CORONA JUGA 'AZAB' BUAT DAYAT

Coronavirus
Data Wuhan Coronavirus
Jakarta - China meriang dilanda virus Corona. Mereka memperpanjang waktu libur, menutup berbagai kota dan melakukan usaha besar-besaran untuk menghalau virus tersebut. Padahal fatality rate, atau tingkat kematian pada kasus Corona sekarang gak terlalu besar. Hanya 2% dari penderita yang meninggal.
Memang sih, angka kematian akibat virus itu sudah menembus 361 orang dari 20 ribuan orang yang terinveksi. Angka tersebut lebih besar dari korban SARS yang juga dimulai dari China, korbanya 349 orang.
Usaha China memerangi virus dengan menutup berbagai interaksi dengan dunia luar menyebabkan ekonomi mereka tertekan. Kerugian difaksir mencapai 62 milyar US dolar.
Artinya pemerintah China berusaha keras menahan laju Corona meski ekonominya harus sempoyongan. Ekspor menurun. Pendapatan turis anjlok. Produktifitas mengerut karena waktu libur diperpanjang.
Bandingkan dengan peristiwa virus N1H1 yang dimulai dari AS. Orang yang terinfeksi mencapai 1,6 juta di seluruh dunia dengan tingkat kematian 250 ribu orang. Fatality rate 17%.
Saat meledak virus N1H1 pada 2009 lalu, AS tidak sesigap China menghandle penyebaran virus. Tidak ada kota di AS yang dilockdown. Makanya virus tersebut melanda hampir semua negara di dunia.
Bagaimana dengan dunia? Ekonomi China kini sebagai ekomomi terbesar kedua di dunia. Jangkauannya luas dengan ukuran besar. Tertekannya ekonomi China akan membuat dunia juga meriang. Harga minyak mentah turun. Banyak perusahaan dunia yang mengandalkan China sahamnya anjlok.
Bayangkan deh. Sebuah jaringan bisnis dunia yang selama ini cukup mengandalkan semilyar pembeli di China, tetiba memgalami gangguan. Itu sama saja kayak digetok martil kepalanya.
Pengusaha ritel seperti Walmart mengalami penurunan saham cukup serius. Demikian juga sektor otomotif, IT, dan ekspor-impor. Perusahaan penerbangan pusing tujuh keliling. Perusahaan wisata, hiburan juga ambyar.
Tekanan serius juga terjadi di Hongkong, Singapura, Taiwan, dan negara lainnya. Otomatis akan menambah lesu ekonomi dunia. Sebab kalau ekonomi mereka tertekan efeknya akan sangat terasa. Otomatis dunia juga tertekan.
Indonesia termasuk negara yang akan terkena dampak serius. Turis China yang dikenal agak royal kini menghilang dari Bali dan wilayah wisata lain. Hunian hotel menurun. Restoran sepi. Pendapatan anjlok. Jumlah turis China yang masuk Indonesia nomor dua terbesar setelah turis Malaysia.
Barang-barang impor dari China yang biasa memenuhi pasar kita juga mulai susah di dapat. Sementara ekspor bahan baku kita ke China stagnan. Akibatnya terjadi penurunan yang jika terjadi terus bisa menyebabkan PHK karyawan.
Si Dayat, buruh pabrik, akan menderita karena pabriknya yang selama ini ekspor ke China jadi sepi order. Dayat kena PHK. Anaknya Dayat gak bisa beli susu. Istrinya ngutang di warung. Padahal selama ini ia selalu ngotot mengazab-azabnya China karena virus Corona.
Ekonomi dunia disusun bagai lego. Menyambung yang satu dengan yang lain. Ketika sebuah negara sempoyongan, akan berdampak juga pada negara lain. Semakin besar kekuatan ekonomi negara tersebut, akan semakin kuat juga dampaknya.
Bagi Dayat yang proses evolusinya belum rampung itu, ketika China diserang Corona ia ketawa-ketawa. Malah kayak orang nyukurin.
Karena keterbatasan berfikirnya hanya sampai pada tahap, bahwa yang akan menderita adalah warga China saja. Ia tidak sampai berfikir, ujung dari peristiwa itu juga bisa membuatnya kena PHK. Anaknya kurang gizi. Dan warung di depan kontrakannya pusing karena istri Dayat gak bayar-bayar utang.
Logika Dayat sama kayak penumpang kapal laut. Ia tidak suka dengan kapten kapalnya. Saat lambung kapal tetiba bocor, ia langsung menuding, "Itulah azab yang turun menimpa Kapten kapal karena jahat kepadanya."
Ia hanya menuding. Sementara kapten kapal dan kru sibuk menambal kebocoran. Semakin besar lubang, Dayat makin senang. Ketika kapal akhirnya tenggelam, Dayat mati duluan. Ia gak bisa berenang.
Virus Corona adalah problem dunia. Dan sebagai warga dunia semua akan merasakan dampaknya.
"Mas, pemerintah sudah menutup penerbangan dari dan ke China. Mencegah virus Corona masuk," ujar Kumkum.
"Ya, itu untuk antisipasi Kum."
"Tapi katanya Menag mau memulangkan 600 orang ISIS. Mereka mau memasukkan virus khilafah yang dampaknya lebih ganas dibanding Corona," ujar Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer