KAMAR JAGAL MULAI TERBUKA

Monas Banjir
Monas Banjir
Jakarta - Banyak pertanyaan, kenapa kok, proses penunjunkan Wakil Gubernur baru di Jakarta alot banget? Sudah hampir dua tahun Sandiaga Uno mundur sampai sekarang belom ada penggantinya.
Yang nikmati ya, Anies. Setidaknya dana operasional yang miliaran itu bisa dinikmati sendirian.
Menurut aturan, pengganti Sandi diajukan oleh partai pengusung, yakni PKS dan Gerindra. Keduanya ngotot, bukan hanya posisi Wagub itu basah. Tapi suasana politik Jakarta yang membuat Wagub jadi strategis.
Usulan dari Gerindra ada dua yang menonjol, Ernst Lukman, seorang pengusaha dan konsen pada pembangunan pesantren di Sumut dan Riza Patria, anggota DPR. Sedangkan PKS mengajukan Nurmansyah Lubis.
Kita gak tahu model deal-dealan apa yang terjadi. Faktanya sampai saat ini belum diputuskan siapa yang akan dapat tiket.
Saya beranggapan kenapa posisi Wakil Gubernur ini strategis, karena kerja Gubernur makin ngaco. Beberapa aturan ditabraknya.
Lihat saja, Anies mengangkat seorang terpidana kasus penipuan jadi Dirut Transjakarta. Usianya cuma empat hari.
Pasalnya publik dan Ombusman RI membongkar ternyata Donny Saragih adalah terpidana penipuan. Pengangkatan itu jelas melanggar aturan. Empat hari kemudian, Donny dicopot lagi.
Yang kedua, dan ini agak parah, soal revitalisasi Monas. Proyek senilai Rp71 miliar yang dimenangkan kontraktor yang gak jelas. Kantornya entah dimana. Kemampuannya juga meragukan. Dan belum apa-apa sudah main bongkar Monas, menebangi pohon, dan bikin kacau.
Dilalah, ternyata kawasan Monas itu wewenang Setneg. Dan Pemda DKI ketika menyetujui kerja kontraktor, belum meminta izin ke.Setneg.
Baru setelah ramai, Pemda.DKI menulis surat. Ujungnya ditolak. Setneg meminta aktifitas pembongkaran Monas dihentikan.
Artinya Pemda DKI menggelar lelang proyek untuk wilayah yang bukan wewenangnya. Tanpa ada pemberitahuan kepada Setneg. Apalagi kemampuan pemenang proyek juga diragukan. Dan proyek dijalankan dengan melanggar aturan.
Wajar kalau banyak orang yang marah. Ketua DPRD DKI turun langsung ke Monas melibat keadaan yang amburadul. Ketua DPR Puan Maharani juga ikut komentar. Beberapa kader Gerindra kabarnya juga mulai nyinyir ke Anies.
Apa makna itu semua? Dengan seringnya melanggar aturan, sepertinya Anies membuka ruang untuk dimulainya impeacment di DPRD DKI. Sebagai Gubernur ia bisa diturunkan paksa. Alasannya karena sering melanggar UU.
Nah, kalau impeachment berhasil, yang akan naik jadi Gubernur adalah Wagubnya. Jadi paham kan, kenapa posisi Wagub DKI jadi strategis.
Mungkin saja, kalau Wagubnya dari Gerindra, motor penggerak impeachment itu adalah PDIP dan Gerindra. Sementara PSI yang punya kursi lumayan di DKI, sudah sejak awal kritis pada kecerobohan Gubernur.
Tapi tunggu dulu, Anies punya kekuatan. Ia punya amunisi besar buat melawan. Pundi-pundinya penuh. Itulah kekuatan yang real, yang paling ditakuti politisi.
Mungkin PKS, Demokrat, PPP dan PAN bisa berdiri di belakang Anies. Plus Nasdem yang memang sudah terang-terangan membela Anies. Bahkan mungkin kader Nasdem sekarang sudah lebih Anies dibanding Baswedan.
Tinggal posisi Golkar yang akan menentukan arah permainan politik di DKI.
Pintu sudah mulai terbuka. Blunder demi blunder terus dilakukan Gubernur yang sok tahu itu. Sengaja dan petantang petenteng ia seolah mau melawan kekuasaan pemerintah pusat. Padahal kerjanya amburadul.
Modal perlawanannya hanya memanipulasi isu agama dan amunisi yang segudang. Kita gak tahu gimana akhirnya.
Saya rasa, Gubernur juga makin mual menjelamg pemilihan Wagub. Kalau dihambat ia melanggar aturan. Ketika dibiarkan akan menerkam kepalanya juga.
"Gubernur pengganti Anies, enak ya mas. Kerja sediikit saja, prestasinya langsung menonjol. Soalnya dia menggantikan orang yang gak bisa kerja tapi ngeyel," kata Abu Kumkum.
Iya, Kum. Yang apes Anies. Ia menggantikan Ahok yang workoholik. Yang sanggup bekerja smart. Jadi keliatan banget, kucluknya..

0 komentar

Tulisan Populer