POLITIK ITU CAIR, KITA TETAP PADAT

Anies Baswedan
Anies Baswedan dan Politikus
EkoKuntadhi.id, Jakarta - Politik itu cair, seperti sirup. Jangan kaget kalau Nasdem kini sedang bermesraan dengan Anies Baswedan. Jangan heran juga jika komposisi kabinet mendatang ada kader Gerindra yang nimbrung jadi menteri.
Megawati dan Surya Paloh menunjukan perseteruan yang terbuka. Kabarnya Mega sebel, dengan tangan Kejaksaan Agung, Paloh berhasil menggiring banyak kepala daerah dari PDIP berlabuh ke Nasdem.
Bukan hanya kepala daerah, tetapi sampai ke kepala desa juga digarap. Suara Nasdem pada Pileg kemarin naik signifikan. Sementara suara PDIP hanya naik sedikit.
Ridwan Kamil yang dulu terlihat sempat bermesraan dengan PDIP, tahu-tahu dicomot Nasdem. Di Jabar, PDIP akhirnya terpaksa mencalonkan orangnya sendiri yang secara hitung-hitungan politik gak mungkin menang.
Gaya Nasdem memang begitu. Mereka berani berinvestasi kepada orang-orang yang diperkirakan punya elektabilitas bagus. Gerakannya lincah. Berbeda dengan PDIP yang sering menunggu waktu lama untuk mengambil sebuah keputusan politik.
PDIP membuka dialog dengan Gerindra. Prabowo datang ke istana, selfie bareng Jokowi. Diperkirakan Gerindra akan masuk koalisi pemerintah. Nasdem sepertinya agak sensitif. Bisa bekurang jatah kursinya nanti. Lalu mulai membuka hubungan dengan Anies yang diperkirakan memiliki basis pendukung besar.
Apa maknanya bagi kita?
Sekali lagi, politik itu cair seperti sirup. Soal-soal seperti ini biarlah menjadi mainan para elit. Bukan urusan kita.
Yang kita tahu hanya satu, siapapun yang berdekatan dan mendukung kelompok radikal adalah musuh kita. Siapapun yang bermesraan dengan para pengusung khilafah harus kita lawan. Siapapun yang memberi ruang pada politisasi agama harus kita hadapi.
Biarlah Nasdem dengan gayanya. Biarlah Gerindra merapat ke istana. Biarlah PDIP dengan langgamnya, Kebanyakan kita bukan pendukung buta partai politik. Kita gak punya urusan dengan pembagian kekuasaan dan kursi.
Urusan kita hanyalah bagaimana memastikan negeri ini terlepas dari lilitan gerombolan yang menggunakan agama sebagai tunggangan politiknya. Urusan kita hanya memerangi siapa saja yang mau membangun gaya politik eksklusif.
Agama harus ditarik lagi sebagai basis moral. Bukan sebagai tunggangan politik. Masjid harus dikembalikan fungsinya sebagai tempat membina akhlak umat, bukan tempat menyebarkan kebencian. Pengajian harus kembali menjadi tempat menuju Tuhan, bukan sarana agitasi.
Politik memang cair. Tapi keyakinan kita pada pluralisme Indonesia harus terus mengeras. Padat. Jangan goyah.
Politik memang cair. Tapi musuh kita tetap sama. Gerombolan pengasong khilafah dan para teroris yang hendak memporakporandakan negeri ini. Siapa saja politisi yang berdiri bersejajar dengan gerombolan ini, dialah yang harus kita perangi.
"Politik memang cair, mas. Tapi pertemanan kita tetap abadi. Bayarin dulu soto mienya ya, mas," ujar Abu Kumkum ketika sarapan tadi di warung soto mie.
Huassyuuu..

0 komentar

Tulisan Populer