BELAJAR TEGAS DARI MALAYSIA

Hizbut Tahrir
Negara-negara yang melarang Hizbut Tahrir
Pemerintah Malaysia mengeluarkan larangan pada Hitbut Tahrir Malaysia. Negeri jiran itu mengharamkan siapa saja yang mengikuti gerombolan khilafah dan menegaskan jika mereka membandel akan berhadapan dengan hukum.
Alasannya sama seperti pelarangan HTI di Indonesia, organisasi itu membahayakan negara Malaysia.
Tapi, rata-rata orang Hizbut Tahrir memang punya penyakit ngeyel level sembilan. Meski dilarang mereka tetap melawan, dengan menggelar konfrensi pers menentang pelarangan itu. Seperti biasa, isi konfrensi pers mereka ingin mempertentangkan Islam dengan negara.
Para pengasong agama dimana-mana sama saja.
Tapi pemerintah Malaysia tegas. Begitu Abdul Hakim Othman -Presiden HT Malaysia- berkoar-koar di depan wartawan. Tanpa banyak cingcong Polisi langsung menangkapnya. Othman mungkin dikenakan UU Keamanan Negara Malaysia yang serius itu.
Sampai saat ini Htibut Tahrir sudah dilarang di 20 negara dan dinyatakan sebagai gerombolan teroris. Rekam jejak gerombolan ini di berbagai negara memang cuma meninggalkan kerusakan. Gak ada bagus-bagusnya sama sekali.
Indonesia juga melarang HTI. Tapi berbeda dengan Malaysia, di Indonesia penanganan terhadap HTI lebih ringan. Setelah diharamkan HTI masih bisa menggugat ke pengadilan. Gembongnya juga masih berkoar-koar sampai sekarang.
Bahkan Anies Baswedan memberi panggung pada mereka. Bayangkan orang seperti Felix Siuaw yang menentang kecintaan pada Indonesia diundang ceramah pengajian Pemda DKI. Mereka memakai fasilitas negara untuk memberi ruang pada orang yang tujuannya hendak menghancurkan Indonesia. Kan, bangke!
Bahkan Prabowo-Sandi kemarin membiarkan bendera HTI berkibar pada kampanyenya. Kampanye Capres Indonesia, dikibarkan bendera organisasi yang mengharamkan Pemilu. Pantas saja orang sering menuding mereka kampret, wong pikirannya sering jungkir balik.
Saking kurangajarnya, setelah pembubaran HTI mereka kini ganti baju dengan berbagai nama organisasi baru. Di kalangan kampus organisasi Gema Pembebasan masih bercokol. Meracuni generasi muda dengan virus radikal. Ada banyak lagi organisasi baru yang ujungnya sama, Khilafah.
Sebetulnya kita gak terlalu peduli dengan organisasinya. Mau namanya HTI kalau tujuan organisasi itu cuma memasyarakatkan senam zumba, kita gak masalah.
Mau namanya ISIS atau Alqaedah kalau tujuannya hanya meningkatkan kemampuan main skateboard di kalangan anak muda, gak perlu dilarang. Jadi bukan organisasinya yang harus diwaspadai. Tapi apa tujuan dan rekam jejak mereka.
Artinya yang paling penting bukan pembubaran HTI. Tapi yang jauh lebih penting adalah melarang semua paham khilafah, intoleran dan radikal yang merusak itu berkembang dan dikembangkan di Indonesia.
Kalau hukum hanya menjangkau organisasinya, hasilnya seperti sekarang. HTI memang sudah sejenis PKI, diharamkan. Tapi para cecurut pengikutnya mendirikan organisasi dengan nama lain. Dibubarin. Lalu dirikan lagi yang lain. Dibubarin lagi.
Begitu aja terus sampai Upin-Ipin SMP.
Ketimbang buang-buang waktu mending tegas-tegas saja deh. Siapa saja yang menawarkan ideologi khilafah yang sudah terbukti bangkrut itu, harus ditangkap. Pentolan HTI harus diadili, jangan dikasih ruang lagi untuk eksis.
Demikian juga, siapapun yang mengundang mereka harus dikenakan sanksi hukum. Apalagi kalau menggunakan institusi resmi pemerintah. Itu pelanggaran paling ngehek.
Kalau urusannya pada keselamatan negara rasanya kita gak usah main-main. Sebab masa depan anak cucu jadi taruhan. Mereka mungkin akan ngeles dengan berbagai dalil agama. Krauk aja mulutnya. Emangnya yang Islam mereka doang!
Mahathir Muhamad kini sudah secara tegas menunjukan sikapnya bahwa eksistensi pemerintah Malaysia harus dijaga. Agama yang diselewengkan bisa berbahaya. Bahkan untuk mengurangi virus perusak di sekolah-sekolah negeri Mahatir menyarankan untuk mengurangi pelajaran agama di sekolah.
Bukan. Bukan karena pemerintah Malaysia membenci agama. Tapi mereka sadar pengajaran agama yang kepleset jauh lebih berbahaya ketimbang guru Matematika yang salah hitung.
Kita mestinya bisa mencontoh Malaysia. Sekolah negeri kita kini sudah jadi lahan berkecambahnya paham intoleran. Lagi pula, sekolah negeri yang dibiayai pajak yang dipungut dari masyarakat semua agama. Kalau sekolah itu hanya berorientasi hanya pada satu agama saja, itu namanya korup juga. Korupsi hak agama lain.
Kalau mau belajar agama, masuk saja ke pengajian, institusi pendidikan agama, sekolah minggu dan sejenisnya. Sekolah umum gak perlu ikut-ikutan mengurus iman muridnya. Ajarkan saja anak didik menjadi pintar, punya akhlak, mencintai kebersamaan, itu jauh lebih bermanfaat.
Ketimbang kita sibuk mengajarkan doa masuk WC, tapi lupa menerangkan manfaat imunisasi. Kita minta anak didik sholat jemaah, tetapi tidak menerangkan bahwa tempat sholat yang baik itu di masjid. Bukan di Monas.
Kita juga lupa mengajarkan, menyusahkan orang itu termasuk berdosa. Masa ada gerombolan yang hobi sholat jemaah di jalanan umum. Bikin macet dan memuakkan.
Orang sibuk memakai seragam ninja untuk perempuan. Tapi lupa mengajarkan pentingnya pakai helm saat naik sepeda motor.
Kalau dikritik, mereka akan berkilah kita anti Islam.
Eh, Sukri, yang kita masalahkan itu sholat di Monas dan di jalanan umum. Bukan kewajiban sholatnya. Yang kita masalahkan itu soal keselamatan berkendara bukan anti seragam Ninja Hatori.
Intinya begini. Kita perlu mencontoh Malaysia yang tegas menerapkan hukum pada pengasong agama itu. Mereka memanipulasi ajaran Tuhan demi keuntungan politiknya.
Jangan lembek-lembek lagi menghadapi mereka. Jangan pernah memberi ruang pada gerakan yang membahayakan bangsa ini. Ingatlah, lontong yang terlalu lembek rasanya gak enak.
"Kalau semua kaum perempuan pakai cadar, membedakan antara Raisa dan Lucinta Luna gimana ya, mas?," celetuk Abu Kumkum.
"Jangankan membedakan Raisa dan Lucinta Luna. Kalau pakai cadar membedakan Barry Prima dan Raisa juga susah, kok," timpal Bambang Kusnadi.

0 komentar

Tulisan Populer