INI SUASANA DUKA, MBLO!

Blunder Prabowo
Blunder Prabowo
Ekokuntadhi.id - Padahal beberapa hari ini suasana adem banget. Timeline isinya becanda. Tentu saja dengan suasana duka wafatnya Ibu Ani Yudhoyono.
Saking ademnya, gue bisa nulis yang santai-santai. Gak melulu soal politik. Medsos kembali lagi dengan suana keseharian.

Iya adem. Mungkin karena Prabowo lagi ke Austria. Sandiaga mau lebaran di AS. Rizieq mah, udah lama nyangkut di Saudi. Itu juga yang bikin suasana menjelang lebaran ini terasa syahdu.
Eh, sore tadi Prabowo balik ke Indonesia. Niatnya mau takziah. Mau melayat dan menyampaikan rasa duka. Tapi, tabiat emang gak bisa dibuang begitu saja. Kalau dasarnya egois, meskipun sedang melayat, yang dipikirin hanyalah dirinya sendiri.
Saya membayangkan betapa frustasinya tim kampanye Prabowo kemarin. Bagaimana mereka memoles Prabowo jadi terkesan lebih human. Kayak orang pada umumnya gitu. Bukan sejenis mahluk astral yang gak punya perasaan.
Bagaimana mereka kerja keras memoles Capresnya agar terkesan islami. Eh ketika menyebut nama Kanjeng Nabi, lidahnya keserimpet terus.
Bagaimana mereka menaikkan nenek-nenek ke panggung kampanye untuk dipeluk Capres. Agar terkesan manusiawi banget. Atau bagaimana seorang kecil disodorkan untuk digendong Prabowo.
Biar kesannya, gimana gitcu.
Tapi dasar bawaan orok yang gak terlatih berempati pada orang lain. Tetap saja tampilnya aneh. Nenek-enek emang dipeluk. Tapi coba lihat mimik muka Prabowo ketika memeluk. Kayak ada rasa ogah begitu.
Anak kecil emang digendong. Tapi malah jejeritan. Aura menakutkan ditangkap bocah polos itu.
Nah, kini, Prabowo pulang ke Indonesia untuk takziyah. Bagus. Memang sebagai manusia, harus mengekspresikan empatinya pada duka yang dialami orang lain. Apalagi yang wafat mantan ibu negara. Takziyah juga menandakan bahwa Prabowo masih layak bertindak sebagai manusia yang punya perasaan.
Tapi, apa mau dikata. Prabowo memang Prabowo. Ia bukan seperti orang pada umumnya. Orang lain bertakziyah biasanya menyampaikan rasa simpati. Turut berduka. Mendoakan almarhumah. Memberi support kepada keluarga yang ditinggalkan.
Tapi apa yang disampaikan Prabowo ke publik? "Saya diberitahu, pada Pemilu kemarin Bu Ani memilih saya..."
Jrenggg!
Orang lagi berduka. Dia masih berkutat dengan narasi politik. Bicara soal Pilpres. Soal kekuasaan. Soal dukung mendukung.
Apa di kepalanya gak ada isi yang lain selain politik dan kekuasaan? Apa gak bisa sedikit saja berpura-pura punya empati agar tampil seperti manusia normal lainnya?
Itulah, kenapa setelah stament Prabowo yang nyelonong itu, SBY merasa penting untuk memberikan klarifikasi?
Wafatnya Bu Ani, setidaknya membawa suasana tersendiri. Kemanusiaan relah berhasil menyatukan semua perbedaan politik. Kita lihat Bu Mega dan Mbak Puan mengucapkan turut berduka dengan tulus. Kita lihat Presiden Jokowi menjadi pemimpin upacara pemakaman. Kita tahu Kyai Maruf Amin menjadi imam sholat jenazah.
Saat itu, gak ada politik. Gak ada soal Pilpres. Gak ada soal dukung mendukung. Yang ada hanya rasa empati kepada keluarga almarhumah.
Sebagai suami dan lelaki yang baru saja kehilangan pasangan hidupnya, SBY ingin suasana duka itu tetap syahdu. Semua orang ingin menunjukan bahwa kemanusiaan derajatnya jauh di atas kepentingan politik.
Dan tampaknya itu yang selalu gagal dipahami Prabowo.
"Meskipun masih lumayan juga ya, mas. Prabowo melayat gak pakai celana leging," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer