Lion King
Lion King
Semalam sempat nonton film Lion King. Kisahnya sama dengan cerita lama, tentang Simba pangeran Singa yang dikudeta.
Tapi yang bikin seger, animasinya wow banget.
Yang paling saya suka adalah filosofi hidup si Babi gemuk dan Merkat, yang hidup dalam suasana riang. Bagi mereka tidak ada masalah berarti dalam hidupnya. Semuanya hakuna matata, no worry. Jangan terlalu dirisaukan.
Hakuna matata adalah sebuah ungkapan bahwa semuanya baik-baik saja. Gak ada masalah yang perlu dijadikan alasan untuk tidak bergembira.
Jika ada yang membuatmu sedih --hakuna matata.
Jika kehidupan tidak berpihak kepadamu --hakuna matata.
Jika ada orang yang menyakitimu --hakuna matata.
Jika masalahmu datang bertubi-tubi --hakuna matata.
Kegembiraan tidak perlu hilang, meski hidup tidak selalu manis --hakuna matata.
Saya jadi ingat sebuah film (ah, saya lupa judulnya), tentang 'pesantren' buddhis di Tibet. Calon-calon biksu cilik keranjingan nonton bola piala dunia. Sayangnya di biara gak ada televisi.
Mereka berjuang kabur dari biara ke rumah penduduk, hanya untuk menonton bola. Tapi biksu-biksu lain juga ingin menikmati piala dunia. Akhirnya mereka goyong royong, mencari TV bekas, memasang antena. Lalu menikmati sajian piala dunia bersama.
Ada satu ungkapan dari kepala biara yang keren kepada anak didiknya. "Jika masalahmu bisa diselesaikan, selesaikanlah. Mengapa harus bersedih?"
"Jika masalahmu tidak bisa diselesaikan, lupakanlah. Mengapa juga harus bersedih?"
Hakuna matata seperti sebuah pandangan hidup yang melihat semuanya dari sisi positif. Dari sisi paling menggembirakan. Iya, ada banyak kekecewaan yang kita alami dalam menjalani kehidupan. Kadang dunia seperti mau kiamat.
Tapi, bahkan saat kiamat pun, ada sisi positifnya. Pasti di hari itu semua orang gak perlu masuk kerja atau kuliah. Gak perlu dimarahi bos atau dosen. Gak perlu bangun pagi lantas berdesakan dalam commuter line atau berebut naik ojeg. Saat kiamat, Anda gak perlu tergesa-gesa datang ke kantor dan meeting sama klien.
Orang yang hidupnya paling merana, saat itu, bisa merasa setara dengan semua manusia lainnya. "Hahahaha ternyata bukan cuma gue yang merana. Orang kaya, ganteng, cantik, saat kiamat ternyata gak ada bedanya sama gue. Semua ketakutan."
Konsep hakuna matata itu juga yang mungkin dipeggang Forest Gump, sebuah film indah yang dibintangi Tom Hanks. Lelaki dengan IQ pas-pasan itu hanya tahu berbuat baik dan memegang janji. Bahkan setelah puluhan kali dikecewakan oleh perempuan yang dicintainya, api cinta dalam diri Forest tak juga padam.
Keterbatasan IQ Forest justru menyelamatkannya dari kepedihan sakit hati. "Hidup itu seperti sekotak cokelat. Kita gak pernah tahu rasa apa yang akan kita dapatkan..."
Atau juga prinsip hidup yang biasa, seperti ketika Michael Douglas menolak Sharon Stone dalam film Basic Insting. "Aku cuma ingin hidup yang biasa. Menikah. Beranak pinak seperti marmut."
Dan kehidupan mengalir. Membentuk arusnya sendiri. Manusia hanya menjalankan. Tergantung, apakah dalam proses perjalananya kita lebih suka memandangnya dengan sudut negatif atau positif.
Sebab pada akhirnya bukan situasi yang membuat hidup kita terhimpit. Tapi cara pandang kita pada keadaan yang memberikan arah.
Dalam filsafat sejarah ada dua cara pandang manusia. Cara pandang ini akan menentukan bagaimana kita melihat kehidupan. Apakah sejarah bergerak ke arah positif atau sejarah bergerak ke arah negatif.
Maksudnya begini. Apakah masa depan selalu bergerak untuk menyempurnakan masa lalu. Atau masa depan malah berjalan lebih rusak dibanding masa lalu.
Saya melihat, banyak orang beragama punya pandangan negatif soal masa depan. Seolah masa lalu itu lebih bagus dan indah. Seolah jaman dulu orang lebih beradab dibanding jaman sekarang. Jaman dulu orang lebih beragama dibanding saat ini. Makanya mereka mencerca kemajuan. Mencerca modernitas.
Pandangan yang buruk soal masa depan ini mengakibatkan mereka merindukan hidup di masa lalu. Lalu dengan doktrin agama mereka berusaha membalikkan jalan sejarah, mengajak umat kembali ke masa lalu. Sebab baginya masa lalu itu lebih ideal.
Wajar kalau kemudian ada aliran agama yang mimpi mendirikan khilafah. Mimpi hidup seperti di jaman Nabi. Mimpi membangun peradaban seperti abad yang telah silam. Mimpi seperti itu sejatinya adalah keinginan menentang sejarah.
Bagi saya sejarah selalu bergerak positif. Zaman menyempurnakan dirinya. Percayalah masyarakat jaman ini jauh lebih beradab dibanding masyarakat jaman sebelumnya.
Kehadiran Nabi dan orang-orang suci pada jaman lalu sebagai pertanda, bahwa ajarannya menjadi semacam pelita agar masyarakat bisa menyesuaikan diri dengan sejarah yang bergerak positif. Bukan malah ditafsir bahwa kita harus hidup seperti zaman Nabi dulu.
Kerusakan sering terjadi karena ada orang yang mau memutar jarum jam. Mengajak masyarakat kembali hidup di masa lalu. Usaha mereka menentang sejarah dan hukum alam. Sebab waktu bergerak maju dan kehidupan mengarah pada penyempurnaan.
"Meski jomblo, saya harus tetap hakuna matata, ya mas?"
Iya, Kum. Hakuna matata...

0 komentar

Tulisan Populer