Seperti Biasa, Sesama Gerombolan Saling Membela

#Uyghur
#SaveUighur
Jakarta - Di Xinjiang, sebagian besar suku Uighur hidup normal-normal saja. Mereka bertani atau berdagang. Menjalankan agamanya seperti kita. Masjid dan musholla berdiri. Gak ada yang aneh.
Hanya saja, kebanyakan orang Uighur gak bisa bahasa Mandarin. Padahal di China, bahasa umumnya menggunakan Mandarin. Warga Uighur punya bahasa sendiri, mirip bahasa Turk dan Kazak. Soal perbedaan itu yang sering membatasi orang Uighur untuk diterima sebagai pegawai negeri di China.
Sama kayak di Jawa. Ada masyarakat yang gak bisa bahasa Indonesia. Bisanya bahasa Jawa kromo. Kan repot kalau mau jadi pegawai negeri. Kalau mau berniaga ke seluruh Indonesia juga repot. Wong, bahasanya gak nyambung.
Makanya pemerintah China mengajarkan soal bahasa Mandarin kepada sebagian besar suku Uighur. Anak-anak dimasukan ke sekolah gratis. Itulah yang diklaim sebagai kamp konsentrasi.
Sebagian besar warga Uighur hidup biasa saja. Pemerintah China gak meribetkan apa agama masyarakatnya. Mau Islam, kek. Budha kek. Kristen kek. Atau gak beragama, emangnya gue pikirin. Konsentrasi pemerintah lebih pada menjaga harmonisasi kehidupan sosial. Dan juga pertahanan negara.
Masalahnya, ada sebagian warga Uighur yang bernuat sparatis, memisahkan diri dari China. Bikin negara sendiri. Slogan yang digunakan, mirip GAM di Aceh dulu, pakai alasan agama. Wong, GAM diperangi sama pemerintah Indonesia. Bukan karena agamanya. Tapi karena nafsu sparatisnya.
China juga begitu. Mereka menangani gerakan sparatis Uighur. Bukan karena agama Islam. Tapi karena menganggu stabilitas keamanan dalam negeri.
Dulu saat perang Afganistan, sebagian warga Uighur ikutan. Sama kayak alumni Afghanistan di Indonesia, mereka kembali ke China dengan semangat jihad membara. Merekalah yang mencetus kerusuhan bernuansa agama dengan suku Han di Xinjiang.
Mereka juga menyebarkan semangat agama yang penuh kebencian. Menyatakan ingin mendirikan negera Uighur sendiri. Yang berlandaskan agama.
Ada ratusan ribu orang Uighur bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak. Sebagian ke Filipina, gabung dengan Abu Sayaf. Banyak juga yang ke Indonesia, gabung dengan JAD dan teroris Poso di bawah nauangan Santoso.
Di China sendiri, gerombolan ini juga menebar teror. Membuat kerusuhan etnis. Menyebarkan kebencian atas nama agama. Konflik sering terjadi di Xinjiang akibat ulah mereka.
Sementara sebagian besar orang Uighur ya baik-baik saja. Sama kayak di Indonesia. Yang ngaco dan tukang bikin rusuh ya, dia-dia juga. Mengatasnamakan agama.
Sama kayak pemerintah Indonesia menangani teroris, pemerintah China juga memerangi terorisme yang muncul di negerinya. Tapi kondisi itu dispin, dengan alasan pemerintah China memerangi Islam.
Spin isu seperti itulah yang dilalap gerombolan pengasong agama disini. Para pengepul sedekah senang, karena bisa jualan program save Uighur. Para pengasong agama gembira, karena bisa menjual penderitaan muslim sekaligus memicu kebencian rasial disini.
Apa sih, yang gak dijual oleh mereka?
Semua isu dan kesempatan untuk bikin ribut pasti dimanfaatkan. Tujuannya ya, agar bangsa ini ribut terus. Belagak membela kemanusiaan. Padahal mah, bangke.
Di depan matanya, warga Sumbar di Kabupaten Dharmasraya dan Sijunjung gak bisa melaksanakan Natal. Gak dikasih izin. Tapi toh, mereka justru senang. Boro-boro protes.
Kemanusiaan macam apa yang diperjuangkan. Kemanusiaan yang membelah orang berdasarkan agama dan keyakinan?
Ini bukan membela kemanusiaan. Tapi membela egoisme beragama yang sempit dan norak. Lebih tepatnya, dalam kasus Uighur, membela gerombolan sejenis yang memanfaatkan agama untuk politik.
"Intinya, mas. Para teroris akan sibuk membela teroris lainnya. Dengan terus menunggangi agama," begitu kesimpulan Abu Kumkum.
Pinter...

0 komentar

Tulisan Populer