TOLERANSI SUNAN KUDUS

Sunan Kudus
Sunan Kudus
EkoKntadhi.id, Jakarta - Kita mengenal Soto Kudus. Berisi daging kerbau yang empuk. Kenapa daging kerbau, bukan daging sapi?
Ini kisah keindahan toleransi. Di Kudus dulu, Islam disebarkan dengan menjunjung toleransi. Saat perintah berkurban, Sunan Kudus, salah seorang wali sembilan menyarankan warganya tidak menyembelih sapi.
Lho, bukannya menyembelih sapi dibolehkan dalam Islam?
Ya, Islam membolehkan. Tidak ada fiqih yang melarang berkurban sapi. Tetap masyarakat Kudus saat itu juga terdiri dari penganut Hindu. Bagi penganut Hindu sapi adalah salah satu hewan yang disakralkan. Sunan Kudus memilih menjaga toleransi, ketimbang hanya menggunakan kacamata kuda.
Baginya, menjaga perasaan orang jauh lebih penting ketimbang ribut soal halal-haram. Bagi Sunan Kudus, akhlak berada jauh di atas fiqh (aturan hukum agama). Fiqh membolehlah menyembelih sapi. Tapi akhlak para waliallah tidak bisa membiarkan umat lain terluka hatinya.
Kacamata Sunan Kudus menembus melampaui rasa menang sendiri. Pantulan bathinnya melesat dari sekadar merasa paling benar. Baginya menyakiti orang jauh lebih buruk, ketimbang sekadar pertanyaan apakah itu haram atau haram.
Dengan cara itulah dulu Islam diperkenalkan di Indonesia. Dakwah adalah air mata kesejukan. Agama adalah telaga mencari hikmah. Jika dakwah malah membekali kebencian, bukan dakwah namanya. Tapi cuma mengasong agama. Atau kampanye politik berbungkus agama saja.
Tapi rupanya metode Sunan Kudus ini gak berlaku di Airport Husein Sastranegara, Bandung, sekarang. Di sebuah dinding dekat musholah bandara tersebut, ruang publik itu ditempeli spanduk ajakan sholat. Tetapi dengan embel-embel kata kafir segala.
Iya, ajakan seperti itu, diambil dari kitab hadist. Kitab yang diakui umat Islam. Tapi ketika dipasang di ruang publik yang juga disaksikan ribuan mata penganut agama lain, rasanya ada yang kurang pas.
Kenapa para penganjur sholat itu tidak memilih dalil lain. Yang lebih adem tanpa harus menampilkan perbedaan muslim-kafir di ruang publik. Toh, ada banyak hadist tentang perintah sholat yang gak bawa-bawa kafir. Atau mungkin dari Alquran.
Misalnya tentang sholat yang setara dengan menjauhi perbuatan keji dan munkar. Jadi kalau kita sholat tapi masih suka berbuat keji dan tidak berbuat adil, itu sama saja mengingkari arti sembahyang. Sholat tapi tidak sholat. Begitulah kira-kira.
"Lho, itu hadist loh. Emang sudah begitu isinya," seorang pembela nyeletuk.
Iya, saya bukannya meragukan isi hadist. Tetapi kadang kita perlu berbesar hati menjaga ruang publik dari klaim sepihak. Biarkan ruang umum menjadi tempat yang ramah pada semua. Tidak harus merasa benar sendiri dengan mendemonstrasikan perbedaan.
Mungkin pengelola mushola di Husein Sastranegara perlu belajar dari Sunan Kudus. Ia melarang umatnya menyembelih sapi saat Idul Adha. Bukan karena agama melarang. Tapi ia ingin tidak ada pertunjukan ibadah muslim yang membuat umat Hindu terluka hatinya. Sunan Kudus tidak suka melihat agama ditampilkan secara demonstratif dan provokatif. Islam mestinya tidak hadir sebagai agama yang mentang-mentang.
Sebab inti dari agama adalah akhlak. Inti dari akhlak adalah menjaga agar orang di sekelilingmu tidak terluka badan atau hatinya. Kata Nabi, umatku adalah dia yang tidak menyakiti tetangganya dengan tangan dan lidahnya.
Bahkan Nabi mengajarkan, jika aroma masakan dari rumahmu sampai tercium ke hidung tetangga. Mereka punya hak untuk ikut menikmati. Agar aroma masakan kita tidak menyakiti hati mereka.
"Mas, satenya habis. Aku juga belum sempat nyicipin," ujar Abu Kumkum.
"Lho, bukannya kamu tadi masih sibuk ngipas. Masa gak sempat cicipi, Kum?"
"Kan semua orang bisa mencium asap sate, mas. Jadi aku bagi-bagi. Sampai aku gak kebagian."
Lhaa, gak gitu juga Kum. Sate jatah gue, habis juga?

0 komentar

Tulisan Populer