SKENARIO MENSURIAHKAN INDONESIA MULAI DIJALANKAN

Khilafah
Bendera Khilafah
Bukan. Ini bukan demo memprotes pelaksanaan Pemilu. Ini adalah demo karena Prabowo kalah. Jadi jangan bicara mereka memprotes ada kecurangan. Mereka marah karena kalah Pemilu. Mereka demo karena jadi pecundang.
Apa tujuan demo ini?
Semua orang tahu keputusan KPU gak akan berubah. Proses demokrasi sudah memenangkan Jokowi-Amin. Suara rakyat sudah memilih Presiden periode berikutnya. Mau demo sampai bonyok juga gak akan berpengaruh apa-apa. Jadi tujuan demo ini memang bukan menyalurkan atau menyuarakan aspirasi. Apa yang mereka inginkan saja gak jelas.
Jadi jika berkenaan dengan Pemilu, demo ini gak ada gunanya. Perubahan penghitungan hanya mungkin bila menggugat via MK. Bukan dengan tekanan massa.
Lalu kenapa demo terus digelar?
Begini. Prabowo gak mungkin menang kalau suasana damai. Kalau Pemilu terakhir adem ayem, Prabowo akan berakhir jadi pecundang lagi. Rakyat yang sadar gak mungkin menginginkan Presiden model begini. Satu-satunya Prabowo berkesempatan jadi Presiden jika terjadi kerusuhan. Entah bagaimana jalurnya. Tapi itulah kesempatan dia satu-satunya.
Sama kayak HTI. Satu-satunya jalan menghancurkan Pancasila lalu menggantinya dengan khilafah juga dengan menciptakan kerusuhan. Gerombolan jihadis juga sama. Mereka akan eksis jika medan perang terbuka. Mereka akan senang jika konflik tercetus.
Jadi ada banyak pihak yang berharap terciptanya kerusuhan. Polanya pun makin terlihat jelas.
Siang hari mereka demo di kantor Bawaslu. Terus bertahan sampai sore. Sore mereka negoisasi dengan polisi untuk berbuka di jalan. Diijinkan. Setelah itu mereka juga meminta intil tarawih di jalan. Diijinkan.
Kenapa mereka minta berbuka dam tarawih di jalan? Kalau ditolak polisi mereka akan memainkan polisi melarang orang berbuka dan sholat tarawih. Akam dihembuskan isu polisi mempersekusi umat Islam di bulan Ramadhan. Tapi permintaan itu diluluskan. Mereka gak bisa melempar opini yang sudah direncanakan.
Selesai tarawih mereka tetap bertahan. Hari makin malam. Aspirasi apa yang mereka mau sampaikan di tengah malam buta?
Berkumpulnya orang di tengah malam buta dengan tujuan gak jelas, itu sangat berbahaya. Maka pada pukul 22.00 polisi mengambil inisiatif untuk meminta massa bubar. Sudah terlalu larut.
Apa yang dibalas? Massa melempari polisi dengan batu. Entah dari mana batunya. Aneh juga jika melihat batu-batu ini ada di jalan utama. Bukan hanya batu, tapi juga bom molotov. Juga petasan ukuran besar.
Batu, molotov dan petasan ini pasti bukan benda-benda yang ditemukan begitu saja. Benda-benda itu sudah disiapkan sebelumnya. Artinya mereka memang bukan bertujuan untuk berdemonstrasi menggugat hasil Pemilu. Tujuannya kali ini memang mau membuat kerusuhan.
Polisi dipancing terus. Massa menyerang polisi dari masjid. Mereka menggunakan masjid sebagai basis penyerangan. Video massa yang sedang melempari polisi dari halaman masjid itu diviralkan. Lalu disebar isu polisi menyerang masjid.
Inilah kebiadaban mereka. Sengaja memprovokasi polisi dari dalam masjid tujuannya untuk memfitnah dengan menghembuskan isu agama. Tujuan besarnya adalah memancing konflik horisontal berbasis agama.
Tujuan besarnya mereka sedang menyeret Indonesia seperti suriah.
Apalagi buktinya? Di depan kompleks Brimob, Jl. KS Tubun, Petamburan, Jakarta Barat. Massa melakukan pembakaran mobil. Mereka menyerang asrama dengan nom molotov, batu, petasan, dan botol. Seperti penyerangan brutal. Mereka menghancurkan semua yang ada.
Polisi juga menangkap ambulamce dengan logo partai. Di dalamnya penuh batu dan motolov.
Jelas sudah siapa mereka. Apa tujuan mereka. Masa bayaran ini memang dirancang untuk melakukan kerusuhan. Bukan demonstrasi. Targetnya untuk membakar Jakarta. Target yang lebih besar adalah memuncratkan darah di Indonesia.
Polisi menangkap kebanyakan orang ini dari luar Jakarta. Sengaja dikerahkan untuk membuat onar. Ada yang membiayai. Ada otak rusuhnya.
Kita bersyukur Polisi dan TNI gak mudah diprovokasi. Meski asramanya diserang. Meski mobil-mobil dibakar. Mereka sanggup menahan diri. Mereka sanggup menjaga kondisi agar tidak berkembang lebih brutal. Padahal mereka dipancing untuk bertindak lebih keras.
Ini adalah kali kedua Prabowo bersikap memuakkan setelah KPU mengumumkan kalah suara di Pilpres. Tahun 2014, ketika kalah, Prabowo juga bersikap serupa. Menolak hasil hitungan KPU. Bahkan dia sempat menyatakan mundur dari proses Pemilu.
Tapi sistem kita memang gak memberi celah pada orang baperan seperti itu. Prabowo mau mundur, maju, mundur, maju, syanntikk, proses Pemilu tetap gak terganggu.
Indonesia sedang menghadapi orang baper bermental pecundang. Orang dengan karakter mengerikan ini tetap ngotot jadi Presiden, meski sudah kalah Pemilu.
Di sisi lain ada gerombolan srigala ikut menungganginya. Paduan keduanya, membawa Indonesia menjadi Suriah.
"Mas, Pak Jokowi ingin membawa Indonesia seperti Swiss. Beradab dan maju. Tapi ada Capres lain mendorong Indonesia jadi Suriah. Berdarah dan perang saudara. Ngerih," ujar Abu Kumkum.

0 komentar

Tulisan Populer