Abdul Somad
Abdul Somad
EkoKuntadhi.id, Jakarta- ”Kum, Somad nyuruh jemaahnya untuk belanja di warung Islam."
"Emang warung punya agama, mas?"
"Mungkin maksudnya warung yang dimiliki orang Islam."
"Jadi sebelum belanja nanya dulu agama pemilik warung?"
"Ya, liat dari tampilannya aja. Kan keliatan Kum."
"Distributor barang-barang warungnya harus Islam juga?"
"Iya kale..."
"Produsen yang memproduksi barang di warung, harus Islam juga?"
"Gak tahu deh..."
"Kalau semua produsen barang dan distributornya harus seagama, warung itu isinya cuma dodol sama rengginang doang mas."
Ini mungkin yang namanya salah ukuran. Semua diukur dengan timbangan agama. Jadinya kacau.
Kalau mau makan di restoran, pertimbangannya itu rasanya yang enak, lokasi yang nyaman, harga terjangkau, ada diskon, pelayanan ramah.
Kalau mau cari bengkel, carilah yang montirnya yang piawai, harga sparepart murah, gak suka ngerjain konsumen, dekat dari lokasi.
Wong, kalau mau cari istri atau suami aja juga gak cukup pertimbangan cuma seagama. Harus ada kualitas lain yang bisa nyambung agar hidup kita nyaman.
Sebagai cowok kamu mau istrimu seagama tapi suka geplakin kepala kamu dengan kasar? Atau hobi ngupil sembarangan di depan banyak orang? Kan malu.
Atau sebagai cewek, emang kamu mau punya suami seagama tapi tukang judi, bandar narkoba, atau pegangguran sekaligus pemalas?
Jadi seagama itu bahkan bagi orang yang mau cari pasangan hidup aja bukan satu-satunya syarat. Syarat penting justru ada pada kualitas individu pasangan.
Masa mau belanja ke warung, pertimbanganya harus seagama. Cuma satu syarat saja. Itu namanya dodol, salah menggunakan ukuran.
Pertimbangan seagama itu kalau kita mau sholat berjamaah. Jangan cari imam yang Kristen atau Hindu atau Buddha. Carilah imam sholat yang muslim.
Kalau belanja di warung sih, pertimbangannya beda lagi. Soal harga. Layanan. Ramah apa.gak. Jauh deket jarak. Bersih. Barangnya bagus. Ketika dia menimbang barang gak korup.
Jadi apa urusannya dengan agama si pemilik?
Begini. Kalau mau warung yang dimiliki umat Islam maju, ajarkan mereka berusaha yang baik. Jujur. Tidak mengurangi timbangan. Ramah pada pelanggan. Tabung keuntungan untuk membesarkan usahanya. Layani pelangganya dengan baik apapun agamanya. Begitulah cara agar pengusaha muslim maju.
Bukan malah dengan jualan agama.
"Iya, mas. Itu sama saja orang mau beli mobil mintanya harga perkilo," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer