APBD JAKARTA PERLU DISERIT

APBD DKI Jakarta
APBD DKI Jakarta
EkoKuntadhi.id, Jakarta - Hidup foya-foya. Mati masuk surga. Sepertinya itu adalah motto DKI Jakarta sekarang. Gimana gak foya-foya. Budget untuk membeli pulpen saja, dianggarkan Rp 123 miliar. Dengan budget sebanyak itu, bukan hanya bisa beli pulpen, tapi kayaknya bisa membeli pabriknya sekalian.
Yang menarik, untuk anak didik di Jakarta Barat, dianggarkan dana untuk membeli lem Aibon Rp 82,8 miliar. Bayangin. Kalau rata-rata harga lem Aibon sekilo Rp 60 ribu, ada 1,3 juta kaleng lem yang mau dibeli?
Masa siswa-siswa di Jakarta Barat mau disuruh ngelem semua?
Jangan suudzon dulu, mungkin saja lem itu digunakan buat menempel tenun kebangsaan yang terkoyak-koyak. Kita mana tahu.
Bayangun kalau ini terjadi dijaman Ahok. Anggaran kayak gini akan dapat catatan: Mau Ngelem Nenek Lu!
Ini satu lagi yang seru. Kasus kemarin ketika istri Walikota Jakbar menginformasikan bahwa ada penduduk yang BAB masih di kali. Lalu, saking baiknya, Pemda DKI menganggarkan uang Rp 166 miliar untuk membangun 30 WC umum. Iya. Rp 166 miliar!
Kalau dihitung setiap WC kebagian Rp 5,5 miliar. Kebayangkan, WC umum seperti apa yang akan dihadirkan dengan biaya sampai Rp 5,5 miliar?
Kita gak tahu, apakah WC itu nantinya dilengkapi alat peredam kentut. Jadi saat ada masyarakat yang diare nongkrong di WC, tidak akan terdengar bunyi apa-apa. Sunyi senyap.
Mungkin juga nanti WC tersebut akan dilengkapi home theater, fasilitas karaoke bersama pandu lagunya dan Wifi gratis. Ini akan membuat kegiatan BAB menjadi lebih bermakna. Mottonya: Marilah boker dengan santuy.
Cukup? Belum.
Pemda DKI tampaknya juga menganggarkan biaya untuk pembuatan jalur sepeda Rp 73 miliar. Cara membuat jalurnya cukup dengan mengecat jalan. Gak perlu ada pembangunan apa-apa.
Wuihhh.
Sayangnya, menurut Sekda DKI Jakarta, ketika menandatangani anggaran foya-foya seperti itu, Gubernur tidak membaca semuanya. Berbeda dengan Ahok dulu. Dia sampai 3 hari menyisir anggaran Pemda DKI. Hasil sisirannya pada 2016, DKI bisa menghemat sampai Rp 6,7 triliun.
Tapi mau gimana lagi. Sekarang Gubernurnya gak demen nyisir. Akibatnya anggaran DKI penuh foya-foya.
Sesuai dengan motto, muda foya-foya, mati masuk surga. Gak penting anggaran bengkak kayak orang beri-beri, yang penting pemimpin seiman.
Kayaknya benar seruan Mendagri Tito Karnavian, agar anggaran-anggaran Pemda perlu disisir ulang. Karena banyak yang ngaco dan menghambur-hamburkan duit rakyat.
"Untuk kasus Jakarta, kayaknya gak cukup disisir mas," ujar Abu Kumkum.
"Harus diapain Kum?"
"Wajib diserit. Biar kutunya ketangkep!"

0 komentar

Tulisan Populer