BENARKAH CADAR PAKAIAN AGAMA?

Cadar
Cadar
EkoKuntadhi.id - ”Apapun itu, menikahlah. Jika engkau mendapat perempuan baik, maka kamu akan bahagia. Jika mendapat perempuan cerewet dan galak, kamu akan menjadi filosof," ujar Socrates. Kita tahu, Socrates adalah seorang filosof.
Hidupnya dihabiskan di Athena, menyusuri agora, tempat warga Athena berkumpul. Ia selalu mempertanyakan banyak hal kepada siapa saja. Bahkan ia bertanya untuk sesuatu yang dianggap masyarakat sudah selesai.
Ia bertanya kepada banyak orang apa tujuan hidup mereka. Kenapa mereka mempercayai Tuhan atau dewa. Apa manfaat kepercayaan itu pada mereka.
Ia mempertanyakan kekuasaan dewa-dewa. Mungkin benar dewa menciptakan bumi dan isinya. Dewa juga maha kuasa. Tapi keyakinan itu harus diuji.
"Bisakah dewamu menciptakan benda yang dia sendiri gak sanggup menanganinya?"
Tentu orang bingung menjawabnya. Kalau dijawab 'gak bisa', maka dewa yang dipercainya itu tidak maha pencipta. Kalau jawabnya 'bisa', masa dewa kalah oleh ciptaanya sendiri.
Xanthippe adalah istri Socrates. Cerewet dan galak. Ia sering marah pada Socrates yang sering pulang larut tanpa membawa uang. "Marahmu hari ini lebih lunak dibanding kemarin," jawab Socrates santai.
Sekali waktu Xanthippe mengguyur kepala Socrates dengan air, sehabis kemarahanya meledak. Kepala suaminya yang botak itu basah kuyup. Air merembes sampai ke jubahnya yang kumal. "Setelah guntur, biasanya turun hujan," ujar Socrates, sambil nyengir.
Mungkin Xanthippe ini perempuan yang dalam bahasa agama, tidak bakal masuk surga. Banyak orang yang bilang, perempuan harus tunduk bongkokan pada suami agar bisa masuk surga. Tapi Xanthippe dilahirkan jauh sebelum ajaran tentang perempuan 'sholehah' meruyak.
Tapi Socrates berbeda dengan para ustad yang mendoktrin perempuan harus tunduk patuh pada lelaki. Xanthippe tidak dinasehati Socrates untuk menjadi orang lain. Xanthippe bisa menjadi dirinya sendiri. Ia tidak takut disebut durhaka. Socrates juga senyum-senyum saja menghadapi perangai istinya.
Keyakinan bahwa jalan ke surga untuk perempuan mesti mengabdi pada lelaki memang sering dimanipulasi untuk berbagai penindasan dengan alasan agama. Kita dengar ada semacam doktrin, bahwa ridho suami adalah ridho Tuhan. Sepertinya perempuan harus menenggelamkan dirinya demi semua kesenangan suami. Dari proses sacrifice itulah surga bisa direngkuh para perempuan.
Pada keyakinan yang ekstrim, perempuan bahkan hendak dihilangkan identitas personalnya. Ia tidak boleh tampil sebagai manusia yang punya ciri fisik dan indentifikasi khas. Manusia hanya bisa dikenali oleh manusia lainnya apabila ciri fisiknya bisa diidentifikasi.
Itulah kenapa ada yang ngotot memaksa perempuan berburqa dan bercadar. Bagi saya ini adalah kelanjutan dari doktrin Ramboisme bahwa posisi perempuan di bawah lelaki. Dengan bercadar seorang perempuan dihilangkan ciri khasnya. Ia tidak bisa lagi dikenali sebagai seorang individu. Pakaian yang menutupi tubuhnya seperti menghilangkan eksistensinya sebagai pribadi.
Jika cara berpakaiannya sudah menjadikan mereka 'tiada' lalu apa yang bisa mereka hadirkan sebagai pribadi? Rupanya doktrin yang membelenggu mereka hanya inhin menempatkan dunia melulu berputar di sekitar lelaki.
Makanya saya heran kebanyakan hal-hal yang dianggap aturan syariah sekarang, isinya cuma aturan berkenaan dengan perempuan. Di Aceh, ada aturan perempuan tidak boleh naik motor nyemplak. Jaman Taliban di Afganistan, perempuan gak bisa keluar rumah tanpa dipampingi lelaki muhrim.
Sial bagi para perempuan single yang gak punya saudara lelaki. Sebagian dibiarkan kelaparan di rumahnya.
Oleh ISIS perempuan hanya diposisikan sebagai pabrik anak dan pemuas nafsu. Mereka diperlakukan mirip boneka seks yang bisa hamil. Tidak dianggap sebagai mahluk yang punya perasaan, jiwa, pikiran dan nilai sendiri sebagai individu. Herannya cara seperti itu katanya adalah bagian dari agama, dimana perempuan harus tunduk pada suaminya. Dengan pengekangan itulah mereka dijanjikan surga.
Coba telaah aturan yang oleh sebagian orang dianggap sebagai hukum syariah, seringkali hanya sibuk mengurus perempuan. Dari mulai baju, make up, sampai cara ketawa.
