PIDATO JOKOWI DAN ORANG YANG MEMATIKAN TV

Pelantikan Jokowi
Pelantikan Presiden Joko Widodo
EkoKuntadhi.id, Jakarta - Pidato pelantikan Presiden Jokowi langsung menggebrak. Ia masih terus meneriakkan reformasi birokrasi dan membuang cara-cara lama. Saya menduga, ketika mendengar pidatonya ini, para PNS banyak yang panas dingin.
Berbagai nomenklatur kementerian dan lembaga, kabarnya mau dirombak. Jabatan birokratis berupa eselon I, II, III sampai empat bakal dipangkas. Digantikan dengan hanya dua level saja. Selebihnya akan dikedepankan pertimbangan kemampuan dan fungsional.
PNS yang keberatan perut maupun keberatan jenggot, mungkin akan sebel. Mereka harus bersaing dengan tenaga-tenaga muda yang energik dan fokus prestasi.
Mereka dituntut untuk berorientasi hasil. Bukan hanya sekadar proses. Seperti ketika mengirim WA, bukan hanya sekadar sudah send. Tapi dipastikan juga apa sudah terdeliver. Apa sudah dibaca pesannya.
Artinya kerja birokrasi bukan hanya melulu send. Sekadar sudah dikerjakan. Tetapi apakah hasilnya buat rakyat. Apa manfaatnya.
Percuma dana dihabiskan untuk satu program jika hasilnya tidak dapat dirasakan rakyat. Hasil nyata itulah yang jauh lebih penting dari sekadar mengerjakan tugas.
Sekali lagi, Jokowi akan fokus pada pembangunan SDM. Bonus demografi yang besar harus didayagunakan. Rakyat Indonesia harus dibangunkan. Harus diajak mengarungi kompetisi global. Jangan lagi dibiarkan anak-anak muda diseret arus tidak produktif.
Tapi bisakah itu dicapai? Jawabannya akan bergantung pada para pembantunya. Karena itu, susunan kabinet Jokowi harus menampilkan orang-orang ngototan yang tidak terbawa arus birokrasi. Para profesional sekaligus punya jiwa pendobrak. Para leader yang penuh inovatif. Bukan hanya para politisi karbitan yang sibuk mikirin kursi.
Disinilah masalahnya. Dalam penyusunan kabinet, tentu saja harus ada berbagai kompromi. Partai pendukung maupun partai yang baru saja bergabung perlu diberi kepercayaan.
Tapi, tentu saja, semua menteri harus punya satu loyalitas saja. Ketika mereka menjadi menteri, loyalitas utamanya pada negara. Diterjemahkan sebagai loyalitas pada Presiden.
Bukan loyalitas pada partai dengan segala kepentingannya.
Visi besar Jokowi untuk membawa Indonesia melepaskan diri dari jebakan pendapatan menengah harus diwujudkan. Ini adalah PR kita semua. Dan kita percayakan Jokowi menjadi nahkodanya sekarang.
Jangan pedulikan mereka yang mematikan TV-nya karena ogah melihat kenyataan. Biarkan mereka masuk ke dalam almari untuk menutup mata dan telinganya. Mereka adalah orang yang ketakutan menghadapi kenyataan.
Jangan pedulikan gerombolan pengasong agama yang mau merusak bangsa ini. Mereka adalah para pecundang yang sibuk beronani dengan imajinasinya sendiri untuk menegakkan khilafah. Sementara Indonesia sudah mau berlari menyongsong masa depan.
Kita gak punya waktu untuk mengurusi para tumbila itu. Biarkan mereka sibuk di kegelapan mencari-cari celah untuk menelurkan bau busuknya. Anggap saja mereka adalah bagian dari peradaban yang hampir punah.
Kita juga tidak pusing dengan orang yang masih berkoar-koar dari Saudi soal Pilpres. Wong Jokowi sudah dilantik dan semua rakyat menyambutnya. Bukan hanya rakyat Indonesia. Dunia juga sudah mengakui keabsahannya sebagai Presiden Indonesia.
Jika orang itu masih terus jejeritan di Saudi, anggap saja dia lagi mimpi buruk diseruduk kambing. Siram dengan air, agar dia terbangun dari mimpinya dan melihat kenyataan.
Tidak cukup mereka matikan TV untuk menolak Jokowi. Mereka juga harus matikan HP. Harus matikan radionya. Harus menutup telinganya mendengar lagu Indonesia Raya dikumandangkan.
Mereka harus masuk ke gua, dalam gelap, saling berangkulan menangis pilu. Tapi Jokowi tetap Presiden Indonesia.
Orang-orang yang dibesarkan dengan kebencian, selalu hidup penuh kebencian. Mereka akan berusaha merusak tatanan yang ada.
Kadang tanaman bagus juga siserang hama. Semprot dengan pestisida. Jika bertemu dengan orang seperti itu. Angkat tanganmu. Acungan jari tengahmu.
"Jari tengah doang, mas?"
Yeaah...

0 komentar

Tulisan Populer