JEJAK JOKOWI DAN AHOK DI JAKARTA

Ahok
@TagarNews, Ahok Jajal MRT
EkoKuntadhi.id - Mantan Gubernur Jakarta, yang dua tahun hidupnya dihabiskan dalam jeruji besi. Kini telah bebas. Datang ke stasiun MRT, untuk melihat salah satu hasil kerjanya.
Ia hadir sebagai rakyat biasa. Sekadar mencicipi rasanya kereta yang membelah bumi Jakarta.

Setelah sekian lama proyek itu mangkrak. Setelah sekian Gubernur habis masa jabatannya, proyek itu hanya jadi rencana di atas kertas. Lalu dua orang putra bangsa naik menjadi Gubernur dan wakil Gubernur Jakarta. Jokowi-Ahok.
Mereka berdua punya visi. Juga punya keberanian memutuskan. Sebuah impian, memang hanya akan tetap jadi khayalan jika tidak ada orang yang berani mewujudkan. Ibaratnya seorang jomblo hanya akan tetap mengandalkan mimpi basah jika gak punya mental mendekati cewek. Jika tidak mimpi basah, maksimal ia hanya menonton video tutorial Maria Ozawa.
Di tangan Jokowi-Ahok, impian soal transportasi berkelas itu menjadi nyata.
Bukan dengan sulap. Bukan juga dengan sihir. Tetapi cukup dengan komitmen pada rakyat. Cukup dengan keyakinan memberikan yang terbaik.
Lalu proyek itu digeber. Saat dikerjakan kemacetan dimana-mana. Tapi rakyat bersabar. Rakyat menunggu sebuah wujud dari proposal yang ngejogrok puluhan tahun di atas meja. Mungkin sudah penuh debu. Mungkin juga sudah disesaki saran laba-laba.
Lihatlah Jakarta kini. MRT sudah beroperasi. Sebentar lagi LRT juga akan berjalan. Setelah sekian lama kita punya transportasi kelas dunia. Di jalan Semangi, juga ada simpang susun yang indah. Wajar jika transportasi Jakarta mendapat penghargaan internasional.
Bukan karena Gubernur Jakarta sekarang lebih baik. Kalau soal itu, malaikat juga tahu, Gubernur sekarang lebih cocok jadi pendongeng ketimbang pimpinan daerah.
Sebab masalah transportasi gak bisa diselesaikan dengan bacot. Soal lalu lintas gak bisa diselesaikan dengan memutar kata-kata seperti radio tengah malam. Masalah itu harus ditangani dengan manajemen dan ketelitian kerja.
Harus dicatat juga penghargaan itu bukan karena becak dibolehkan lagi beroperasi di Jakarta. Kalau pertimbangannya soal becak, mungkin Jakarta akan mendapat penghargaan sebagai kota peringkat ketiga primitif, satu tingkat di bawah pedalaman Kalahari dan Amazon.
Gak apa-apa. Hasil kerja Gubernur terdahulu dinikmati oleh Anies Baswedan sekarang. Dia senang mendapat penghargaan. Sepertinya ia merasa sudah berbuat banyak untuk Jakarta. Padahal mah, omongan gak akan bisa mengubah apa-apa.
Biarlah. Anggap saja sedekah.
Menata sebuah kota memang butuh kejelian, keterampilan manajemen dan kepemimpinan yang punya komitmen. Menata sebuah kota gak cukup dengan deklamasi dan ceramah.
Ahok kemarin sore hanya ingin menikmati MRT sebagaimana rakyat menikmatinya. Tapi, kita harus jujur, bekas tangan Ahok masih membekas dimana-mana.
Jejaknya terasa di taman-taman yang kini kembali kumuh. Terasa di waduk Pluit yang sekarang dipenuhi sampah. Terasa di kali-kali yang pernah dikeruk, lalu sedimen numpuk lagi karena dicuekin.
Jejak itu membekas di masjid raya Jakarta. Juga di masjid Balaikota yang kemarin diisi oleh pengajian Felix Siuaw.
Tapi jejak tangan Ahok tidak ada di IMB pulau reklamasi. Sebab dulu Ahok meminta pengembang membagi 15% dari NJOP buat Pemda DKI.
"Kalau soal IMB itu, semuanya jejak tangan Anies, mas. Buktinya DKI gak dapat 15% dari NJOP. Semua keuntungan pulau reklamasi dinikmati pengembang," celetuk Abu Kumkum.
"Iya, mas. Jejak Anies masih terasa di gerakan 212 dan masjid yang menolak sholat jenazah," tambah Bambang Kusnadi.

0 komentar

Tulisan Populer