Menangis
Ketika Prabowo kalah banyak pendukunggnya yang menangis. Mereka seperti kecewa berat pada dunia yang tidak berpihak padanya. Padahal tuhan sudahdibawa-bawa. Agama sudah diasong-asong, pencaramah sudah menggelar bazar kitab suci, kok ya, masih kalah.
"Huhuhuhu," tangisan mereka seperti koor. "Huhubuhuhu... fotonya yang bagus dong... Huhuhuuhuhu," rintihnya sambil selfie.
Mungkin tidak ada tangisan yang lebih sia-sia dari tangisan itu. Prabowo sendiri biasa saja. Mungkin bukan karena jiwa sportifitasnya juga. Ia biasa saja, sebab memang terbiasa kalah dalam pertandingan. Bagi Prabowo yang namanya menang adalah sebuah kemewahan.
Jadi jerit tangis itu seperti orang isi bensin, tangki motornya digoyang-goyangkan. Sebuah perbuatan yang sia-sia. Kalau dia isi seliter, dengan menggoyangkan tangki, tetap saja masuknya seliter juga. Gak akan berubah jadi tiga liter.
Kekecewaan sebetulnya terjadi karena harapan tidak sesuai kenyataan. Ada gap kondisional disana. Kekecewaan yang paling berat melanda pada mereka yang hidup dalam alam halusinasi.
Pasca pengunuman MK, Jokowi menghadiri berbagai kegiatan internasional. Ada pertemuan Asean, ada pertemuan G20. Presiden Trump dan banyak pemimpin dunia memberi selamat. Dunia ikut tersenyum.
Tapi disini, ada pendukung Prabowo yang teriak-teriak mau membawa kasus Pilpres ke Mahkamah Internasional. Itulah yang dinamakan halusinasi level akut. Omongan itu sekadar memperpanjang suasana kecewa saja. Apalagi sasarannya adalah rakyat yang sama sekali gak ngerti fungsi MI itu.
Kenapa kita gak bisa mencontoh pemain sepak bola. Setelah pertandingan yang keras, kedua kesebelasan saling bertukar kaos. Mereka memberikan kaos yang basah kuyup pada lawannya. Menandakan pertandingan sudah selesai dan kembali pada kehidupan berbeda dengan lapangan sepak bola.
Setelah pertandingan itu, mereka kembali lagi normal. Sebagai manusia biasa. Makan. Jalan-jalan. Belanja ke mall atau bercinta. Sebab banyak hal dari kehidupan ini yang bukan pertandingan, mencari menang dan kalah. Hidup bukanlah pertandingan terus menerus.
Kita bisa menganggap Pilpres seperti pertandingan panjat pinang 17 Agustus. Ada rakyat yang menjadi pijakan di bagian bawah. Ada orang yang disokong mengambil hadiah di puncak tiang. Anggap saja yang dipanggul beramai-ramai itu Capres. Untuk untuk sampai ke puncak tiang.
Nah, logikanya orang yang disoronga mestinya berbody kurus. Biar rakyat di bawah yang memanggul beban tidak terlalu berat. Tidak termehek-mehek.
Bayangkan jika yang berdiri di pundak rakyat itu bodynya gempal. Agak tambun. Pasti pendukung di bawahnya tersiksa. Mereka seperti ditimpakan karung pasir. Nah, peluang orang ini bisa naik ke puncak batang pinang akan lebih kecil ketimbang apabila mereka menggendong Capres yang kurus.
Kita tidak sedang bicara soal timbangan badan. Kurus dan gempal yang saya maksud adalah, seberapa tambun orientasi pribadinya dan masalah yang melingkupinya.
Misal begini. Jokowi kita tahu tidak punya beban masa lalu. Keluarganya support dengan caranya. Track recordnya bersih. Artinya sebagai Capres ia kurus dari lemak masalah.
Sebaliknya. Prabowo itu punya banyak beban masa lalu. Didukung oleh keluarga Cendana yang dulu jadi biang masalah. Dia juga disokong para pengasong agama yang menjajakan ajaran tuhan seperti tahu goreng. Beban ini harus dipikul oleh pendukungnya.
Jadi kalau yang menang Pilpres adalah calon yang bebannya lebih sedikit, itu lumrah. Dalam sebuah pertandingan yang fair hukum alam memang begitu bekerjanya. Memenangkan kandidat yang gak punya beban. Sebab hukum alam bekerja sesuai dengan filosofi panjat pinang.
Dalam konteks ini, mari kita baca tangisan pensukung Prabowo itu seperti pemain panjat pinang. Mereka posisinya paling bawah. Terinjak tubuh gempal. Termehek-mehek. Eh, yang digendong bukan cepat-cepat memanjat untuk mengambil hadiah di puncak tiang, malah joget --eeaaaa.
Tapi sudahlah. Pilpres sudah selesai. Isilah bensinmu dengan santai. Gak perlu menggoyang-goyangkan tangki.
Setelah ini kita jalan-jalan naik motor. Cari lumpia lagi.
"Prabowo kalah. Tapi tadi jemaah subuh masih dua shaf, mas. Berarti masih banyak orang yang menyembah Tuhan. Neno bohong ya, mas," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer