MAYORITAS ORANG INDONESIA GAK PUASA. HORMATILAH!

Ramadhan
Ramadhan
Ada yang bilang, karena umat yang puasa adalah mayoritas maka mereka harus dihormati oleh yang tidak puasa.
Warung-warung makan harus ditutup siang hari. Jika nekad buka, ada yang mau mensweeping. Ngaconya ada Pemda yang melarang orang dagang makanan saat Ramadhan.
Yuk kita hitung. Biar gak memanipulasi istilah mayoritas dan minoritas untuk melegalkan penindasan.
Jumlah penduduk Indonesia 260 juta jiwa. 85% beragama Islam atau 221 juta orang. Dari jumlah itu, sekitar 70% adalah mereka yang berusia 12 sampai 65 tahun. Angka 12-65 itu saya hitung sebagai batasan orang yang terkena kewajiban menjalankan ibadah dalam islam termasuk puasa.
Artinya dari 221 jiwa muslim yang terkena kewajiban puasa karena usianya hanya 154 juta jiwa saja.
Tapi dari 154 juta orang itu gak semuanya puasa. Hukum melarang perempuan datang bulan berpuasa. Katakan populasi perempuan setengah dari lekaki, atau 77 juta orang.
Jika rata-rata masa haid adalah 6 hari, maka seperlima dari 77 juta orang gak puasa dalam satu waktu. Maksudnya ada 15 juta perempuan muslim yang mendapat halangan puasa setiap harinya.
Nah, jumlah orang puasa berkurang lagi, jadi tinggal 139 juta orang. Tapi bukan hanya perempuan haid yang gak puasa. Perempuan hamil dan menyusui juga dibolehkan gak puasa. Misalkan ada 2 juta perempuan yang hamil dan menyusui dalam satu waktu, maka jumlah yang puasa tinggal 137 juta.
Apakah jumlah itu terkena kewajiban puasa semua? Ya gak dong. Gak semuanya dalam kondisi sehat.
Katakanlah ada 2% rata-rata penduduk yang sakit pada saat bersamaan atau 3 juta orang. Artinya yang terkena kewajiban puasa tinggal 134 juta.
Untuk adilnya kita harus kurangi lagi dengan orang yang bekerja dengan mengeluarkan tenaga. Buruh-buruh kasar, para pekerja bangunan, atau semua aktifitas yang sangat membutuhkan asupan makanan. Katakanlah di seluruh Indonesia jumlahnya 3 juta orang. Artinya orang yang puasa tinggal 131 juta.
Apakah jumlah itu seluruhnya puasa? Ya, gak dong. Mereka yang dalam perjalanan jauh atau musafir terbebas dari kewajiban puasa. Jika jumlahnya setiap hari di seluruh Indonesia 1% dari total populasi atau ada 2,6 juta orang yang dipersilakan tidak berpuasa. Angka 131 juta dikurangi 2,6 juta tinggal 128,4 juta orang saja yang puasa.
Angka 128,4 juta itu asumsinya jika semua muslim yang memenuhi syarat menjalankan ibadah puasa dengan serius. Tapi, okelah anggap kita negara yang penduduknya taat beragama. Semua muslim dewasa dan syah, melakukan puasa. Ternyata jumlahnya hanya 128,4 juta orang. Gak sampai 50% dari total penduduk Indonesia.
Dengan kata lain, sebetulnya mayoritas di Indonesia itu adalah orang yang gak puasa. Jadi gak usahlah menggunakan kata mayoritas untuk memaksa orang menutup warung makannya dengan alasan menghormati orang puasa.
Padahal kenyataanya gak begitu. Boleh saja mengatakan 85% penduduk Indonesia adalah muslim. Tapi pada kenyataanya gak sampai separuh yang menjalankan puasa dalam satu hari. Dengan kata lain mereja yang puasa bukan mayoritas.
Jikapun beberapa asumsi soal angka bisa diperdebatkan, yang ingin saya sampaikan bahwa dalam satu waktu mereka yang terkena kewajiban puasa dengan yang tidak bedanya tipis-tipis saja. Jadi melarang ini-itu dengan alasan menghormati mayoritas yang sedang menjalankan ibadahnya itu alasan gak bener.
Harusnya yang puasalah --karena mereka minoritas-- yang menghormati mayoritas yang gak puasa. Menghormati mereka tidak terkena kewajiban puasa.
"Puasa, presiden!".

0 komentar

Tulisan Populer