Ada Anjing Masuk Surga, Ada Anjing Masuk Masjid

Anjing Masuk Masjid
Anjing Masuk Masjid
EkoKuntadhi.id - Alquran punya kisah tentang Alkahfi. Sebuah cerita tujuh pemuda yang tidur di gua selama 309 tahun, karena ingin menyelamatkan imannya. Mereka ditemani seekor anjing bernama Qithmir. Kata para ulama, Qithmir ini adalah salah satu anjing yang masuk surga.
Ada juga kisah klasik lain yang dikenal para pembelajar agama. Tentang seorang perempuan pendosa. Menjelang wafatnya ia menolong anjing yang kehausan. Lantas, kata kisah itu, kebaikan hati perempuan pendosa itu malah menyelamatkan dirinya dari api neraka.
Itu kisah dalam Alquran yang menempatkan seekor anjing begitu mulia. Atau cerita klasik kaum sufi bahwa menolong anjing yang kehausan adalah perbuatan mulia.
Tapi barangkali sebagian kita memandang berbeda. Para penganut Islam mazhab Syafii -kebanyakan dianut orang Indonesia- meyakini anjing adalah binatang yang liurnya membawa najis.
Nah, akibatnya dalam masyarakat muslim di Indonesia posisi anjing jadi begitu direndahkan dibanding hewan lainnya. Berbeda dengan mazhab Maliki. Pengikut aliran ini memandang anjing seperti hewan lainnya. Umat Islam di Sudan, misalnya bisa santai saja jika ada anjing masuk ke masjid. Mereka adalah penganut mazhab Maliki.
Mereka memandang anjing sama kayak ayam, kucing, bangau, beruang madu, kuda lumping, undur-undur, ikan Indosiar, gajah sirkus atau buaya buntung. Ya, biasa saja. Sama kayak hewan lainnya.
Jadi kita tahu bahwa posisi anjing sebagai najis tidak berlaku di seluruh dunia Islam. Hal itu hanya berlaku, khususnya pada penganut Islam bermadzhab Syafii seperti di Indonesia.
Makanya kita maklum jika kasus perempuan membawa anjing masuk masjid Sentul City, jadi mencengangkan. Sebab kebanyakan kita adalah penganut mazhab Syafii. Jika kejadian yang sama terjadi di Sudan, gak akan seheboh ini.
Lalu apakah saya membela perempuan yang membawa anjing ke masjid? Ya, gak. Tapi saya cuma ingin mendudukkan masalah secara proporsional. Artinya kehebohan kita gak perlu kayak orang disentil bijinya. Teriak sekeras-kerasnya sampai urat leher mencolot.
Kabarnya perempuan itu menderita Skizofrenia, semacam gangguan jiwa halusinasi. Ia sering paranoid. Bahkan sampai mengira suaminya sedang nikah di masjid tersebut.
Kalau benar begitu, ya gak pantaslah kita heboh. Menghebohkan perilaku orang skizofren sama saja kita juga ikut sakit. Cara menangani orang sakit ya, dengan pemakluman. Bukan dengan amarah.
Toh, hukum Islam maupun hukum nasional juga mengecualikan orang gila dari konsekuensi hukum. Jadi buat apa diributin.
Tapi polisi sudah menetapkannya sebagai tersangka.
Ya, gak apa-apa. Saya setuju dengan sikap polisi tersebut. Toh, jika nanti dibuktikan perempuan itu benar penderita skizofren dia juga akan terbebas dari hukum. Jika ternyata sia sehat-sehat saja, ya mestinya terkena konsekuensi. Tapi polisi gak perlulah memakai pasal penistaan agama. Wong, dia cuma marah-marah doang, di masjid. Gak ada yang dinista.
Kita berharap langkah polisi bisa meredam spekulasi ini-itu yang dihembuskan gerombolan menebar kebencian. Salah satunya Felix Siauw yang membahas kasus itu lewat videonya. Lebay.
Bagi Felix, apapun suasananya, solusinya adalah khilafah. Kalau Indonesia negara khilafah, mungkin baginya para anjing akan lebih tertib dan penderita skizofren jauh lebih santun.
Kalau mau ngamuk, mereka gak lupa baca doa menjelang tantrum.
Saya teringat Gusdur. Kasus seperti ini memang kasus gila. Tapi umat yang mengehobohkan juga gila kasus. Maunya nyolot melulu.
Walhasil, kita mendengar ada kisah anjing yang masuk surga. Ada juga kisah anjing yang masuk masjid. Kita bisa ambil hikmah dari keduanya.
"Kalau Felix Siauw tetap masuk HTI, mas," celoteh Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer