Media
Media
EkoKuntadhi.id, Jakarta - ”Dari pada Papua lepas. Lebih baik Jokowi mundur," ujar Rizieq. Omongan sampah ini dikutip berbagai media. Saya heran, apa kapasitasnya media menjadikan Rizieq sebagai narasumber untuk bicara soal Papua. Kalau bicara soal kandang kambing, bolehlah. Dia jagonya. Ini soal Papua, apa urusanya sama Rizieq?
Kemarin Jakarta blackout, mati listrik total. Saya membaca di sebuah media online, wartawan bertanya kepada Ismail Yusanto, jubir HTI, soal mati lampu. Apa kata Ismail?
"Mati lampu di Jakarta bukti kegagalan Jokowi," ujar pria yang di atas bibirnya ada kumis seperti ulat bulu ini.
Sialan, kan? Soal mati listrik, wartawan mewawancarai jubir HTI untuk berkomentar. Mentang-mentang gerombolan ini sering mengibarkan bendera hitam. Lalu apa pantas dimintai pendapat soal mati lampu?
Memang sekarang adalah zaman digital. Salah satu ukuran keberhasilan berita apabila di-klik banyak orang. Makanya jangan heran kalau media menggunakan teknik klikbait dalam penulisan judul. Kadang malah antara judul dan isi gak nyambung sama sekali.
Tujuannya, ya menipu pembacanya. Agar dapat pengunjung besar. Saya maklum dengan cara ini. Dulu juga koran Lampu Merah menggunakan teknik sejenis agar dagangannya laku.
"Suami Lemah Syahwat. Istri Main Kuda-Kudaan dengan Tetangga. Eh, Tetangga Lainnya Ikut-ikutan." Begitu model-model judulnya. Nyebelin baca judul berita itu. Memfitnah kuda!
Tapi, yang kurang ajar bukan cuma soal spin judul. Yang menyebalkan juga kriteria narasumbernya yang dipakai atau yang dikutip. Apa kapasitas Rizieq bicara soal Papua? Dengan ukuran apa dia dijadikan narasumber. Sejauh mana bacotnya memberikan pencerahan pada pembaca?
Apa juga relevansinya jubir HTI dengan listrik yang padam? Mau doain khilafah biar kesetrum?
Saat ini kemang era kebebasan pers. Hanya saja sebuah media bukan cuma dituntut untuk diklik paling banyak. Tetapi pada dasarnya mereka terikat pada azas jurnalistik. Termasuk penentuan narasumber yang layak. Bisnis boleh. Tapi profesinalitas kudu dijunjung. Agar pers tidak menjadi sampah yang cuma jualan kehebohan.
Sama seperti acara ILC. Dari omongan soal politik, khilafah, kitab suci, sampai utang negara, narasumbernya gak ganti-ganti : Rocky Gerung. Ia berstatus pengamat segala hal. Atau mungkin juga sudah duduk sebagai 'karyawan tetap' ILC.
Akibatnya kita cuma mendengar omongan dan statemen sampah. Tidak ada pencerdasan disana. Padahal salah satu fungsi pers adalah melakukan pendidikan publik.
Kalau cuma ngarep klikbait, ngapain capek-capek bikin media berita. Sodorin aja link bokep. Seindonesia akan bersatu menyambutnya. Kalau memang sejak awal merumuskan diri sebagai media kredibel, mestinya standar kredibelitas nara sumber juga diperhatikan dengan baik. Bukan asal comot.
Media harus membiasakan diri punya kelas. Orang yang kerja disana digaji. Dibayar karena profesionalitasnya. Jangan jadikan wartawan seperti nelayan, kerjanya hanya memancing kehebohan dengan beritanya. Bukan menjelaskan duduk perkara.
Kalau hanya ingin sensasi, lebih baik operasi kelamin saja kayak Lucinta Luna. Lebih menjanjikan sensasinya.
"Mas, sesekali Firza diwawancarai juga dong?," usul Abu Kumkum.
"Soal apa, Kum?"
"Tips and trik, cara mengusir kambing yang doyan rumput tetangga!"

0 komentar

Tulisan Populer