Sepertinya perempuan adalah warga dunia kelas dua.
Padahal kedatangan Islam dulu mempertanyakan 'mengapa bayi-bayi perempuan itu dibunuh?' Pertanyaan itu ada dalam Alquran sebagai gugatan pada perilaku bangsa arab yang mengubur anak-anak perempuannya hidup-hidup.
Kenapa? Sebab budaya arab saat itu menempatkan perempuan hanya sebagai beban. Orang tua yang melahirkan anak perempuan seperti mendapat aib. Mereka memilih mengubur bayinya hidup-hidup.
Ajaran agama datang menghapus budaya itu. Rasul memperlakukan anak perempuannya dengan penuh cinta. "Siapa yang menyakiti Fatimah, ia juga telah menyakitiku," ujar Nabi mulia.
Nabi tidak memilih istri yang mengurung diri di kamarnya. Ia memilih saidah Khadijah, perempuan pengusaha yang punya karir, jabatan, peran dan posisi penting dalam masyarakat. Khadijah seorang pengusaha sukses. Ia seorang perempuan mulia.
Gak mungkin Khadijah sukses sebagai pengusaha jika hidupnya melulu dalam belengu. Gak mungkin Khadijah dihormati jika gak bisa dikenali. Khadijah memiliki posisi terhormat dalam masyarakat karena dirinya punya kualitas. Punya prestasi. Punya harga diri. Punya akhlak dan pronadi agung. Ia adalah perempuan aktif dan tidak tunduk pasrah pada budaya patriaki. Ia adalah individu yang menonjol.
Keikhlasan Khadijah pada Rasul bukan karena doktrin bahwa perempuan harus mengabdi pada suami. Tapi karena suaminya punya kualitas-kualitas unggul sebagai manusia. Khadijah mengabdi pada Nabi dengan segenap jiwanya, karena suaminya juga menunjukan cinta dan rasa kasih yang luar biasa. Rasul hadir dalam hidup Khadijah dengan kesempurnaanya sebagai manusia. Cintanya adalah cinta lelaki paling indah dalam hidupnya.
Hanya cinta yang pantas sebagai balasan cinta. Cinta yang sempurna patut dibalas dengan cinta yang juga sempurna.
Artinya bagi perempuan ketertundukan pada lelaki sebagai hasil dari paksaan dan doktrin dengan keikhlasan pada suami --karena kualitas pribadi suaminya-- bisa berbeda sangat jauh. Yang satu dijalankan karena ketakutan pada neraka. Yang satu lagi dilakukan sebagai refleksi dari cinta dan penghormatan.
Inilah yang banyak terjadi sekarang. Doktrin agama yang salah kaprah seolah menempatkan perempuan pada posisi sebagai subordinat dari lelaki. Ia harus menutupi seluruh identitasnya sebagai pribadi. Ia diharuskan memakai pakaian yang menutupi seluruh eksistensinya sebagai pribadi, pakaian yang mirip penjara.
Saya tidak mempermasalahkan jilbab. Dengan memakai jilbab nilai seseorang sebagai individu tidak hilang. Tapi pakaian yang habis-habisan menutupi wajah, rasanya seperti ingin menghapus identitas mereka sebagai manusia. Sebab yang membedakan manusia dengan manusia lainnya adalah ia dapat dikenali. Diidentifikasi sebagai individu. Dari sana hadir penghargaan pada dirinya sebagai pribadi.
Jika seratus perempuan berburqa atau bercadar dengan warna sama persis, bagi saya apa bedanya dengan semut. Saya gak bisa mengenali semut satu persatu sebagai individu. Ia hanya dikenal sebagai kelompok. Tidak ada penghargaan pada semut sebagai pribadi.
Padahal kucing peliharaan saja bisa dikenali. Diberi nama. Dipakaikan kalung. Dengan dikenali, pemilik kucing bisa melimpahkan kasih sayang pada kucingnya. Kenapa? Karena kucingnya berbeda dengan kucing lainnya. Dia khas sebagai pribadi.
Maksudnya bisa dikenali adalah salah satu syarat orang bisa menghargai orang lain sebagai pribadi. Jika gak bisa dikenali, bagaimana ada penghargaan pada individu?
Jadi kenapa saya tidak setuju jika cadar dianggap sebagai pakaian agama? Karena agama tidak hadir untuk membuat manusia sama dengan semut.
Tapi agama juga gak menginginkan perempuan seperti Xanthippe yang dengan gahar menyiram kepala suaminya. Juga karena cerewetnya membuat Socrates jadi filoaof. Saya yakin agama hadir agar manusia bisa saling belajar tentang penghargaan dan cinta. Bisa saling memahami setiap individu dengan cara sebaik-baiknya.
"Mas, kadang-kadang tulisanmu terkesan seperti filosof. Tapi kok, bawaanmu happy terus," celetuk Abu Kumkum.
Kampret, lu!

0 komentar

Tulisan Populer