Anies Bekerja Terstruktur, Sistematis dan Masif

Anies Baswedan
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan
EkoKuntadhi.id - Anies Baswedan selalu punya cara jitu. Dia bilang, "Saya tidak pernah menolak reklamasi. Saya ingin menghentikan reklamasi."
Hasilnya, IMB untuk pulau reklamasi diterbitkan Anies.
Netizen sibuk berbicara apakah kata menolak dan menghentikan artinya sama saja?
Bagi Anies keduanya berbeda. Maka dia gak pernah menolak reklamasi. Itulah asal-usul dikeluarkannya IMB untuk pulau reklamasi.
Eh, bukan. Bagi Anies itu bukan pulau reklamasi. Hanya daratan pantai yang diperluas dengan cara menguruk laut.
Berhati-hatilah dengan kata.
Sama seperti kebelet pipis dengan keinginan yang sangat besar untuk pipis di mata Anies berbeda makna. Yang satu sudah di ujung, satunya lagi merasa seperti mau muncrat yang tertahan.
Meski cara menanganannya bisa sama: bagi cowok cukup cari karet gelang. Ikat bagian ujungnya. Beres.
Sebagai Gubernur Anies selalu menelaah segala sesuatu dari kata. Sebab semua bermula dari kata-kata.
Gubernur terdahulu silakan membangun rumah susun. Anies gak setuju. Ia bermaksud membangun rumah lapis. Rumah susun berbentuk bangunan tinggi bersusun 15. Rumah lapis, bangunan tinggi berlapis 15.
Susun dan lapis berbeda jauh. Tidak ada kue susun. Yang ada kue lapis. Tidak ada lapisan kabinet. Yang ada susunan kabinet. Berbeda kan?
Dengan cara berfikir Anies semuanya jadi simpel. Itulah cara mikir yang mestinya digunakan warga Jakarta.
Udara Jakarta buruk. Penuh polusi. Gak usah pusing bagaimana menangani polusinya. Pikirkan saja apa alat ukur udara sudah bagus? Kalau hasil pengukurannya menggambarkan udara Jakarta buruk, harus diganti alat ukurnya. Mengganti alat ukur udara adalah langkah pertama menangani polusi.
Setelah itu apa?
Cek kualitas udara lewat alat ukur yang baru itu. Jika hasilnya masih buruk juga, berarti alat ukurnya masih kurang bagus. Ganti lagi. Terus begitu sampai musim hujan. Ketika nanti hujan, air akan menurunkan partikel udara kotor ke tanah. Coba cek lagi kualitas udara Jakarta.
Bagus, kan?
Begitulah cara menangani polusi kota yang baik.
Dulu ada pasukan oranye yang keliling membersihkan selokan kotor. Sekarang selokan dibiarkan kotor dan mampet. Artinya gak dibersihkan lagi.
Kamu fitnah. Bukannya gak dibersihkan. Tapi sekarang dalam tahap pembahasan rencana untuk sosialisasi dan memberi pengertian masyarakat mengenai tata cara pembersihan selokan.
Jalan membersihkan got itu tahap akhir. Sebelumnya dibutuhkan pemetaan selokan mana yang perlu ditangani. Jenis masalah selokan dibagi menjadi empat: mampet parah, mampet tapi masih bisa mengalir dengan debit air minimal, ada sampah dan sedimen yang menumpuk tapi air tetap mengalir, dan lancar dengan catatan.
Langkah pertama, setiap selokan akan diberi tanda sesuai statusnya. Sebelum diberi tanda itu, dibutuhkan rapat untuk menentukan bentuk tanda yang akan diberikan pada masing-masing selokan. Tapi sebelum rapat digelar perlu dibentuk panitia rapat. Siapa yang menyiapkan bahan rapat. Siapa yang mengatur konsumsi. Siapa yang menjadi notulen.
Jauh sebelum itu disusun dulu anggaran buat rapat. Dibuat RAB. Dihitung berapa biaya rata-rata yang harus dikeluarkan untuk setiap peserta rapat, mulai dari uang saku, makan, alat tulis dan sebagainya.
Anggaran dibahas dengan seksama. Untuk membahas anggaran rapat dibutuhkan rapat tersendiri. Rapat untuk membahas anggaran rapat juga butuh anggaran. Begitulah cara bekerja yang baik.
Semuanya terstruktur, sistematis dan masif.
Nanti setelah semua rapat itu selesai baru dimulai pekerjaan membuat status selokan. Setelah itu, baru bisa selokan Jakarta dibersihkan.
Eh, sebelum dibersihkan, periode jabatan Gubernur sudah habis. Makanya butuh dua periode Gubernur untuk membersihkan selokan mampet.
Itu baru selokan Jakarta. Kamu mau selokan se Indonesia dibersihkan? Ngerti, kan, kenapa ada yang ingin Anies jadi Presiden?
Gunanya untuk membersihkan selokan.
"Kok, bengong Kum. Kamu lagi ngapain?"
"Aku lagi mikir keras, mas?," jawab Abu Kumkum.
"Mikir apaan?"
"Aku lagi mikir, apakah aku perlu berfikir hari ini? Kalaupun perlu, aku perlu memikirkan lagi, aku harus memikirkan apa."
Kayaknya Abu Kumkum sudah cocok jadi Gubernur DKI nih.

0 komentar

Tulisan Populer