INDONESIA ADA FPI, BOLIVIA PUNYA FPK

Bolivia
Demo di Bolivia
EkoKuntadhi.id, Jakarta - Indonesia punya FPI. Bolivia punya FPK (Front Pembela Kristen).
Saat ini, negeri di benua Amerika itu sedang dilanda konflik. Mulanya adalah konflik Pemilu. Evo Morales, Presiden Bolivia berdarah Indian, hendak maju lagi dalam pemilu keempat. Padahal UU Bolivia hanya membatasi masa jabatan Presiden tiga kali. Ketika diajukan referendum terhadap UU tersebut, rakyat Bolivia menolak usulan Morales. Tapi tampaknya Morales ngotot. Ia menggugat melalui pengadilan. Hasilnya, Morales menang.
Tapi langkah Morales ini juga yang membuka kotak pandora. Demo anti Morales menyulut kerusuhan besar. Oposisi yang digerakkan oleh politisi sayap kanan, memakai jargon 'Kristen' untuk menentang Morales. Selain soal referendum, mereka menggunakan tuduhan Morales yang berdarah Indian, sebagai penyembah berhala.
Pemimpin gerakan anti Morales adalah Luis Fernando Camacho, seorang miliarder Kristen fundamentalis. Ia punya ikatan dengan gerombolan para militer Santa Cruz Youth Union (UJC). Gerombolan ini punya reputasi kekerasan rasial. Sama seperti gerombolan pengasong agama di Indonesia.
Konflik yang diinisiasi Fernando, pada akhirnya banyak memakan korban kaum Indian. Penduduk asli Bolivia. Kekerasan yang juga didasari pada slogan agama.
Ketika Morales menyatakan mundur sebagai Presiden Bolivia akibat tekanan oposisi, Fernando menyerbu istana Presiden. Disana ia meneriakkan 'Bolivia adalah milik Kristus'. Maksudnya untuk mengusir para pemimpin berdarah Indian dari Bolivia. Selain Fernando, ada juga Branko Marinkovich, saudagar kaya raya yang punya pandangan sama dengan Fernando.
Sebetulnya sejak Bolivia dipimpin Morales, ekonomi negara itu naik pesat. Tadinya negeri kaya sumber daya alam tersebut dikuasai para baron AS dan Spanyol yang habis-habisan mengeruk isi perut Bolivia. Kemiskinan dimana-mana. Bahkan perusahaan air minum dikuasai oleh AS, dengan tarif yang mencekik.
Morales hadir dengan semangat baru. Ia menghempaskan IMF, yang pura-pura jadi juru penolong padahal sesungguhnya adalah rentenir penghisap. Morales juga menasionalisasi perusahaan minyak dan gas di negerinya. Salah satunya yang jadi korban nasionalisasi adalah perusaan milik Branko Marinkovich yang ikut mendanai gerakan anti Morales.
Dengan begitu, Bolivia bisa mendapat hasil lebih banyak. Uangnya digunakan untuk mensejahterakan rakyat. Hasilnya sebelum 2004, saat Morales naik ke tahta Presiden, kemiskinan merupakan barang biasa di negeri itu. Tapi pada 2017, angka kemiskinan menurun drastis. Duit hasil alam yang sebelumnya dikuasai kapitalis AS dan Spanyol, kini bisa dinikmati oleh rakyat miskin.
Penduduk asli berdarah Indian yang selama ini bergelimang dengan kemiskinan merasakan Morales sebagai pahlawan. Tapi tidak demikian dengan masyarakat kelas tengah, yang banyak diuntungkan dengan bisnis hangki-pengki, bekerjasama dengan kekuatan asing.
Dengan menggunakan jargon agama Kristen, kaum Kristen fundamentalis berusaha memecah Bolivia. Rakyat miskin berdarah Indian, dituding 'kafir' dan anti-Kristus. Mereka diledek sebagai penyembah setan.
Pengamat internasional Dr. Dina Sulaeman menelaah, bahwa sebetulnya akar masalah Bolivia adalah ditemukannya ladang Lithium besar-besaran. Lithium adalah zat baru yang akan menentukan masa depan dunia. Industri mobil listrik sangat bdergantung pada Lithium untuk baterainya. Demikian juga dengan segala bentuk perangkat mobile.
Nah, potensi ladang Lithium di Bolivia menurut informasi mencapai 40% lebih dari seluruh kebutuhan dunia. Potensi inilah yang membuat AS dan para kapitalis dunia ngiler. Mereka ingin Bolovia kembali seperti dulu, ketika mereka bisa seenaknya menikmati kekayaan negeri itu.
Apalagi Morales lebih suka berdekatan dengan China dan Rusia untuk mengeksplorasi ladang Lithiumnya.
Jika Morales masih ada, tentus aja para baron AS dan Eropa tidak bisa merampok Bolivia seperti dulu. Wajar saja jika AS kemudian ikut terlibat dalam upaya menyingkirkan Morales dari negerinya. Isu agama (Kristen) dimainkan sebagai pemantik. Sama seperti di Indonesia, masalah agama dan rasial juga laku keras di Bolivia.
Tapi 'dosa' Morales bukan hanya itu saja. Morales adalah salah seorang pemimpin yang sangat gencar menentang pendudukan Israel di Palestina. Jadi posisinya sama seperti Basar Asaad di Suriah. :Pola penghancurannya juga sama persis.
Isu rasial dan agama menjadi pemicu. Madia-mafia dalam negeri, seolah datang sebagai wakil Tuhan untuk mengompori konflik rakyat. Padahal sesungguhnya mereka hanyalah kaki tangan korporasi dunia untuk merampok negerinya sendiri.
Di Indonesia, kita juga punya ladang nikel sebagai bahan dasar baterai Lithium di Morowali, Sulawesi. Kini pabriknya sedang dibangun. Bedanya Indonesia mengundang seluruh investor untuk memanfaatkan potensi besar ini. Selain perusahaan China, pengusaha dari Korea, Jepang, Eropa dan AS juga ikut terlibat.
Tapi, itu saja sempat jadi isu yang digoreng habis-habisan. Soal serbuan tenaga kerja asal China di Morowali pernah mencuat. Diramaikan para Kadrun. Bisa jadi, isu itu hanya sekadar cara untuk menguasai kekayaan Indonesia habis-habisan dan mengusir investor asal China. Kebetulan para pengusaha China memang lebih dulu berkomitmen untuk membangunnya.
Indonesia memang punya stok orang-orang tolol yang gampang dibayar dengan nasi bungkus. Makanya isu tenaga kerja China pernah begitu semarak. Padahal arahnya agar terjadi gonjang-ganjing di Morowali. Investor China hengkang, lalu para baron AS dan Eropa datang dengan tawaran murah. Lalu kita cuma dapat ampasnya saja.
Bolivia dan Morales bisa menjadi pelajaran, bahwa rakyat yang mabuk agama memang mudah dimanfaatkan untuk merusak negerinya sendiri.
Kalau di Indonesia, yang lagi ramai adalah para pengasong agama menolak Ahok untuk membenahi Pertamina atau BUMN energi lainnya. Mungkin karena para mafia minyak khawatir rezekinya disumbat kalau Ahok jadi Dirut perusahaan minyak negara.
Orang bodoh, memang sangat bermanfaat, jika dipergunakan sesuai dengan kebodohannya. Di Bolivia. Di Suriah. Di Libya. Atau di Indonesia. Keberadaan mereka selalu membahayakan.
"Indonesia sama Bolivia, beda mas. Di Bolivia pendukung Morales tidak diancam jenazahnya tidak akan disholatkan," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer