SIAPA PENGUASA DOMPET DIGITAL?

Gojek
Gojek
EkoKuntadhi.id, Jakarta - Gojek dan Grab rupanya bukan hanya bersaing dalam bisnis angkutan online. Aplikasi angkutan online itu hanya wadah saja. Persaingan sesungguhnya justru ada di bisnis dompet digital.
Inilah bisnis yang bakal mengelola duit triliunan. Dan sepertinya inti bisnis Gojek dan Grab akan ada di titik ini.
Gojek punya Gopay. Sampai saat ini membernya paling banyak diantara semua dompet digital. Di bawahnya ada OVO yang juga agresif. OVO tadinya dimiliki Group Lippo, tapi kini sudah banyak beralih ke Grab.
Untuk memenangkan persaingan, Grab membeli Dana, aplikasi dompet digital lain yang juga tampak agresif. Melalui pendanaan besar dari Softbank, Grab punya duit banyak buat membesarkan bisnis mereka di Indonesia.
Gabungan OVO dan Dana akan membuat Gopay langsung tersalip.
Saat ini kabarnya ada 26 perusahaan yang sudah mendapat lisensi mengelola dompet digital. Tampaknya untuk memenangkan persaingan, beberapa nanti akan dicaplok perusahaan lain yang sudah duluan membesar. Seperti ketika OVO mencaplok Dana.
Persaingan bisnis di Indonesia memang lebih terbuka. Meski Gojek perusahaan asli Indonesia, didirikan oleh putra-putri Indonesia, tetapi pemerintah dan masyarakat kita tidak pernah ada proteksi khusus kepada Gojek. Semua dibiarkan dalam persaingan terbuka. Ketika Grab, perusahaan asal Malaysia ini masuk, kita terima dengan asyik-asyik saja.
Berbeda saat Gojek mau masuk ke Malaysia. Ada resistensi dan masyarakat di sana. Kemarin bahkan seorang pengusaha taksi di Malaysia melecehkan Gojek sebagai produk Indon. Sebuah sebutan yang terasa sangat merendahkan.
Inti dari bisnis adalah persaingan atau perang. Ini dari perang adalah siapa yang punya peluru paling banyak. Grab dengan suntikan besar-besaran dari Softbank terus meningkatkan modalnya. Awalnya mereka mengakusisi Uber. Lalu memperkuat lagi dengan menggandeng OVO dan menguasainya. Kini ingin membesarkan lagi cakupannya dengan mengakuisisi Dana.
Grab dan Gojek boleh dibilang dua perusahaan digital raksasa terbesar di Asia Tenggara. Nilai Grab diperkirakan mencapai 14 milyar dolar AS. Sementara Gojek sedikit di bawahnya, 10 milyar dolar AS.
Kedua perusahaan itu, sampai sekarang terus bersaing dan saling mengganjal. Di Indonesia, tempat Gojek dilahirkan, persaingan itu sangat terasa kerasnya. Grab habis-habisan ingin menguasai pasar.
Di Malaysia, tempat Grab lahir, Gojek yang baru saja masuk dianggap masih anak bawang. Boro-boro bersaing. Beroprrasi saja masih banyak penolakan.
Kasian...
"Mau dompet digital atau dompet beneran. Gak penting mas. Yang penting itu isinya," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer