WARGA JAKARTA YANG FRUSTASI

Banjir Jakarta
Warga DKI
Jakarta - Jakarta banjir besar lagi. Gak heran. Sebab apa yang dilakukan Pemda DKI melawan sunnatullah.
Saat Jokowi naik jadi Presiden RI. Ia memutuskan kebijakan untuk menanggulangi banjir kiriman. Dibuat bendungan di Ciawi dan Bogor. Agar air kiriman bisa dimenej.
Tapi itu belum cukup. Di Jakarta sungai juga harus dibersihkan. Makanya Ahok menyambut dengan program normalisasi sungai. Dari 33 KM sungai, Ahok sudah menormanilasi 16 KM. Setelah itu masa jabatannya habis.
Hasil normalisasi lumayan. Titik banjir menurun drastis. Banjir kebanyakan terjadi di sekitar aliran sungai yang belum dinormalisasi. Mestinya tinggal lanjutkan saja.
Pembangunan bendungan dan normalisasi sungai adalah kerja satu paket. Keduanya adalah jawaban untuk menanggulangi banjir Jakarta. Sayangnya belum selesai semua, Ahok keburu turun.
Dulu Jokowi yakin, jika semua proyek berjalan, banjir Jakarta akan tertangani.
Datang Anies Baswedan jadi Gubernur. Strategi polititiknya melawan apapun program pusat. Ia memperkenalkan istilah naturalisasi. Artinya Anies mau mengubah sebuah strategi penanganan banjir yang sudah terbukti efektif. Hanya karena normalisasi warisan Ahok.
Sialnya, naturalisasi cuma ada di bacot. Gak dikerjakan juga. Sampai saat ini tidak mana sungai yang dinaturalisasi? Gak jelas. Baru sebatas wacana. Sebatas mongngomong doang.
Kalau sebuah strategi dibuat, ditengah jalan disabot dengan perubahan yang gak sinkron. Pasti kacaulah. Apalagi juga gak dikerjain. Didiamkan saja. Inilah yang terjadi Jakarta.
Makanya, Menteri PUPR pernah komentar. "Mau normalisasi atau naturalisasi yang penting dikerjakan!"
Anggaran penanggulangan banjir DKI Jakarta juga dipotong. Alasanya karena defisit. Tapi anggaran balap Formula E disiapkan Rp1,6 Triliun, dengan rencana pendapatan Rp600 miliar. Artinya sesukses suksesnya Formula E, kerugian cuma Rp1000 miliar. Duit rakyat senua itu.
Saya belum tahu. Kira-kira lebih besar mana kerugian warga Jakarta akibat banjir. Dan biaya Formula E. Ingat, Formula E itu digelar buat orang-orang asing balapan disini.
Planing sodetan kali yang bisa mendistribusikan air gak dikerjain. Memang pengerjaan itu tanggungjawab PUPR. Tapi pembebasan lahannya jadi tanggungjawab Pemda DKI. Nah, sampai sekarang lahannya gak dibebasin. Gimana mau dikerjain?
Anies bilang banjir karena air kiriman. Hari ini Katulampa biasa saja. Tapi Jakarta terandam. Karena hujan. Artinya bukan air kiriman.
Banjir yang makin meluas ini sebetulnya adalah output dari cara kerja yang gak punya prioritas. Hal yang penting diabaikan. Hal yang gak penting malah dibiayai jorjoran. Duit rakyat habis digunakan gak jelas.
Banjir yang menyiksa menimbulkan keresahan. Di Cakung, Jakarta Timur, kabarnya korban banjir mulai marah. Sialnya bukan meminta pertanggubgjawaban Pemda, mereka malah membuat ulah di mall AEON. Bahkan banyak ungkapan rasis terlontar.
Warga Jakarta sudah frustasi akibat ketidakbecusan Pemda DKI. Kita juga mual mendengar cara-cara ngeles yang melecehkan akal sehat.
Sudahilah membela Anies dengan kedunguan yang natural. Banjir dibilang berkah. Bersyukur banjir cuma hari libur. Atau kedunguan-kedunguan sejenis yang bikin mual. Pembelaan itu malah membuat orang muak sama junjunganmu.
Banjir yang terjadi seksrang jelas menjadi tanggungjawab Pemda DKI. Mereka gak serius menangani banjir Jakarta. Mereka cuma kebanyakan mbacot.
Jadi banjir di Jakarta yang terus menerus dan makin besar skalanya hanyalah bagian dari sunnatullah. Banjir terjadi sesuai apa yang kita usahakan.
Hasil tidak mungkin memghianati proses.
Kalau Pemda bekerja untuk menanggulangi banjir, pasti titik banjir akan berkurang. Kalau gak dikerjain, ya otomatis titik banjirnya akan bertambah. Apalagi curah hujan juga tinggi. Konsekuensi logis saja.
"Mas, banjirnya terjadi pada hari kerja juga?," tanya Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer