KEBINET BARU HABIS LEBARAN

Jokowi
Presiden Jokowi
Cara berpolitik Jokowi memang asyik. Bikin lawannya sering cegukan. Ketika Prabowo nyusruk sujud syukur, dia santai saja. Silakan sujud syukur sampai item jidatnya, malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya.
Nah, cara Jokowi menyatakan bahwa hasil Quick Count berpihak padanya keren banget. Gak perlu sujud dipotret dan direkam. Orang justru menyangka Prabowo sedang ngobrol sama semut.
Langkah Jokowi lain. Pertama dilempar wacana pemindahan ibukota. Apa yang ada dipikiran kita ketika mendengar rencana itu? Wah, itu pasti pekerjaan besar. Butuh manajemen yang solid. Butuh waktu lama. Setidaknya lima tahun.
Nah, kalau butuh lama apa artinya? Artinya periode ke depan Jokowi memastikan diri memimpin negeri ini lagi. Ia yang akan memimpin proses awal pemindahan ibukota itu. Bukan mendahului keputusan KPU, tapi hasil real count yang sudah 60% cukuplah dijadikan pegangan.
Kedua, Jokowi mulai bicara soal anak-anak muda yang bakalan mengisi kursi kabinet. Kalau gak yakin menang, masa ngomong komposisi kabinet? Artinya ia meyakini sebagai orang yang akan mengatur komposisi kabinet berikutnya. Sebagai apa? Sebagai Presiden dong.
Ketiga, dan ini yang paling menarik. Ada rencana pergantian menteri dalam waktu dekat ini. Mungkin setelah lebaran.
Kenapa diganti, kan kabinet sebentar lagi demisioner?
Inilah pemimpin visioner. Justru karena kebinet sebentar lagi demisioner ia menyiapkan pergantian dari sekarang. Setidaknya dari dilantik sampai Oktober nanti, para menteri yang baru bisa langsung beradaptasi dengan lingkungannya. Mereka bisa merangkai kerja dan rencana sejak dini.
Pembahasan anggaran bisa dilakukan oleh menteri yang baru, sehingga nyambung.
Artinya kabinet hasil pergantian saat ini kemungkinan besar adalah orang yang akan menduduki kursi menteri periode yang akan datang.
Targetnya waktu adaptasi lebih cepat. Dan ketika nanti mereka masuk sebagai kabinet periode berikutnya sudah bisa langsung tancap gas dari hari pertama. Keren kan?
Jokowi tahu, biasanya setelah pengumuman hasil Pilpres, yang sering terjadi adalah ketidaknyamanan. Khususnya para menteri. Kinerja mereka menurun. Sebab mereka gak tahu apakah akan dipakai lagi di periode mendatang.
Demikian juga lobi-lobi politik dan tekanan parpol untuk menetapkan orangnya di departemen. Akan makin terasa kuat pas menempatan posisi memteri. Jika dilakukan sekarang, ketika Jokowi masih syah sebagai Presiden periode pertama rasanya lobi-lobi seperti itu bisa diantisipasi sejak awal. Tekanan politiknya gak terlalu berat.
Di tengah Rizieq masih teriak-teriak dari Saudi. Di tengah Prabowo yang belum siuman dari sujud syukurnya, Jokowi sudah melamgkah jauh. Langkah inilah yang membuat PAN dan Partai Demokrat goyang. Apakah mereka mau mengikuti jalan para pecundang. Atau berniat masuk gerbong pemenang.
Zulkifli Hasan pagi-pagi sudah kucluk-kucluk bertemu Jokowi. Kemarin AHY juga mengambil langkah yang sama. Memang sih, masih malu-malu. Tapi lumayan efektif menggerogoti tiang penyanggah kubu Prabowo. Berhasil membuat galau BPN.
Kalau soal baliho Prabowo Presiden di Cileungsih yang dijaga sama Fadli Zon, biarkan saja begitu. Salah satu tugas Fadli memang menjaga baliho.
Bagaimana dengan people power yang diteriakkan Amin Rais? Kayaknya Amin sudah cukup senang beberapa anaknya masuk ke legislatif. Targetnya sudah tercapai. Cukuplah ia merasa jadi bapak yang sukses.
Lantas bagaimana mengantisipasi Rizieq yang masih pecicilan di Saudi?
"Gampang, mas. Keluarkan saja Firza dari persembunyiannya. Dia akan langsung mingkem," usul Abu Kumkum.
Pilpres sudah hampir rampung. Waktunya kita makan donat bersama Jan Ethes.

0 komentar

Tulisan Populer