PERANG MELAWAN VIRUS

PERANG MELAWAN VIRUS
Melacak Jejak Kampret di Virus Corona
Jakarta - Kota Wuhan, Tiongkok memang sedang khawatir dengan virus Corona. Tapi aktifitas di kota itu, biasa saja. Kebanyakan penduduk memang memilih tinggal di rumah. Aktifitas sementara dihentikan. Tapi bukan berarti diisolasi.
Pemerintah China memperpanjang libur Imlek. Yang biasanya seminggu mungkin akan lebih. Di Shianghai, jalan-jalan sepi. Orang memilih menghindari interaksi. Kerumunan orang tidak ada.
Sebuah virus telah memaksa jutaan orang terhenti aktifitas normalnya.
Virus Corona memang pandai bermutasi. Yang ditemukan saat ini kemungkinan besar adalah hasil mutasi dari genre virus jenis yang sama sebelumnya. Orang seluruh dunia panik. Memikirkan bagaimana menghindari ancaman ini.
Semua negara mengumumkan travel warning, khususnya ke kota-kota yang menjadi pusat penyebaran virus. WHO memberi perhatian serius.
Tapi, sebetulnya soal virus adalah peristiwa biasa. Saat ini virus influensa saja misalnya, setiap tahun membunuh 650 ribu orang di dunia. Bedanya kematian akibat Corona lebih cepat sejak menulari. Inkubasinya antara 7 sampai 14 hari.
Sebagai mahluk yang berinteraksi dengan mahluk lain, persoalan virus akan selalu terjadi. Manusia memikirkan vaksin pencegah. Virus melawannya dengan bermutasi. Begitu seterusnya.
Wajar kalau perusahaan farmasi makin berkembang. Manusia butuh obat baru untuk menyakit lama dengan sebab-sebab baru.
Virus adalah mahluk hidup juga. Yang secara alamiah akan beradaptasi apabila lingkungan berubah.
Kita gak perlu berspekulasi apakah penyebaran virus tersebut adalah rekayasa dampak perang biokimia. Baik kiriman dari luar maupun kebocoran di China sendiri. Kemungkinan itu bisa saja ada. Tapi bahwa kemampuan virus bermutasi secara alamiah juga bukannya tidak mungkin.
Sebaiknya kita sabar saja. Sebab dunia kita sebelumnya juga mengenal banyak wabah mengerikan. Tapi ilmu pengetahuan berhasil menghalaunya.
Dulu di Indonesia ada penyakit cacar api juga Polio. Dampaknya lebih dasyat. Kita sekuat tenaga memberantasnya dengan vaksinasi. Kini virus cacar sudah berkurang jauh akibat keberhasilan program imunisasi. Polio juga menurun.
Dunia juga pernah dihantam kolera, pes dan sejenisnya. Kemarin heboh ebola, HIV, SARS, MERS, flu babi, flu burung, virus onta, dan sebagainya. Ada korban, iya. Tapi, seperti juga virus yang pandai bermutasi, pengetahuan manusia juga berkembang untuk memeranginya.
Selama ini, manusia selalu menang. Peradaban tetap berjalan.
Yang paling tolol adalah orang yang teriak-teriak penyebaran virus ini dikaitkan dengan azab. Apalagi disambung-sambungkan dengan kondisi Uighur segala. Lha, MERS yang ditulari via Onta kok, gak dikait-kaitkan dengan kelakuan raja Saudi?
Jika mau menuding-nuding azab, biarlah sinetron yang membahasnya. Gak usah ikut-ikutan pekok.
Yang paling sial, mentang-mentang ledakan virus dimulai di Tiongkok, ada yang menyeret-nyeret isu rasial untuk mengomentarinya. Ini sih, keterlaluan. Sebab virus gak memandang ras. Mau China, bule, Arab, Sunda Empire atau keturunan Kadrun, tetap saja bisa jadi korban.
Intinya begini. Dunia sedang resah dengan aktifitas makhluk-makhluk mikro bernama virus. Tugas para ahli mikrobiologi dan farmasi menemukan penangkalnya. Tugas pemerintah dan badan-badan dunia mencegah penularannya.
Gak usah ditambah-tambah lagi dengan teori ini-itu, apalagi bawa-bawa agama dan ras. Selain gak ada ggunanya juga bikin tambah riweh.
"Mas, kakau virus khilafah, asalnya dari mana?, Dari kampret juga, ya?" tanya Abu Kumkum. Nah, itu lebih bahaya Kum. Merusak otak orang Islam.

0 komentar

Tulisan Populer