SAUDI MEMULAI PEMBERSIHAN, INDONESIA KAPAN?

Yusuf Martak
Yusuf Martak
Di Mesir, Ikhwanul Muslimin sudah dicap sebagai organisasi teroris. Setelah kejatuhan Presiden Mursi, orang-orang IM ngamuk. Meledakkan bom. Bikin kerusuhan dimana-mana. Militer yang berkuasa memburu mereka.
Sejak dulu IM memang selalu berulah di sana. Dulu Presiden Anwar Sadat ditembak mati pada sebuah momen upacara negara. Dia diberondong oleh sepasukan devile tentara. Pelakunya ditenggarai kerasukan doktrin IM.
Sekarang, di bawah Jenderal Asisi, Mesir menyatakan IM sebagai organisasi teroris. Karena sering membuat kekacauan di negara itu.
Saudi juga menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris. Aktifitas mereka terlarang di sana. Sadar akan pengaruh buruk IM, Saudi kini hendak menelusuri kurikulum di sekolah-sekolah mereka yang ditenggarai banyak dipengaruhi cara berfikir IM. Kerajaan menganggap IM telah menggerogoti ideologi negaranya melalui jalur pendidikan.
Meskipun, munafiqnya, pemerintahan Saudi juga pendukung berkembangnya terorisme di dunia. Tapi mereka gak mau kalau perilaku itu muncul di negaranya.
Senada dengan Saudi, Presiden Trump juga sedang mempertimbangkan untuk memasukkan IM sebagai organisasi teroris. Negara pendukung terorisme nomor satu dunia itu juga gak mau dirinya dirusak oleh ideologi yang mereka anggap berbahaya ini.
Di Indonesia, pembawa pikiran Ikhwanul Muslimin bebas berkeliaran. Mereka menjelma menjadi PKS. Herannya kebanyakan simpatisannya justru mengagung-agungkan Saudi Arabia sebagai negara Islam.
PKS melalui jejaringnya juga mendirikan sekolah-sekolah di Indonesia. Menularkan ideologi mereka kemana-mana. Mereka eksis. Mereka mendapat tempat karena keberadaanya justru diakui formal negara.
Dunia juga punya cerita lain. Ada Hizbut Tahrir. Organisasi pecahan IM ini juga dinyatakan sebagai gerombolan terlarang di banyak negara. Sudah banyak negara yang mencap mereka sebagai biang teror.
Turki melarang Hizbut Tahrir. Dimasukkan dalam keranjang teroris. Saudi Arabia juga memasukkan HT sebagai teroris. Banyak negara berpenduduk muslim menarik garis keras pada gerombolan yang kerjanya mengadu domba publik dengan isu-isu agama ini.
Di Indonesia, HTI sekian lama bercokol. Melebarkan sayapnya. Tokoh-tokohnya diberi panggung. Mereka mengghiasi ruang publik. Narasi mereka untuk mengubah ideologi negara menjadi khilafah dibiarkan berkembang.
Jokowi sadar akibat kerusakan yang disebabkan HTI. Ia merancang dasar hukum untuk membubarkan organisasi berbahaya ini. Sebab masa depan bangsa menjadi taruhannya. Sayangnya yang disasar baru sebatas organisasinya saja. Sementara ideologinya belum ada penanganan serius.
Perlawanan dilakukan. Gampang saja. Mereka tinggal mengubah-ubah nama organisasinya, sementara tujuan dan cara mikirnya sama. Di kampus-kampus misalnya, Gema Pembebasan yang berafiliasi pada HTI masih eksis. Mahasiswanya juga masih petantang petenteng teriak khilafah.
Ketika Pilpres, PKS yang berada di jalur formal dan HTI yang hidup di gorong-goring bersatu. Mereka mendukung Prabowo. Belum lagi ditambah organisasi lain seperti FUI, FPI afau GNPF.
Gerombolan gorong-goring didorong untuk memanfaatkan momentum. Kekalahan Prabowo menurut mereka bisa jadi momentum untuk melancarkan tujuannya. Islam digunakan untuk memercikkan kekacauan. Ijtima Ulama adalah salah satu caranya.
Bagaimana mungkin Ijtima Ulama merekomendasikan diskualifikasi hasil Pilpres. Apa urusannya. Bagaimanamungkin mereka teriak curang, padahal buktinya gak pernah diuji. Bagaimanamungkin mereka ngomporin umat bergerak, padahal hasil Pemilu saja belum diumumkan.
Wajar jika banyak negara melarang gerombolan model begini eksis di negaranya. Lihat cara berfikirnya. Lihat kelakuan mereka. Selalu menggunakan agama untuk membuat kekacauan. Agama dijadikan pijakan untuk membenturkan massa.
Mereka memang hanya bisa berkuasa kalau terjadi kekacauan. Makanya dimana-mana target mereka ya begitu. Bikin kacau. Hoax, kebobongan, informasi palsu, provokasi atas nama agama sudah makanannya sehari-hari.
Ijtima Ulama hanya dihadiri 500 orang. Latar belakangnya gak jelas. Yusuf Martak, dulu direktur Lapindo bisa ganti baju koko lalu menyebut dirinya ulama. Kabarnya juga hadir tokoh Buddhis, Lieus Sungkarisma berbaju putih. Mirip ulama.
Yang hadir adalah pentolan BPN Prabowo-Sandi. Ngakunya Ijtima Ulama tapi lebih mirip Ijtima BPN.
Kayaknya Indonesia ke depan harus mulai bersih-bersih dari kelompok kayak gini. Saudi sudah sadar. Bagaimana bahayanya mereka.

0 komentar

Tulisan Populer