CURCOL AGNEZ, SALAH MAKSUD

Agnes Mo
Agnes Monica
Jakarta - Ada teman yang hubungi saya. Menanyakan, kenapa saya malah sibuk membahas Miyabi. Padahal yang sedang ramai adalah soal statemen Agnez Mo.
Saya hanya tersenyum. Saya merasa statemennya itu gak terlalu menarik untuk dibahas. Wong, statemennya salah.
"Salahnya dimana?," tanya teman itu.
Begini. Pertama, apa yang disampaikan Agnez bahwa dia gak punya darah Indonesia. Itu sedikit aneh. Karena kalau mau ditelusuri, kita sendiri gak tahu sebetulnya siapa sih, yang punya darah Indonesia asli? Apakah sih, Indonesia itu?
Indonesia sejatinya adalah sebuah kesepakatan kita untuk mengikatkan diri dalam sebuah organisasi yang bernama negara. Namanta Indonesia.
Jadi Indonesia bukan sebagai simbol garis keturunan. Anda bisa saja dilahirkan di Rwanda. Punya bapak berdarah Sunda, emak orang Uzbekistan. Tapi Anda memilih menjadi WNI. Dengan begitu Anda adalah bagian syah dari Indonesia.
Agnes Mo juga begitu. Identitas administrasinya adalah Indonesia. Sebab Indonesia memang sebagai label identitas administratif. Bukan identitas ras. Padahal ketika ia bicara soal garis keturunan --Agnez membahasakan dengan darah-- ia sedang bicara ras. Bukan bicara hal administratif. Jadi ketika Agnez ngomong darahnya bukan Indonesia, dia salah definisi.
Jika saja dia bicara, darah saya bukan darah Melayu atau Sunda atau Minang atau Jawa. Atau Bugis atau Batak. Itu lebih tepat.
Indonesia adalah kumpulan dari semua suku itu. Termasuk juga suku Tionghoa, Arab, Eropa yang orang-orangnya mengikatkan diri secara administratif dalam negara Indonesia. Mereka menjadi WNI. Menjadi bagian syah dari Indonesia.
Saya rasa statemen Agnez didasari pada suasana psikologis sindrom minoritas. Secara garis keturunan, ia Tionghoa. Ia juga penganut Kristen. Sebagai informssi, jumlah WNI berdarah Tionghoa sendiri sebesar 1,2% dari total penduduk.
Jumlah itu hampir setara dengan WNI berdarah Papua atau berdarah Makasar asli. Bedanya masyarakat Papua kebanyakan mendiami lokasi yang sama. Jadi perasaan sebagai minoritas gak terlalu muncul. Sedangkan etnis Makasar sebagian besar beragama Islam, agama yang dianut 85% penduduk Indonesia. Juga tidak merasa minoritas.
Beda dengan Agnez Mo. Populasi etnis Tionghoa tersebar dari Sabang sampai Marauke. Artinya suasana kebatinan Agnez yang berdarah Tionghoa, merasa minoritas lebih terasa, karena hidup di tengah suku mayoritas lainnya.
Saya sendiri sebetulnya gak suka memakai kategori minoritas mayoritas. Sebab tidak ada yang mayoritas murni atau minoritas murni. Semua orang minoritas, sekaligus mayoritas. Semua bergantung pada tempat saja.
Di Indonesia, Agnez bisa merasa minoritas. Tapi kalau masuk ke Glodok atau Taman Anggrek, saya justru merasa minoritas.
Rasa mayoritas dan minoritas ini akibat narasi politik kita saja. Karena membawa-bawa soal etnis dan agama yang membahayakan. Dengar saja pidato Anies Baswedan saat setelah dilantik soal pribumi. Kita tahu kemana arah pidato itu ingin diarahkan.
Sebagai Tionghoa dan Kristen, saya rasa suasana kebatinan itulah yang ingin diungkapkan Agnez dalam wawancaranya. Meski, dia salah mempersepsikan tentang darah Indonesia.
Jadi statemen Agnez bukan soal dia tidak nasionalis. Atau tidak cinta Indonesia. Itu gak ada hubungannya. Ia hanya perempuan berdarah Tionghoa, Jepang dan Jerman. Yang beragama Kristen. Dan sedang mengungkapkan suasana batinnya sebagai WNI.
Tapi bagi saya, curhatan itu biasa saja. Meski Agnez Mo merasa minoritas, toh dia juga harus jujur. Segala keberhasilannya sekarang mengakar dari Indonesia. Bahwa Indonesia yang di diami Agnez telah menghantarkannya menikmati kesuksesan seperti sekarang.
Artinya, bagi masyarakat Indonesia kebanyakan. Agnez Mo bukan orang 'lain'. Publik Indonesia menerima Agnez Mo. Suaranya. Gayanya. Hidupnya. Dan segala kelebihanya diapresiasi. Makanya ia bisa menikmati kesuksesannya sampai sekarang. Sebagai penyanyi Agnez Mo bukan minoritas.
Curhat dalam wawancara itu. Cuma menunjukan Agnez lagi baper.
Mungkin hanya secuil orang yang menilai kualitas suara penyanyi dari apa agamanya. Atau dari apa etnisnya. Hanya Kadrun garis keras, kemudian dimandiin air keras, yang bisa berfikir begitu.
Tapi curhatan Agnez itu gak punya dampak apa-apa. Dia bukan pejabat publik. Ia gak punya kekuasaan untuk mengintervensi keyakinan orang lain. Akan lain kalau yang bicara soal itu Gubernur DKI misalnya. Atau Ahok. Atau Rizieq. Mungkin saya akan mikirin untuk meresponnya.
Makanya tadi saya lebih suka membahas Maria Ozawa, yang mendukung Timnas PSSI. Mungkin karena Maria masih polos. Jadi menarik untuk dibahas. Semoga Mia Khalifah nanti mengikuti langkah Ozawa, mendukung Timnas Indonesia.
"Mas, diantara cowok-cowok bertampang jelek. Aku kok, selalu merasa sebagai minoritas ya?," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer