JUARIYAH DAN GARIS MERAH PUTUS-PUTUS

Eko Kuntadhi
Eko Kuntadhi
EkoKuntadhi.id, Jakarta - Di Sebatik, pulau kecil di Kalimantan Utara yang terbelah dua oleh garis merah putus-putus di atas peta. Ada wilayah Indonesia. Ada wilayah Malayasia. Saya menyaksikan betapa absurdnya sepatok tugu yang menandakan teritori.
Rumah sekaligus warung berdiri. Jika kita lihat dari atas peta, posisinya persis dibelah garis putus-putus merah. Memisahkan dua negara. Tapi tidak sanggup memisahkan sebuah rumah.
Rumah Juariyah. Ruang tamu di Indonesia. Dapurnya masuk wilayah Malaysia. Tapi bagi Ibu Juariyah, apa makna garis putus-putus merah itu?
Dia sering tidur di kamarnya. Kepala berapa di Indonesia. Kakinya menyentuh Malaysia. Dan esoknya ia bangun. Tetap seperti biasa. Pagi harus menyiapkan masakan untuk warung kecilnya. Menerima pelanggan yang menikmati kopi atau snack. Atau cempedak goreng.
Juariyah mungkin tidak tahu. Di seluruh dunia banyak darah tumpah hanya karena garis merah putus-putus. Persis garis yang melewati ruang tengah rumahnya. Militer dan alat perang di kerahkan. Biaya dikeluarkan. Seringkali dengan rasa sakit dan kesengsaraan. Sementara Juariyah santai saja. Menjual cempedak goreng dan mie instan, tepat di atas garis yang sering menjadi persoalan dunia itu.
Sebab bagi Juariyah bukan soal kekuasaan mana yang pantas mengklaim wilayah di atas peta di rumahnya. Baginya yang terpenting adalah siapa yang bisa memberikan kesejahteraan.
Ia menggunakan listrik dari PLN. Di HP-nya ada dua kartu. Operator Indonesia dan operator asal Malaysia. Warungnya menerima dua mata uang, ringgit dan rupiah. Dan saya, yang memesan mie instan sore itu, dipanggil Pak Cik oleh Bu Juariyah. "Pakai rawit, pak Cik?," tanyanya, ketika memasak mie untuk saya.
Suami Juariyah kadang berbelanja di Malaysia. Biasanya ia juga membawa barang dagangan ke sana. Ada ikan asin atau pisang. Berjualan di pasar di desa kecil Malaysia, lalu pulangnya ia membawa berbagai bahan untuk isi warungnya. Di wilayah Indonesia. Pembeli warung Juariyah adalah masyarakat Indonesia. Sedangkan desa yang dihuni warga Malaysia, lokasinya masih jauh. Artinya warga Indonesia menempati wilayah yang mepet. Sebagian malah berumah di tanah Malaysia.
Bagi orang-orang di Jakarta atau Putrajaya, garis merah putus-putus itu sangat penting artinya. Mereka bisa menghabiskan biaya sangat besar untuk memperjuangkan sebuah batas. Lobby internasional dan negosiasi. Sebuah pekerjaan ribet para diplomat.
Lihat saja bagaimana Korea Utara dan Selatan menghabiskan dana jutaan dolar hanya untuk memastikan tapal batas garis putus-putus yang membelah kedua negara. Semenjung Korea masih terus panas dingin sejak 1950-an.
Atau dulu, penderitaan rakyat Jerman Barat dan Jerman Timur yang memisahkan cinta, keluarga, sahabat dan kenangan orang Jerman. Tembok Berlin jadi saksi bagaimana sebuah tanda garis di peta menjadi begitu membatasi.
Donald Trump yang setengah gila itu juga kabarnya rela menyiapkan dana jutaan dolar untuk memastikan gatis putus-putus untuk membelah AS dan Mexico. Ia akan membangun pagar tinggi di sepanjang titik tersebut.
Atau kita bisa minta cerita rakyat Yogoslavia. Mereka merasakan mahalnya harga garis merah putus-putus itu. Demikian juga rakyat Uni Sovyet dulu, yang kini terbelah menjadi Rusia, Kazaktan, Azerbaijan dan berbagai negara kecil lainnya. India dan Pakistan dulu bersatu. Garis merah putus-putus ditarik, seperti membelah semangka. Satu wilayah untuk muslim dan wilayah lain untuk penduduk hindu. Bagi banyak orang, mempertahankan garis putus-putus adalah harga mati.
Tapi untuk Juariyah yang hidup pas di tengahnya, apakah artinya? "Ini tanah saya, pak. Memang tidak ada surat-suratnya. Tapi orangtua saya dulu sudah tinggal disini," katanya. Juariyah tidak memikirkan apa kebangsaan ruang tamunya. Apa juga kebangsaan toiletnya. Sepetak tanah itu hanyalah tempat dia melepas lelah dan berlindung. Tidak ada urusan dengan politik besar.
Juariyah memang tinggal di pojokan Indonesia. Tapi dia terbiasa memakai gadget. Kadang melakukan panggilan video dengan anaknya. Ia suka memandangi layar HP-nya, memutar Youtube. Siang itu saya menyaksikan Nissa Sabyan mengalun di layar HP Juariyah.
Sebab Indonesia bukan lagi tempat dengan pulau-pulau yang terpisah. Negeri ini sudah disatukan dengan Palapa Ring, sejenis koneksi internet berkecepatan tinggi yang memutari seluruh wilayah. "Seluruh Indonesia sudah bisa mengakses internet dengan kecepatan tinggi," ujar Menteri Kominfo, Rudiantara, saat berbicara di acara 'Digital dari Perbatasan' di Nunukan Kemarin.
Sebelumnya, untuk mendapatkan sinyal stabil, Juariyah sering menggunakan sinyak operator Malaysia. Kini, ia malah jarang menggunakan operator Malaysia itu. Kartu chips di HP dual SIM Card, hanya difungsikan satu saja. "Sekarang sudah stabil mas. Saya gak perlu bolak-balik pindah kartu," ujarnya. Dan suara merdu Nissa Sabyan mengalun merdu dari HP Juariyah.
Juariyah bukan Trump yang terobsesi memisahkan tanah AS dan Mexico. Ia juga bukan politisi yang sibuk dengan tapal batas. Ia hanya pedagang sebuah warung kecil. Tepat diantara Indonesia dan Malaysia. Dan dia merasakan, betapa Indonesia yang luas ini disatukan oleh sinyal yang kuat. Akses Palapa Ring adalah fasilitas yang dinikmati orang seperti Juariyah dan banyak rekan lain di perbatasan. Meski di ujung Indonesia, Juariyah bisa menikmati internet seperti orang lain di pusat kota di Jawa.
Apa arti garis merah putus-putus yang memisahkan negara di atas peta? Bagi Juariyah mungkin tidak banyak artinya. Tapi dia tahu, ketika membuka HP, yang dia nikmati adalah sinyal dari operator Indonesia. Bukan dari operator Malaysia. Meski ia hidup diperbatasan antara dua negara. Juariyah tahu, apa yang mengikatnya sekarang.

0 komentar

Tulisan Populer