Natal
KOREK API TERAKHIR
Jakarta - Angin Desember berhembus dingin. Udara menusuk tulang. Cemara memutih seperti rambut kakek yang dipenuhi uban. Salju bagai sajadah putih terhampar di jalan.
Gadis kecil itu berjalan sendirian. Melalui rumah-rumah yang di dalamnya perapian menghangatkan penghuninya. Ia mendengar celoteh anak-anak yang berkeliling di bawah pohon, di ruang tamu sebuah rumah, dengan hiasan manik-manik. Sepertinya mereka berebut kado dari orangtuanya.
Ketika melintasi rumah lainnya, dari kaca jendela luar, ia menyaksikan satu keluarga sedang duduk di meja makan. Dengan hidangan. Dan doa yang dipanjatkan untuk mereka yang bersyukur dapat makanan mewah malam itu.
ia tahu. Dalam doa yang diucapkan di meja makan. Tidak ada orang yang akan menyebut namanya. Mereka berdoa untuk diri sendiri. Mensyukuri nikmatnya sendiri.
Apakah malam ini ia pantas berdoa? Mengucapkan rasa syukur pada Tuhan atas malam yang dingin ini?
Ia tidak tahu rasa syukur apa yang harus dipanjatkan kepada Tuhan. Sedangkan perutnya lapar. Dan badannya menggigil menahan angin yang menusuk. Mantel rombengnya hanya memberi sedikit kehangatan. Sementara jari tangannya sudah keriput.
Mendengar anak-anak sesuainya yang beradu mulut berebut kado Natal di rumah-rumah itu, ia hanya bisa tersenyum getir. Ia ingat ibunya pernah memberikan kado sebuah boneka yang dijahit sendiri. Dari kain-kain perca bekas robekan baju. Sayangnya mata boneka itu sudah hilang ketika dulu ia mainkan.
Tapi itu adalah kado Natal terindah selama hidupnya. Mungkin satu-satunya kado Natal yang pernah diterimanya.
Sedangkan bapaknya sudah lama mati. Mati kekroyok warga ketika ketahuan mencuri kambing. Nyawa bapaknya tidak lebih mahal dari seekor kambing yang dicurinya. Tidak lama dari kejadian itu. Ibunya juga mati. Diterjeng kolera.
Apakah di langit sana, ibunya sedang melihat dirinya yang menggigit sendirian di kota yang muram ini?
Gadis itu duduk, merapatkan diri di emperan. Ia memuluk dirinya sendiri. Menahan dingin. Menahan lapar.
Di tangannya hanya tersisa beberapa batang korek api. Hanya itulah benda yang diandalkan untuk mengusir dingin. Dia menyalakan. Apinya kecil. Tangannya yang mungil merusaha melingkupi nyala api itu, untuk menghangatkan sekadarnya.
Tapi angin menusuknya terlalu dalam. Dalam sekali.
Kini di tangannya hanya ada sisa satu korek api. Korek api terakhir yang bisa menghangatkannya. Sementara dingin belum juga berkurang. Bintang malas bersinar dan bulan muram di malam itu.
Ia bangkit. Menyeret kakinya. Melewati kota yang diam. Hanya terdengar sayup-sayup tawa dan celoteh riang dari rumah-rumah yang dilewatinya.
Kakinya mulai berat. Tapi ia hanya bisa terus berjalan. Di ujung sana ada stasiun pengisian bahan bakar. Sepi.
Ia mendekati stasiun itu. Tangannya yang mungil meraih selang bahan bakar. Ia menekan tuasnya, hingga bensin keluar seperti air mancur. ia semprotkan ke sekeliling. Ke kendaraan yang diparkir. Ke pohon-pohon yang diselimuti salju. Ia membanjiri semuanyanya dengan bensin.
Lalu, kressss!
Dinyalakan korek api terakhirnya.
Dan malam itu, adalah malam Natal terindah yang dialaminya.Cahaya berpendar dimana-mana. Sekujur tubuhnya berubah hangat. Hangat sekali.
Di ujung jalan, ia melihat ibu dan bapaknya sedang tersenyum karena keisengannya...
(diubah dari dongeng HC Andersen)

0 komentar

Tulisan Populer