TENTANG MUALAF (II)

Mualaf
Deddy Corbuzier dan Gus Miftah
Kemarin saya menulis tentang mualaf. Lagi ramai soal Deddy Corbuzier. Intinya, saya ingin bilang, jarang ada orang pindah agama karena menemukan keyakinan yang lebih klop. Jarang ada orang pindah agama, karena proses pencarian yang intens sehingga dia menemukan jalannya yang baru. Kebanyakan karena ingin mengharmonikan kehidupan sosialnya.
Misalnya, karena pasangannya beragama lain, ia akhirnya ngalah. Lalu ikut agama pasangannya. Semata untuk mengharmonikan kehidupan sosialnya saja. Bukan karena lebih yakin dengan keyakinannya yang baru itu.
Seandainya setelah proses itu kemudian ia mendalami agama barunya, lalu merasa yang dianutnya sekarang lebih baik dari sebelumnya, karena lingkungan sosial yang barunya mengarahkan dia mengembangkan fikiran tersrbut. Keyakinan dari lingkungan sosialnya mengarahkan ia akhirnya cenderung berfikir sama.
Karena secara psikologis ia menemukan kenikmatan beragama yang baru, proses penghayatannya jadi agak intens. Makanya jangan kaget jika banyak mualaf, misalnya, merasa lebih muslim dari kebanyakan muslim. Begitupun banyak orang yang baru masuk kristen merasa lebih kristiani dibanding yang lain. Mungkin itulah manusia, suka melompat dari ekstrim satu ke ekstrim lainnya.
Makanya saya bilang perlu tingkat toleransi yang luar biasa yang membuat orang bisa hidup berpasangan dengan yang berbeda agama. Jika saya diperhadapkan pada persoalan itu, rasanya saya belum tentu bisa menanganinya dengan baik. Mungkin saya memilih menghindar dari kondisi seperti itu. Sebisanya.
Saya sendiri salut dengan pasangan yang berbeda agama. Tingkat toleransi mereka luar biasa. Sesuatu yang kayaknya belum tentu bisa saya lakukan.
Yang paling sulit dari orang yang pindah agama bukan cuma karena ia mengganti keyakinan. Yang paling gak enak, kata teman yang pernah mengalaminya, karena ia harus melepas segala kenangan manis dari tradisi beragama sebelumnya.
Seorang teman wanita yang tadinya muslim pindah menjadi kristen, saat Ramadhan tiba tidak bisa lagi menikmati kenangan ketika dulu ia tarawih bersama teman-temannya. Tidak bisa lagi menikmati suasana malam takbiran dengan perasaan yang sama seperti dulu.
Begitupun teman yang dulunya kristen berpindah menjadi muslim, akan kehilangan kenangan indahnya saat malam natal. Ketika saat kecil dulu, di malam natal, keluarganya bersama mengitari meja makan sambil memanjatkan doa. Ketika dia mengenangnya sekarang, ada perasan kosong.
Padahal setiap kita punya memori-memori indah saat kecil. Memori itulah yang gak bisa lagi dinikmati dengan suasana perasaan yang sama ketika orang berpindah agama saat dewasa.
Juga adanya alienasi sosial. Orang yang konvert agamanya cenderung mencari lingkungan sosial baru, sebab biasanya mereka mengalami suasana alieanasi dengan lingkungan lamanya. Ia cenderung menghindari lingkungannya yang lama, meskipun jika itu lingkungan keluarganya sendiri. Hal tersebut lumrah. Manusia memang selalu mencari tempat yang nyaman.
Artinya, berpindah agama sebagai usahanya untuk melakukan harmonisasi dengan lingkungan kecilnya (pasangan), pada akhirnya berpeluang melahirkan disharmoni dengan lingkungan yang lebih besar. (Keluarga, teman).
Oleh sebab itu, proses orang yang berniat mengkonvert agamanya bukan hal mudah. Dia harus melewati berbagai fase sulit. Melewati penentangan. Bukan dari tuhan. Tapi dari orang-orang yang merasa mewakili tuhan.
Agama sendiri tidak bertambah kebenarannya dengan bertambahnya pengikut. Juga tidak berkurang nilainya dengan berkurangnya jemaat. Agama bukan Pilpres yang kemenangannya diukur dari berapa banyak yang milih. Kebenaran sebuah ajaran tidak diukur dari seberapa banyak yang mengikuti.
Alquran, justru menilai sebaliknya. "Demi masa. Sesungguhnya seluruh manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang yang beriman dan beramal sholeh. Yang saling menasehati dalam kebaikan. Dan saling menasehati dalam kesabaran".
Lihatlah, kata Alquran, kebenaran hanya berada di sedikit orang (yang dikecualikan), bukan pada sebagian besar manusia.
Sementara penganut kristiani meyakini ungkapan Kristus. "Akulah jalan kebenaran"
Padahal sebagian besar warga di dunia bukan penganut kristen atau katolik. Secara statistik memang iya, kristen adalah agama dengan penganut terbesar di dunia. Tapi kan, justru orang yang non-kristen lebih banyak.
Jadi, mau ada orang yang keluar atau masuk ke dalam agama yang kamu yakini saat ini hal tersebut gak menambah nilai apa-apa untuk agamamu. Demikian juga kalau ada yang meninggalkan, gak akan mengurangi apa-apa. Bertambahnya supporter Persija, tidak akan membuat kualitas Persija otomatis jadi lebih hebat.
Dan orang yang konvert agama demi apapun alasannya, gak usah dipandang bahwa imannya lebih lemah. Atau menilai ia menukar jalan tuhan dengan perempuan atau lelaki pujaan. Jadi kita bisa menghakiminya.
Gak usah begitu. Apapun alasan orang berpindah agama. Keluar atau masuk ke dalam agamamu, gak usah bereaksi berlebihan. Deddy Corbuzier mengucapkan dua kalimat syahadat dengan siaran langsung di TV, anggap biasa saja. Jangan nyinyir dan jangan juga bersorak gembira.
Percayalah. Sesungguhnya agama-agama ini bukan sedang bersaing. Bukan sedang berebut menyatakan diri sebagai pemenang kebenaran. Agama hanya alternatif jalan menuju tuhan. Apapun definisimu tentang tuhan.
Apa dengan begitu semua agama sama?
Ya, gak. Bagi saya yang paling benar ya, agama saya. Mungkin karena saya gak pernah berada di lingkungan agama lain sejak kecil. Demikian, bagi kamu yang benar ya, agama kamu. Saya dan Anda bisa menyimpan keyakinan pada kebenarannya dalam hati. Menjalankan dengan sungguh-sungguh apa yang harus dijalankan. Tapi ketika dipaksakan pada orang lain, akan menjadi masalah. Sebab orang lain juga punya kebenaran yang diyakininya sendiri.
Begitupun jika ada orang yang harus mengkonvert agamanya, ya mestinya dimaklumi. Apalagi kalau bukan orang dekat, yang gak ngaruh apa-apa dalam hidupmu.
Artinya jika Deddy Corbuzier atau Lindswell Kwok pindah jadi muslim gak punya arti apa-apa bagi sebagian besar orang. Begitupun ketika Lukman Sardi dan Puput konvert jadi kristen. Nilainya biasa saja.
"Kalau Prabowo konvert dari ketua Gerindra jadi Presiden Indonesia, itu baru bermasalah, mas," celetuk Bambang Kusnadi.
"Setujuuuu...," sambut Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer