PEJABAT KUDET SANTAPAN MEDIA

Formula E Monas
Formula E Monas
Jakarta - Makin kesini, makin banyak berita yang nikin kening berkerut. Kadang pejabatnya ngomong ngelantur. Kadang beritanya yang dispin. Akibatnya berita-berita di media online makin tidak bisa dijadikan rujukan.
Saya pernah bekerja di media. Dari level reporter sampai Pemimpin Redaksi. Saya tahu, media adalah institusi bisnis. Jadi selain menyampaikan berita juga perlu pendapatan.
Bagi media tulisan yang bagus, bukan hanya dari isinya. Tetapi juga dilihat dari seberapa banyak pembaca suka. Soal itu menjadi salah satu KPI wartawan.
Media online, ukuran keberhasilannya adalah klik. Semakin sebuah berita diklik banyak orang akan dianggap semakin berhasil. Seorang redaktur kalau beritanya gak klik oriented, dianggap tidak memenuhi target.
Media punya wartawan. Meliput di lapangan. Di kantor, duduk para redaktur yang bertanggungjawab merangkai laporan reporter jadi berita. Di media cetak, biasanya sempat ada diskusi antara reporter lapangan dengan redakturnya. Berita ini maksudnya apa? Apa latar belakangnya hingga ada statemen seperti ini?
Sehingga sang reporter bisa memberikan nuansa yang colorfull terhadap sebuah laporan. Ia bisa menceritakan statemen ini cuma guyonan pejabat. Atau disampaikan dalam konteks becanda. Atau maksudnya adalah begini, bukan begitu.
Diskusi dimungkinkan karena di media cetak ada jeda waktu. Laporan hari ini. Redaktur meracik jadi berita, sebelum akhirnya naik cetak. Bisa sehari, kalau harian. Ketika meracik berita, mungkin masih sempat diskusi dengan reporter yang melaporkan berita. Agar maksudnya gak meleset.
Beda sama media online. Mereka berkejaran dengan waktu. Adu cepat dengan kompetitor. Jadi di media online, ukuran keberhasilannya selain cepat juga harus klik bait.
Klik bait sangat bergantung pada judul berita. Judul yang membuat adalah redaktur. Sedangkan reporter di lapangan gak sempat lagi memberikan background informasi atau mendiskusikan maksud laporan yang diserahkan ke redaktur. Karena tuntutan waktu, mereka juga hanya membuat laporan yang straight. Tidak colorfull. Tidak ada latar belakang. Tidak menjelaskan suasana ketika sebuah stetemen disampaikan.
Jadi laporan apapun dari reporter harus diolah menjadi berita yang klik bait. Mengundang mengunjung datang. Semakin banyak pengunjung ke situsnya, semakin besar potensi keuntungan sebuah media online.
Akibatnya, ya harus pinter-pinter bikin judul bombastis. Harus pinter spin informasi agar jadi menarik. Harus ikhlas melepaskan background dari sebuah statemen narasumber agar menjadi menarik.
Kalau ditulis apa adanya pasti tidak mengandung penasaran.
Pejabat-pejabat yang gak ngikutin perkembangan cara kerja media online pasti sering mules. Omongan becanda, misalnya, tetiba jadi berita serius. Padahal saat itu disampaikan dengan nada guyon.
Salah memilih kata bisa diterkam isu.
Justru yang paling menarik adalah pejabat yang gak pernah nongol di media yang selamat. Gak jadi bahan bullyan. Siapa yang kenal Menteri Perdangan sekarang, misalnya. Jarang yang tahu. Beritanya juga minim. Karena kabarnya Mendag sekarang alergi media.
Sedangkan pejabat yang media darling, justru banyak kacaunya. Omongannya dibetot sana sini. Diopyak gak karu-karuan. Maksudnya begini, jadinya begitu. Maksudnya begitu, jadinya begini.
Presiden tahu soal ini. Makanya dia menyarankan agar para Menteri menyiapkan diri jika berhadapan dengan media. Jangan wawancara tembak langsung atau doorstop kalau gak menguasai.
Saya setuju dengan kiat ini. Biar gak jadi santapan media yang mendahulukan kliknait di atas segakanya. Sebaiknya siapkan rilis tertulis kalau pejabat mau bicara dengan media. Berpegang pada itu saja. Jika ragu dengan jawaban, hindari dulu. Jangan tebak-tebakkan jawabnya. Bahaya.
Ingat saja. Ada istilah dalam dunia jurnalis, bad news is a good news. Informasi tentang keburukan adalah sebuab berita yang bagus.
Nah, para pejabat kudet tapi banci tampil, rasakan saja dampaknya.
"Mampus kau, dikoyak-koyak berita," ujar Abu Kumkum. Meniru puisinya Chairil Anwar.

0 komentar

Tulisan Populer