Matador
Matador
Teman saya baru pulang dari Spanyol. Dia bercerita mengalamannya makan di restoran kelas satu di sana. Sebuah bangunan indah dengan ornamen khas Eropa abad pertengahan. Teman saya duduk, memilih meja di dekat jendela. Ia dihampiri pelayan, membawa menu. "Apa menu paling istimewa di restoran ini?" "Ohh, ada. Jika berkenan, kami akan sajikan untuk Anda, sir," jawab pelayan. Gak lama berselang keluar pesanan. Seperti daging panggang dengan saus khas. Ukurannya lumayan besar. Hampir memenuhi piring."Ini apa?""Ohh, ini testis Banteng, sir. Setiap ada pertandingan banteng dan matador, kami selalu menyajikan menu ini. Banteng yang kalah melawan matador, kami olah. Testisnya kami jadikan sajian khusus". "Jadi ini testis banteng yang kemarin bertanding?" "Yes, sir..."Teman saya menikmatinya. Ia teringat warung soto di jalan Blora, Jakarta, yang menyajikan menu terpedo kambing. Enam bulan kemudian ia kembali lagi ke Spanyol. Ada pekerjaan yang masih harus dituntaskan. Ia datangi lagi restoran keren itu. Memesan menu istimewa yang sama lagi. Tidak lama berselang, datang pesanannya. Tapi kini dia heran, kok ukurannya jauh lebih kecil dibanding yang pernah dimakannya dulu. Ia memanggil pelayan. "Apakah ini menu istimewa sama seperti sebelumnya?" "Iya tuan. Sama. Kami selalu menyajikan menu yang sama. Yang kami ambil dari hasil pertarungan di lapangan." "Kok ini lebih kecil?" "Maaf sir, kemarin yang kalah matadornya..."

0 komentar

Tulisan Populer