Ziarah
Makam di depanku, gumdukan tanah yang dipugari granit. Aku hanya terdiam. Mengeja nama yang tertulis di nisan. Nama yang begitu akrab. Setelah mengucapkan salam aku duduk. Tersimpuh. Seperti dulu ketika penghuni makam masih bugar. Aku mencium tangannya yang kasar. Punggung telapaknya dengan urat yang menonjol itu.
Menjelang puasa ini, aku datang lagi ke hadapannya. Di tempat yang sama ketika dulu ia dikuburkan. Jasadnya mungkin sudah lebur. Menyatu dengan tanah. Sebab dia yang tercipta dari debu, kembali menjadi debu.
Tapi jasad bisa punah. Raga bisa hancur. Lantas siapa yang bisa menghapus kenangan itu? Siapa yang bisa menghapus sebuah sekuel kehidupan tentang seseorang yang pernah begitu berpengaruh pada hidup kecil kita? Di kepalaku masih terus segar kenangan tentang lelaki dan segaris kehidupan yang mengisi masa kecilku.
Di ujung Ramadhan, biasanya ia memberiku sedikit uang. "Beli petasan sana. Main sama teman-teman," katanya. Aku yang biasanya lebih asyik berkutat dengan buku, ikut senang juga. Menikmati ledakan kecil. Atau pijar kembang api. Tertawa.
Aku juga ingat, dialah yang memangku tubuhku, ketika pisau khitan memotong kelelakianku. Ia yang memintaku mengigit uang logam agar aku gak menangis. "Kalau uangnya gak jatuh, nanti buat kamu..."
Di makam ini. Makam kakekku. Aku memanggilnya Babeh, seperti sebagian nesar orang menyapanya. Panggilan khas betawi. Sore itu aku kembali membelai nisan seperti membelai lagi kepalanya yang dulu terkulai lemah karena sakit.
Masih terbayang wajahnya. Masih terbayang keriput dan kearifannya. Masih terasa suasana minggu pagi ketika ia memboncengiku dengan sepeda tuanya. Sehabis subuh. Mencari tukang Sotomie kesukaanya.
Dimananah Babeh sekarang? Apa dia masih suka menonton tinju? Apakah di akhirat ada televisi yang menemaninya mencari informasi tentang perkembangan dunia? Seperti dulu, setiap jam 9 malam, ia menemaniku nonton Dunia dalam Berita.
Aku tidak tahu soal seberapa besar amal ibadahnya. Ia sholat seperti biasa. Tidak berlebihan. Ia puasa seperti biasa juga. Hidupnya seperti biasa. Bukan tokoh agama. Tapi yang aku tahu, dirinya penuh kebaikan.
Babeh gak pernah makan sendiri. Setiap kali makanan sudah siap di meja, ia selalu keluar rumah. Duduk di teras. Memanggil siapa saja yang lewat. Untuk diajak makan.
Aku sering lihat tukang sol sepatu, tukang kredit, atau entah pemulung dari mana yang nangkring di meja makan bersama Babeh. Baik sarapan maupun makan siang. Meja makan itu selalu diisi orang yang berganti setiap hari. Babeh memanggilnya begitu saja. Diajak makan. Lalu sudah.
Bukan karena hidupnya berlebihan. Bukan. Tapi karena aku tahu, Babeh tidak bisa menelan apa-apa kalau masih mendengar ada orang yang kelaparan. Jadi untuk mengusir rasa bersalahnya karena hari ini ia bisa makan enak, ia akan mengajak siapapun makan bersamanya.
Karena itu nenekku gak pernah masak sedikit. Ia tahu kebiasaan suaminya. Sejak muda. Gak pernah bisa makan sendiri. Meskipun lauknya cuma tempe goreng dan sambel kecap. Atau ikan asin
Setiap kita pernah punya kenangan tentang orang yang dulu ada dalam hidup kita, lalu Tuhan memanggilnya dengan lembut. Setiap kita pasti mengingat kehidupan seperti apa yang ditorehkannya?
Manusia punya batas usia. Tapi manusia tidak pernah bisa membatasi memori orang lain terhadapnya. Karena itulah setiap tahun aku kembali lagi. Kembali menemui Babeh. Sebab kenangan itu masih terasa segar setiap harinya.
Pernahkah terlintas dalam benak kita, memori seperti apa yang sudah pernah kita torehkan kepada orang di sekeliling kita. Adakah orang yang akan menangisi kepergian kita? Adakah dunia yang tertunduk saat itu. Atau saat kita pergi dipanggil Tuhan, semuanya berlalu seperti biasa saja. Seperti angin. Gak ada yang berubah.
Aku gak tahu. Apakah nanti ketika usiaku tuntas ada orang yang setiap tahun datang menemuiku menjelang Ramadhan, merapal doa. Lalu mengingat-ingat kembali kenangan manis. Dengan sudut mata yang hangat.
"Kenapa kita harus berziarah, ayah?," tanya anakku.
"Sebab kita harus menghormati semua orang yang lelahnya ikut mengalir dalam nadi kita. Jika kita terbiasa menghargai mereka yang sudah wafat. Kita juga akan terbiasa menghargai mereka yang masih hidup," nasihatku.
Lalu angin berhembus lirih. Terbang bersama Alfatehahku untuk semua penghuni taman makam ini.

0 komentar

Tulisan Populer