#SaveBabi
Demo
Jakarta - Lama-lama problem di negeri ini nyebelin. Sesuatu yang mestinya bukan masalah, sekarang jadi masalah berat banget. Dari dulu di Sumatera Utara, masyarakatnya suka mengkonsumsi daging Babi. Babi bukan hanya jadi bahan konsumsi, juga bagian dari tradisi. Bagian dari upacara adat. Sama kayak kambing saat Idul Adha.
Wajar. Wong mereka yang mengkonsumsi agamanya bukan Islam. Ya, gak masalah. Kalau orang Islam dilarang mengkonsumsi babi oleh kitab suci, larangan itu hanya berlaku buat muslim saja. Bukan buat selurruh dunia.
Nah, sialnya, banyak muslim geer. Mereka merasa bahwa apa yang diyakini harus juga menjadi keyakinan orang lain. Mereka memaksakan kehendaknya pada orang. Di Sumut, ada rencana pelarangan menjual daging babi. Kan, babi?
Muslim gak makan babi. Ya, silakan. Tapi muslim melarang orang beragama lain mengkonsumsi babi, berlebihan namanya. Apalagi sampai menggunakan kekuasaan untuk memaksakan kehendak. Itu sih, keterlaluan.
Lagian kalau orang yang beragama selain muslim makan babi, emang kenapa? Apa ruginya buat umat Islam? Sebagai muslim, lu gak dosa, kalau lihat teman lu yang Kong Hu Cu mengkonsumsi babi. Gak ada kedzaliman yang dilakukan teman lu.
Lu baru dosa, kalau teman lu lagi makan, terus lu minta suapin sedikit. Selain dosa, lu juga tergolong celamitan dan malu-maluin.
Jadi kalau ada orang makan babi, masalahnya apa? Kecuali kalau dia doyan makan orok, baru deh, bisa lu laporin polisi. "Pak polisi, anak gue tangannya ilang. Dimakan sama tetangga."
Sebagai muslim, gue gak pernah makan daging babi. Setidaknya secara sengaja. Pernah sekali waktu di Tokyo, gue laper. Masuk kedai makan. Pesen ramen. Ada irisan dagingnya. Rasanya enak juga.
Habis makan, gue mikir, tadi daging apa ya? Kayaknya gue belum pernah nyobain?
Gue lihat menunya. Untung Bahasa Jepang. Gue gak ngerti. Sampai sekarang gue gak tahu, itu daging apa?
Apa gue dosa? Jikapun itu daging babi, kayaknya gue dosa karena gak bisa bahasa Jeoang. Bukan karena makan daging babinya. Hahahahaha...
Sama kayak umat Hindu yang mensucikan sapi. Mereeka meyakini gak makan daging sapi. Tapi kalau ada muslim yang doyan burger atau sirloin steak, ya gak apa-apa dong. Di Bali aja, banyak restoran yang jual steak.
Beragama itu gak harus kepo dan nyebelin seperti itu. Jangan mentang-mentang berkuasa lalu bertindak seenaknya. Jangan gunakan ukuran-ukuran personal kita untuk membuat sebuah kebijakan publik.
Jadi kalau orang di Sumatera Utara demo berduyun-duyun protes rencana pelarangan warung yang jual Babi, ya harus dimaklumi. Itu Pemdanya saja yang norak. Belagu. Egois. Childish. Mau menang sendiri. Gak perhatian. Udah gak sayang lagi.
Kalau pemerintah bikin larangan gak boleh makan opor ayam, semur daging kepala, sambel goreng ati plus ketupat saat lebaran, gue juga bakalan ngamuk. Mendingan gue jihad ketimbang gak boleh makan masakan emak gue saat lebaran.
Kayaknya, orang di Sumut juga lagi jihad. Melawan rencana aturan yang membuat mereka gak nyaman. Memperjuangkan haknya.
Itu baru soal Babi. Di Karimun ada gereja yang dibangun pada 1928. Mau direnovasi. Eh, ada umat muslim protes. Takut terganggu imannya. Padahal sebelum emak-bapaknya pacaran, gereja itu sudah berdiri disana.
Lagian kalau gereja berdiri, orang katolik kebaktian, terus yang muslim merasa keganggu? Kebaktian juga gak pakai toa. Lu gak akan dengar doa Maria dibacakan saat Misa. Ngapain protes?
Kanapa sih, semakin beragama ada orang yang semakim nyebelin? Bawaanya mau menyusahkan orang aja? Apa dengan begitu lu merasa sedang berjuang mempercantik agama lu?
Begini, akhi. Orang non muslim gak lihat agama lu dari isi Alquran. Gak lihat dari kitab hadist. Yang dia lihat dari nilai agama lu, ya dari perilaku lu. Kalau pelaku lu nyebelin, kayak sepauh ISIS. Orang akan beranggapan, agama lu barbar.
Padahal bukan begitu. Lu teriak-teriak, Islam rahatan lil alamin. Rahmat buat seluruh alam. Boro-boro seluruh alam. Sama tetangga lu aja, lu selalu bikin susah.
Artinya, perilaku lu, yang merusak agama lu sendiri.
Sudah cukup Islam dipersepsikan buruk karena perilaku ISIS, Alqaedah, Hizbut Tahrir, Boko Haram, Abu Sayaf, atau Santoso di Poso. Sudah cukup Islam dibuat rusak oleh para teroris bom bunuh diri. Oleh ustad-ustad yang menjual kebencian dalam ceramahnya.
Lu jangan ikut-ikutan menjelekkan agama dengan ikut berperilaku barbar. Kalau semua orang Islam barbar begitu, lu yakin di masa depan anak cucu lu masih mau memegang teguh agama ini. Jika yang dilihat hanya kekacauan dan keegoisan melulu?
Masa sih, kebodohan kita ikut kendorong orang untuk menjauh dari agama ini.
"Mas, restoran Ramen di Tokyo, alamatnya dimana? Kalau kesana, aku mampir, ah," ujar Abu Kumkum.
Gaya lu, Kum...

0 komentar

Tulisan Populer