Jokowi
Jokowi
EkoKuntadhi.id, Jakarta - Dunia sedang krisis. Negara Amerika latin sudah duluan meriang. Venezuela kejang-kejang. Brazil dan Argentina step.
Krisis juga mampir ke Eropa. Yunani sudah lama megap-megap. Perancis dan Jerman siap-siap ikat pinggang. Kini Turki terjun bebas.
Di Timur Tengah, Saudi sedang menjajakan kebijakan terbuka. Abaya tidak wajib. Clum malam tumbuh. Di pantai, perempuan boleh berbikini. Tujuannya agar dipandang sebagai negara terbuka. Ujungnya menarik investor asing sambil menjajakan Aramco, perusahaan minyak milik kerajaan. Sebab duit minyak sudah habis buat perang Yaman dan menghancurkan Suriah.
Saudi sedang berbenah menghapuskan kecupetan. Perempuan mulai bebas berpakaian. Eh, perempuan Indonesia malah mau pakai cadar.
Perang dagang AS-Cina juga jadi faktor memperparah. Pertumbuhan Cina menurun drastis. Banyak pabrik yang direlokasi ke luar. Sialnya, Indonesia gak kebagian. Mereka lebih memilih Vietnam, Thailand dan Malaysia.
Ekonomi Singapura melempem. Diperkirakan hanya bisa tumbuh 0%. Bahkan ada yang bilang sudah negatif.
Padahal Singapura adalah negara yang paling banyak menanam investasinya di Indonesia. Bagi Indonesia persoalan sudah di depan pintu. Bahkan sudah sampai ke ruang tamu.
Dalam kondisi begini, pertumbuhan ekonomi harus tetap dipertahankan. Caranya dengan menjaga konsumsi masyarakat, berhemat impor barang dan mendapatkan duit dari luar. Duit dari luar bisa lewat pariwisata, TKI dan investasi langsung.
Kita bedah. Komsumsi masyarajat hanya bisa terjaga kalau duit banyak beredar. Salah satunya serapan anggaran pemerintah harus memadai. Birokrasi cepat mengeksekusi pekerjaan.
Tapi birokrat malas. Mereka takut kalau berimprovisasi. KPK galak. Yang lempeng saja gak berani, apalagi yang mau belok-belok. Akhirnya mereka lebih baik diam, ketimbang beresiko. Akibatnya, serapan rendah. Duit gak muter.
Investor mau tanam uang, perlu kepastian hukum. Lagi-lagi banyak keribetan. Penegak hukum yang gegayaan seringkali mau mengobrak-abrik semuanya. Dunia melihat, Indonesia memang menjanjikan. Tetapi hukumnya gak bisa dipegang. Ribet deh, pokoknya.
Izin juga bermasalah. Tiap lembaga punya kekuasaan sendiri untuk mengeluarkan izin. Waktu terbuang percuma. Belum lagi Perda-perda yang dibuat daerah. Anggota DPRD yang cupet, malah membuat aturan yang menyusahkan investasi. Ditambah kepala daerah yang hanya mikir diri sendiri.
Bukan hanya itu. Buruh di Indonesia tukang demo. Tiap tahun minta kenaikan UMR agar bisa beli motor Ninja. Tapi produktifitasnya kacrut. Jauh sama buruh Vietnam yang tertib tapi upahnya sama dengan di Indonesia.
Politik juga tidak stabil. Kadal gurun berkeliaran. Isu agama merebak dan dijajakan. Berusaha jadi gak nyaman. Pengusaha asing ngeri masuk ke sini.
Jokowi sadar dengan situasi ini. Winter is coming, katanya. Tapi kebanyakan kita gak peduli. Padahal dalam kondisi begini yang diperlukan adalah kebersamaan, bergandengan tangan dan kerja keras.
Tapi orang tidak peduli. Masalah sudah di depan mata. Kita malah menimpakan semua beban di pundak Presiden.
Di Sumatera kebakaran hutan. Kepala daerahnya malah jalan-jalan ke luar negeri. Tapi LSM seperti Kontras mau menuntut Jokowi ke PBB. Padahal yang paling bertanggungjawab harusnya kepala daerahnya. Gendheng.
KPK juga gendheng. Ketika gonjang-ganjing. Novel Baswedan menembakkan peluru ke Jokowi. Agus Raharjo dan Laode M. Syarif, menyerahkan mandatnya ke Presiden. Padahal cuma gegayaan doang. Gak jadi mundur. Lagi-lagi sasarannya Jokowi.
LSM dan kutu air yang gak setuju revisi UU KPK, menyerang Jokowi. Majalah Tempo ikut mengompori. Padahal yang memilih Capim KPK adalah DPR. Yang mengajukan usulan revisi UU KPK adalah DPR. Tapi serangan diarahkan ke Presiden.
Bayangkan. Kita sedang dihantam badai krisis. Bukannya saling bergandengan dan kerjasama agar angin puting beliung tidak memporakporandakan kehidupan. Eh, malah ikut-ikutan membebani.
Sama seperti perahu sedang bocor, bukannya membantu menambal kebocoran. Eh, malah sibuk menuding-nuding nakhoda. Resikonya tenggelamlah, semua.
Jangan-jangan kita ini sebetulnya rakyat yang ngehek. Maunya dilayani dan hidup makmur. Tapi gak mau keluar keringat sama sekali. Semua hanya ditimpakan ke pundak satu orang : Jokowi.
Hanya wilayah yang rakyatnya gak banyak petakilan yang bisa survive.
"Mas, ke Saudi yuk. Liat perempuan gak pakai jilbab. Di Indonesia sudah susah cari yang gak berjilbab," ajak Abu Kumkum.
Apaan, sih..

0 komentar

Tulisan Populer