagi. Presiden Jokowi sudah mengintruksikan warga untuk melakukan rapid test.
Sementara AS, boro-boro bisa membantu. Mikirin dirinya sendiri saja sudah pusing. Trump malah sibuk terus mencaci.
Dunia tentu geregetan dengan ulah para badut yang kebetulan duduk sebagai pemimpin negara adidaya ini. Di tengah wabah yang melanda mereka masih sibuk melancarkan kebencian rasial. Seolah rasa kemanusiaan mereka telah bablas sama sekali.
Serunya, baru saja AS mengumumkan sudah menemukan vaksin Corona dan kini sedang dicobakan kepada beberapa relawan. China langsung menyambar dengan informasi yang sama. Para ahli virus di China saat ini juga sedang mencobakan vaksin Corona kepada manusia.
Mungkin China sadar, siapa yang memegang paten virus ini, ujungnya punya bargaining besar di dunia. Suasananya mirip ketika China akhirnya lebih dulu melompat ke teknologi 5G, sementara di AS baru sibuk dengan 4G. Bahkan AS sempat menangkap petinggi Huawei karena kalah bersaing.
Dan kita tahu, soal penguasaan jaringan 5G inilah yang bikin AS meradang pada China. Sebab akibatnya, perusahaan teknologi AS yang selalu dibangga-banggakan itu akhirnya akan bertekuk lutut di bawah kaki Xi Jinping dan Jack Ma.
Dari sisi vaksin Corona, China dan AS seperti berkejaran untuk siapa yang duluan sampai ke garis finish. Siapa yang lebih dulu mematenkan temuannya nanti. Dan akhirnya, siapa yang akan memproduksinya buat dikonsumsi seluruh dunia.
Selain pengaruh politik, vaksin Corona adalah juga bisnis yang maha seksi. Seluruh dunia akan membelinya dengan sukarela.
China dan AS. Keduanya ingin menjadi pemenang dalam perang yang aneh dan menyebalkan ini. AS selalu hadir dengan koboy dan preman. Suka mengedepankan ancaman.
Sementara China hadir dengan gaya pedagang murni. KIta tahu China sejak dulu tidak punya reputasi menjajah sebuah bangsa. Prinsipnya hanya lu untung, gue untung. Tinggal siapa yang untung paling banyak.
Jika perilakunya tidak berubah, berhadapan dengan China, AS akan mirip Rizieq menghadapi Ahok. Dia merasa menang dan kuat, tetapi akhirnya terkucil di Saudi. Sementara Ahok malah dilantik sebagai Komisaris Pertamina.
"Mas, kalau AS itu mirip Rizieq. Sedangkan China kayak Ahok. Indonesia bukan kayak Firza, kan?," Abu Kumkum bingung.
Caelah, ini cuma analogi Kum. Gak usah diterus-terusin...

0 komentar

Tulisan Populer